Diduga Faktor Debu, Petani Tembakau Sekitar Proyek Gas JTB Beralih Tanam Palawija

22874

SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko

Bojonegoro – Sebagian petani tembakau desa sekitar proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) tahun ini tak semua menanam tembakau dibandingkan beberapa tahun silam. Kini mereka pada beralih menanam jagung, lombok, dan tanaman palawija lainnya.

Petani tembakau Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, misalnya. Khususnya petani dekat jalan proyek pemasangan pipa Gas JTB dari Jambaran East (JE) ke Jambaran Central (JC). Dimana proyek pemasangan pipa gas JTB tersebut dikerjakan oleh PT Bojonegoro Bangun Sarana (BBS).

Beralihnya mereka menanam palawija, selain faktor alam kurang bersahabat karena masih sering turun hujan, juga ditengarai karena faktor debu yang acap kali bertebaran terhempas ban kendaraan proyek saat melintas dan menempel di daun tembakau. Sehingga membuat pertumbuhan tidak maksimal, dan saat musim panen tidak laku dijual. Karena daun tembakau menjadi jelek.

“Jangankan mau beli, andaikan daun tembakau itu dikasikan saja tidak bakalan mau, karena kondisinya jelek banyak debunya. Jadi tahun ini saya milih tanam jagung saja. Tanam tembakau cuman sedikit buat tombo pingin,” ujar Tarmuji, petani Desa Pelem, kepada Suarabanyuurip.com, Jumat (02/07/2021).

Baca Juga :   Harga Pertamax Bisa Tembus Rp16.000 perliter pada April 2022

Warga desa ring 1 JTB ini menduga, polusi debu itu berasal dari jalan proyek yang masuk wilayah Desa Pelem tersebut. Apalagi saat musim kemarau dan banyak mobil proyek lewat debu bertebaran kemana-mana terhempas ban kendaraan pun tak dapat terhindarkan.

“Selain menempel ditanaman pertanian, bisa juga mengganggu kesehatan jika terhirup warga sekitar,” katanya.

Ketika disinggung apakah sudah ada penyiraman, pria bertubuh jangkung ini mengaku, penyiraman sudah dilakukan, tapi kurang maksimal, dan tidak secara total sepanjang jalan hanya pada titik-titik tertentu saja. Padahal di kanan kiri jalan proyek tersebut lahan pertanian warga.

“Penyiraman sudah. Hanya saja kurang maksimal, Pak. Jadi kalau tidak hujan, dan kondisi cuaca panas debunya luar biasa saat kendaraan proyek lewat. Tapi kami sebagai rakyat kecil tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah adanya kondisi ini,” imbuhnya.

Tarmuji berharap, agar pihak-pihak terkait tersentuh hatinya untuk bisa merasakan betapa beratnya kehidupan petani. Sehingga bisa melakukan peningkatan penyiraman sepanjang jalan proyek secara keseluruhan.

“Semoga saja penyiramannya ditingkatkan atau dimaksimalkan. Tidak hanya pada titik-titik tertentu saja, tapi juga sepanjang jalan proyek keseluruhan,” harapnya.

Baca Juga :   SKK Migas : Pengeboran Sumur Baru Blok Cepu Tak Masuk WP&B 2023

Terpisah Humas PT BBS, Budi mengaku, terkait dengan penyiraman jalan proyek menuju JC ranahnya Konsorsium PT. Rekayasa Industri – PT. Japan Gas Corporation – PT. Japan Gas Corporation Indonesia (RJJ).

“Untuk penyiraman RJJ, Mas,” kata Budi singkat saat dikonfirmasi terkait polusi debu tersebut.

Diberitakan sebelumnya, salah satu Kontraktor PT Pertamina EP Cepu (PEPC), PT Rekayasa Industri (Rekind) menegaskan, bahwa sudah menyiapkan armada water truck, dan melakukan penyiraman di area jalan proyek Gas JTB menuju Jambaran Central.

“Namun kalau diminta harus basah terus, ya tidak mungkin, karena jalan lapisan base course tersebut menyerap air banyak dan akan berdebu terus meskipun sudah disiram,” kata Site Manager PT Rekind, Zainal Arifin.

Zainal menjelaskan, bahwa penyiraman yang dilakukan hanya untuk mengurangi debu, dan tidak menghilangkan secara total.

“Penyiraman hanya mengurangi debu, namun tidak bisa menghilangkan sama sekali, karena musim kemarau seperti ini,” pungkasnya.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *