Produksi Minyak Pertamina Hulu Indonesia Capai 47,8 mbopd

23059

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) sekaligus sebagai Regional Kalimantan Subholding Upstream Pertamina, berhasil mencapai tingkat produksi rata-rata minyak sebesar 47,8 mbopd dan gas sebesar 658,3 mmscfd. Capaian ini melebihi target produksi migas yang telah ditetapkan sampai triwulan kedua tahun 2021 ini. 

Direktur Utama PHI Chalid Said Salim, menjelaskan, bahwa PHI terus melakukan langkah-langkah strategis dan operasional melalui investasi dalam kegiatan pemboran eksplorasi dan pengembangan, kegiatan pemeliharaan sumur, inovasi dan penerapan teknologi, sinergi antara anak-anak perusahaan Pertamina.  Serta inisiatif penghematan biaya di seluruh elemen kegiatan operasi Perusahaan. 

Menurutnya, sebagai pengelola wilayah kerja ex-terminasi yang telah dioperasikan lebih dari 50 tahun, PHI terus melakukan berbagai upaya untuk memaksimalkan cadangan dan produksi dari lapangan-lapangan migas yang sudah mature.  Serta memelihara keekonomian aset. 

“Kami berhasil menurunkan tingkat penurunan produksi alamiah (natural production declining rate) sumur-sumur migas yang saat ini sudah mencapai lebih dari 50% menjadi sekitar belasan persen saja,” jelas Chalid dalam keterangan resminya, Kamis (5/7/2021).

Lebih lanjut dia menjelaskan, kontribusi produksi migas Regional Kalimantan yang terbesar berasal dari wilayah kerja Mahakam.  Yang dioperasikan oleh salah satu anak perusahaan PHI, yaitu PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

PHM berhasil mencapai kinerja produksi minyak 109,8% dan gas 110,5% dari target produksi migas yang sudah ditetapkan. Dengan rata-rata hingga Juni 2021 sebesar 26,8 mbopd untuk minyak dan sebesar 554,4 mmscfd untuk gas. 

Baca Juga :   JOBP-PEJ Mangkir dari Rapat Konten Lokal

Menurut Chalid, sejak alih kelola di 1 Januari 2018 hingga 2020 lalu, PHM yang juga merupakan bagian dari Zona 8 Regional Kalimantan, telah berhasil melaksanakan pemboran 268 sumur pengembangan. Untuk mempertahankan tingkat produksi, menambah cadangan migas, dan menahan laju penurunan produksi di WK Mahakam. 

Tahun 2021 ini dan tahun depan direncanakan akan dilakukan pemboran 2 sumur eksplorasi dan lebih dari 150 sumur pengembangan di WK Mahakam. 

Selain jumlah pemboran yang masif, pihaknya juga menerapkan inovasi dalam pemboran. Dengan metode rigless di WK Mahakam. Yaitu pemboran menggunakan hydraulic workover unit (HWU), ntuk mengurangi penggunaan rig sebagai yang pertama di Indonesia. Saat ini HWU telah digunakan untuk pemboran lebih dari 5 sumur delta di Wilayah Kerja (WK) dan terbukti mampu menghemat hingga rata-rata 37% biaya pemboran yang menggunakan rig konvensional.   

“Di PHM, kami berhasil menerapkan beberapa inovasi lainnya untuk memaksimalkan penambahan cadangan dan produksi melalui kegiatan interpretasi seismik yang sistematis, efektif, dan efisien, pengelolaan sumur-sumur bertekanan rendah, serta reaktivasi dan optimalisasi sumur-sumur abandoned. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa pertamina sanggup untuk mengelola wilayah kerja eks terminasi dengan sejarah sebagai major producer di Indonesia,” imbuh Chalid. 

Terus Berinvestasi

Dalam hal investasi kapital, Chalid pun menjelaskan bahwa pada tahun 2020, PHI berhasil merealisasikan investasi sebesar 719 juta dollar. Sementara tahun 2021 ini, rencana investasi kapital PHI melebihi tahun lalu, yaitu sebesar 869 juta dollar atau lebih dari 14 triliun rupiah. 

Baca Juga :   Berharap PKC Maksimalkan Naker Lokal

“Kami di Pertamina berkomitmen untuk terus berinvestasi dalam proyek-proyek pengembangan aset-aset migas yang ada saat ini. Sehingga dapat terus menghasilkan energi yang dibutuhkan oleh negara dan memberikan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan masyarakat Indonesia,” kata dia.

Selain mencapai kinerja produksi melebihi target, PHI pun tetap memastikan kinerja keselamatan menjadi prioritas utama dalam menjalankan operasi dan bisnis migasnya. Sampai dengan bulan Juni ini, Regional Kalimantan berhasil mencapai lebih dari 28 juta jam kerja tanpa kecelakaan dengan nilai Total Recordable Incident Rate (TRIR) sebesar 0,19 dibandingkan 0,48 nilai TRIR yang masih diperbolehkan. 

Di masa pandemi ini, kemampuan Perusahaan untuk mengelola manajemen keselamatan dan kesehatan menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mempertahankan kinerja unggul. 

“Seluruh manajemen dan pekerja serta mitra kerja di lingkungan PHI-Regional Kalimantan senantiasa mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan untuk memastikan keberlangsungan operasi dan produksi migas, serta menjamin setiap orang kembali kepada keluarganya dengan selamat,” pungkasnya. 

PHI merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) di bawah Subholding Upstream yang mengelola Regional Kalimantan. PHI berkomitmen untuk mengatasi berbagai tantangan bisnis dan operasional selama pandemi, mendukung transformasi organisasi Pertamina untuk mencapai aspirasi sebagai global energy company champion dengan nilai pasar 100 miliar dolar.(ams)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *