SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – DPRD Bojonegoro, Jawa Timur meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bersinergi dengan dunia usaha, khususnya perusahaan migas yang beroperasi di wilayahnya untuk menanggulangi dan menangani pandemi Covid-19. Perusahaan bisa menggulirkan program tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) untuk membantu menangani bencana non alam ini.
Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, Mochlasin Affan menyampaikan, perusahaan migas yang beroperasi di Bojonegoro selama ini telah ikut berperan dalam penanggulangan Covid-19. Seperti pemberian bantuan alat pelindung diri (APD) bagi rumah sakit, pemberian vitamin dan bantuan lainnya.Â
“Tapi untuk peran yang lebih, pemerintah daerah harus mengumpulkan stakeholder, termasuk perusahaan migas. Di situlah Pemkab bisa menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi dan kebutuhan yang diperlukan untuk menanggulangi Covid-19 ini,” ujar Afan kepada suarabanyuurip.com, Sabtu (10/7/2021).
Menurut dia, penanggulangan pandemi Covid-19 ini dibutuhkan sinergi yang baik antara pemerintah dengan dunia usaha dan masyarakat. Tiga elemen penting ini dapat dibangun jika Pemkab dapat memberikan contoh sinergi yang baik.Â
“Kalau pemkab ingin bersinergi dengan dunia usaha, bersinergi dengan masyarakat, mereka harus kompak dan solid. Jangan justru di tengah situasi seperti sekarang ini mereka memberikan teladan yang tidak baik, dengan mempertontonkan konflik,” sindir Afan.
Ditanya tentang kebutuhan mendesak yang diperlukan dalam penanganan Covid-19 di Kabupaten Bojonegoro, menurut dia, yang lebih tahu adalah Pemkab, karena eksekutif yang paling berperan.Â
Namun demikian, lanjut politisi Partai Demokrat ini, tidak ada salahnya jika anggaran CSR perusahaan migas bisa dialokasikan untuk penanangan Covid-19 yang darurat. Dari aspirasi yang diterima Komisi C, penanganan yang darurat sekarang ini adalah tempat isolasi atau rumah sakit darurat bagi warga yang terkonfirmasi positif. Sebab sekarang ini cukup banyak pasien yang tidak tertangani gara-gara rumah sakit overload.Â
“Dengan situasi begini, kami pikir yang paling mendesak adalah membuat infrastruktur kesehatan darurat untuk mereka-mereka yang terkonfirmasi positif yang segera membutuhkan penanganan. Entah bentuknya rumah sakit darurat atau apa. Tapi itu harus didukung dengan tenaga medis dan alat-alat kesehatan,” pungkasnya.Â
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro, Ardhian Orianto menyampaikan jika peran dunia usaha khususnya perusahaan migas dalam penanggulangan dan penanganan Covid-19 masih sangat minim. Bantuan CSR yang diberikan baru APD.Â
“Itupun diberikan tahun 2020 lalu, pada awal-awal pandemi. Sedangkan untuk tahun ini setahu kami belum ada,” ucapnya.
Ardhian menyampaikan, berdasarkan Undang-undang No 24/2017 tentang Penanggulangan Bencana, dunia usaha merupakan salah satu unsur yang wajib turut serta dalam penanggulangan bencana. Apalagi pandemi Covid-19 ini telah ditetapkan sebagai bencana non alam.Â
“Karena itu harus ada sinergi dari perusahaan di Bojonegoro, khususnya perusahaan migas. Kami harapkan mereka terbuka hatinya karena pandemi ini adalah masalah kemanusiaan,” ujarnya.Â
Menurut Ardhian, kebutuhan yang diperlukan dalam penangangan Covid-19 ini adalah asupan nutrisi dan APD. Nutrisi dibutuhkan untuk tetap menjaga imun. Sedangkan APD untuk menhindari penyebaran Covid-19.
“APD ini sangat penting. Karena ini tidak bisa dicuci dan kemudian dipakai lagi, karena sangat risiko menularkan virus. Jadi sekali pakai harus dibakar,” pungkasnya.
Relawan Bencana Bojonegoro, M Nur Cholis menambahkan, kebutuhan darurat dalam penanganan Covid-19 sekarang ini adalah penambahan pasokan oksigen bagi yang dirawat, tempat tidur untuk rumah sakit, tim dokter atau tenaga medis untuk menjangkau ke semua pelosok, dan armada untuk penyemprotan disinfektan secara massal ke semua wilayah Bojonegoro, dan pembagian vitamin kepada warga untuk ketahanan tubuh.
“Kebutuhan darurat ini seharusnya tidak hanya Pemkab yang mengatasi, tapi perusahaan-perusahaan juga ikut mengkovernya melalui CSR-nya,” kata Nur
Pak Cho, sapaan akrabnya, menambahkan, dalam penanganan bencana Covid-19 ini semua pihak harus mengenyampingkan ego sektoral.Â
“Karena penanganan pandemi ini butuh sinergi semua pihak,” pungkas staff BPBD Provinsi Jatim yang ditempatkan di Bojonegoro ini.(suko)Â