SuaraBanyuurip.com -Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Berawal mengikuti pelatihan di Kampung Batik Laweyan, Kota Solo selama seminggu, Lukdianto kini cukup terampil membuat batik. Meski demikian, ia masih merasa kesulitan membuat batik tulis. Sebab, selain kurang SDM, juga proses membuat batik tulis cukup lama.
“Awal menggeluti batik pada 2012 lalu. Kemudian mulai mengembangkan pada 2013 saya baru mendirikan usaha sendiri di rumah dengan dibantu peralatan membatik dari Ademos,” kata pria asal Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ini.
Proses pembuatan batik, kata dia, tergantung dengan jenis batik yang akan dibuat. Misalnya, batik cap, waktu pengerjaanya tergantung dari teknik pewarnaannya. Paling cepat untuk satu warna bisa sampai dua hari. Sebaliknya, jika banyak warna semakin lama empat hingga lima hari.
“Sedangkan untuk batik tulis bisa sampai seminggu bahkan ada yang berbulan-bulan. Tetapi untuk batik tulis sekarang kami tidak memproduksi lagi,” katanya, Kamis (26/8/2021).
Proses pembuatan batik tulis membutuhkan keterampilan yang khusus. Selain itu, juga di rumah usaha batik milik Lukdianto hanya ada dua orang perajin batik tulis.
Namun, meski tidak memproduksi batik tulis, batik cap masih diminati konsumen meski jumlahnya menurun karena pandemi Covid-19.Â
“Masih selalu ada peminatnya meski menurun jika dibanding dengan sebelum ada pandemi,” ungkapnya.
Saat ini pemasaran melalui online dan offline dilakukannya. Akan tetapi kebanyakan pembeli secara langsung datang. Untuk pemasaran memaksimalkan media sosial karena masih pandemi. Untuk harga, ia melanjutkan mulai harga Rp 65 ribu hingga Rp 150 ribu tergantung jenis batik.
“Untuk harapannya pandemi segera berakhir dan hidup kembali normal. Juga pemakain seragam batik di sekolah-sekolah dan perkantoran digencarkan kembali dan even tahunan kembali diadakan lagi,” tambahnya.(jk)