Penuhi Kebutuhan Listrik, PEM Akamigas Manfaatkan Energi Ramah Lingkungan

23211

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Blora -  Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, telah menerapkan teknologi ramah lingkungan. 65% kebutuhan listrik yang digunakan untuk operasional kampus dan perkantoran telah menggunakan dukungan tenaga surya. 

Teknologi tersebut telah diterapkan PEM Akamigas tiga tahun terakhir sejak 2018. instansi di lingkungan Kementerian ESDM yang telah menerapkan pola pengelolaan Badan Layanan Umum (BLU) ini menggunakan piranti tepat guna. Solarcel yang dipasang pada atap bangunan gedung (roof top) mampu menghasilkan daya 50 KWP. 

Dosen Teknik Instrumentasi Kilang, Alfin Sahrin menyampaikan pemanfaatan tenaga surya untuk kebutuhan listrik bagi gedung pemerintah ini sesuai instruksi pemerintah melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap oleh Konsumen PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero).

“Mau tidak mau ya harus dilaksanakan,” ujarnya. 

Alfin menuturkan dirinya bersama tim mulai merancang bangunan teknologi sejak keluarnya instruksi tersebut.

“Akhirnya project itu selesai dan berhasil terpasang dan dimanfaatkan pada akhir tahun 2018,” ucapnya. 

Meski telah memanfaatkan tenaga surya, lanjut Alfin, PEM Akamigas tidak sepenuhnya terpisah dari listrik PLN. Justru solarcel itu masih terkoneksi dengan listrik PLN. 

“Dengan daya sebesar itu, sebenarnya PEM Akamigas bisa sepenuhya terlepas dari listrik PLN. Bahkan bisa menjualnya. Karena memang ada aturan yang melegalkan untuk menjualnya kepada PLN dengan keberhasilan teknologi ini,” tandasnya. 

Baca Juga :   Tuban Potensi Besar Pembangunan Kilang Mini

Menjual yang dimaksud tidak dalam bentuk jual beli pada umumnya, karena PEM Akamigas bukan lembaga bisnis. Tapi bisa menyuplai listrik kepada PLN untuk kebutuhan listrik di kampus. 

“Artinya, ada perjanjian yang harus disepakati. Salah satunya mengurangi beban biaya listrik kampus, dengan memanfaatkan solarcel. Dalam aturannya hanya 65% saja,” tegasnya. 

Menurut Alfin teknologi ini lebih ramah lingkungan dibanding listrik yang sekarang ini. 

“Tidak memanfaatkan batu bara atau sumber energi sejenis. Listrik ini hanya menggunakan tenaga matahari,” tandasnya. 

Alfin tidak memungkir jika nilai investasi awal untuk membangun teknologi ini memang lebih besar. Namun, untuk jangka panjang tenaga surya ini jauh lebih hemat. 

“Tak perlu lagi mengeluarkan biaya lebih. Hanya melakukan perawatan berkala,” jelasnya. 

Teknologi solarcel ini telah dikembangkan ke perumahan sebagai percontohan.

“Kita sudah ada untuk percontohan di rumah dinas Direktur PEM Akamigas,” jelasnya.

Dikatakan, investasi untuk membangun teknologi solarcel cukup lumayan, karena peralatan yang digunakan memiliki kualiatas yang bagus. 

“Kalau untuk rumah tangga standar, investasi awal bisa mencapai Rp35 juta untuk menghasilkan daya 2.000 WP,” tegasnya. 

Baca Juga :   Pengumuman Tes Seleksi Rekrutmen Pertamina Hoax

Dia menambahkan, inovasi aplikasi pemanfaatan energi baru terbarukan yang diterap PEM Akamigas ini telah menyabet juara 3 umum dalam ajang penjaringan dan inovasi (Krenova) Kabupaten Blora tahun 2020 lalu. 

Tim Laboratorium Energi PEM Akamigas membantu krisis air di Kabupaten Blora dengan pembuatan alat Quick Response Energy (QREEN). Alat ini merupakan cabin yang memanfaatkan energi surya sebagai sumber pembangkitnya. 

Dengan cabin ini diharapkan bisa membantu masyarakat sekitar pascabencana. Serta mendukung pemerintah dalam meningkatkan rasio Renewable Energy.

Alat portable tersebut sekarang ini masih dimanfaatkan masyarakat Desa Sambong Kecamatan Sambong. Lokasinya berada sekira 700 meter dari jalan desa, berada di tengah area persawahan kering. 

“Jadi masyarakat tidak perlu menarik kabel hingga lokasi sumur,” jelasnya. 

Peralatan milik PEM Akamigas ini statusnya masih dipinjamkan. Kedepan pihak desa bisa melakukan pengadaan alat sendiri dengan biaya sekira Rp10 juta untuk membuat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). 

“Memang investasi awal agak besar. Dengan nilai itu, bisa menggerakkan pompa listrik untuk menghasilkan air yang bisa dimanfaatkan masyakat banyak,” pungkasnya.(ams)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *