SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Harga gabah kembali anjlok di bawah Harga Pokok Pembelian (HPP) pada musim tanam ke dua tahun 2021. Sebagai upaya memecahkan persoalan itu, Dinas Ketanahan Pangan dan Pertanian (Disperta) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, melakukan berbagai langkah, salah satunya mengadakan penjajakan kerja sama dengan PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) untuk menyerap gabah langsung dari petani.
Hal tersebut terungkap dalam hearing atau dengar pendapat antara Komisi B Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bojonegoro secara daring dengan Kadisperta Bojonegoro, Helmy Elisabeth, dan secara luring dengan Bulog Wapimca Bojonegoro, Hendra Kurniawan, serta Kepala Dinas Perdagangan, Pasar, Koperasi dan UMKM Bojonegoro, Sukemi, Selasa (06/07/2021).
Kepala Disperta Bojonegoro, Helmy Elisabeth, mengungkapkan, bahwa Disperta telah melakukan langkah-langkah dalam upaya membantu petani mendapatkan harga yang baik, serta meningkatkan serapan beras di Bojonegoro. Mulai dari koordinasi dengan Bulog Bojonegoro, sampai pada penjajakan kerja sama dengan PT WPI di Kabupaten Ngawi.
“Dari koordinasi kami dengan Bulog, diketahui bahwa Bulog tidak bisa menyerap atau membeli gabah kering sawah. Kemudian pada akhir Mei, kami melakukan penjajakan kerja sama dengan PT Wilmar Padi Indonesia yang difasilitasi oleh Dinas Pertanian Pemerintah Kabupaten Ngawi,” terang Helmy.
PT WPI, kata Helmy, sepakat untuk melakukan kerja sama awal dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro. Setidaknya pada musim tanam ke tiga atau pada bulan Oktober mendatang, Pemkab mendapat alokasi sekira 200 Hektar (Ha). Perusahaan tersebut memang bergerak secara langsung menyerap gabah dari petani. Bertujuan memutus mata rantai distribusi gabah dari petani tidak melalui tengkulak.
“Dengan begitu, petani bisa langsung setor dalam bentuk gabah ke PT Wilmar. Namun ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam kemitraan tersebut. Misalnya pendampingan dari perusahaan. Harga pun tidak ditentukan di depan. Tetapi yang berlaku pada saat panen. Jadi tidak merugikan petani,” jelasnya.
Dengan kemampuan PT Wilmar yang mampu melakukan serapan gabah sebesar kurang lebih 1.400 ton per hari, diharapkan bisa menyerap gabah dari petani di Bojonegoro. Dimana Bojonegoro memiliki surplus beras karena produksi beras di Bojonegoro jauh lebih besar dibanding kebutuhan untuk konsumsi.
Dari data yang dihimpun Disperta, surplus produksi beras telah dapat diprediksi untuk bulan Juni dan Juli. Perhitungannya yaitu, pada bulan Juni luasan lahan tanaman padi 24.262 Ha mampu menghasilkan beras sekira 65.446 ton. Setelah dikurangi kebutuhan konsumsi beras yang hanya sebesar 9.157 ton, maka terjadi surplus 56.289 ton.
Pada bulan Juli diperkirakan ada seluas 25.620 Ha lahan tanaman padi yang mampu menghasilkan beras sebanyak 65.446 ton. Seiring adanya Hari Raya Qurban, kebutuhan konsumsi beras sedikit naik di kisaran 9.166 ton. Sehingga terjadi surplus beras sekira 59.944 ton.
“Saat ini kita baru mendapat alokasi kecil, baru 200 Ha. Tetapi penjajakan ini bisa dilanjutkan supaya mendapat alokasi yang lebih besar,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi mengungkapkan, bahwa Bojonegoro tidak hanya surplus beras. Namun juga surplus gabah.
“Selain dengan PT Wilmar Padi Indonesia, ada baiknya juga dilakukan penjajakan kerja sama untuk menyerap gabah dan beras hingga ke DKI Jakarta. Untuk memecahkan persoalan tingginya surplus beras di Bojonegoro ini,” tandasnya.(fin)