PT Rekind Sukses Ujicoba Buyback Gas JTB

23487

SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho

Bojonegoro – PT Rekayasa Industri (Rekind) sukses melakukan tahapan pre-commissioning Buyback Gas di proyek Processing Facility Jambaran-Tiung Biru (GPF- JTB) yang berpusat di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tahapan ini memiliki korelasi kuat untuk menentukan keberhasilan tahapan strategis lainnya di proyek JTB.

Tahapan commissioning (ujicoba) merupakan dari proses EPCC (Engineering, Procurement, Construction dan Commissioning). Kegiatan ini melibatkan ratusan tenaga ahli dan profesional Rekind di bidangnya. 

 Pre-commissioning Buyback Gas di proyek GPF JTB  dilakukan mulai pukul 10.00 Wib, pada Kamis (30/9/2021) lalu. Disaksikan langsung oleh General Manager Pertamina EP Cepu Charles Harianto Lumban Tobing, Budi Prianto – Project Manager (PM) GPF JTB, Heri Budiman Deputi PM GPF – JTB dan Sabilal Arif Construction Manager (CM) GPF – JTB. 

“Buat kami yang ada di site project, suksesnya kegiatan ini membawa kebanggaan tersendiri. Selain menunjukkan komitmen dan profesionalisme kuat Rekind, tahapan ini sangat menentukan dalam penyelesaian kegiatan project. Dan alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, sesuai dengan apa yang kita harapkan bersama,” ujar Budi Prianto, Project Manager GPF – JTB dikutip dari laman resmi PT Rekind. 

Dia menjelaskan, Buyback Gas adalah mengambil gas bersih yang dibeli dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) dalam kapasitas jumlah yang sangat kecil, untuk kemudian dialirkan sebagai starting power Boiler dan Gas Turbin Generator (GTG). Selanjutnya, gas ini digunakan sebagai power untuk menggerakan motor-motor besar, yang satu di antaranya menunjang proses chemical cleaning.  

Boiler merupakan alat untuk mengubah air menjadi uap melalui pemanasan, di mana uap air tersebut bisa diatur seberapa kuat tekanannya sehingga bisa digunakan sebagai tenaga gerak.

“Sedangkan Gas Turbin Generator atau GTG adalah sebuah mesin generator di mana turbin/pemutar mesinnya itu digerakkan oleh gas bersih yang dibeli dari Pertagas,” terangnya.

Baca Juga :   Penurunan Target Lifting Karena Cuaca

Jika aliran gas sudah mampu menggerakkan boiler dan GTG, lanjut Gito Waluyo, Deputi Project Manager GPF-JTB, gas ini digunakan sebagai power untuk menggerakan motor-motor besar, yang satu di antaranya menunjang proses chemical cleaning. Proses ini merupakan bagian yang fokus kegiatannya bertumpu untuk membersihkan tower-tower, yaitu Absorber dan Selexol Regenerator.  

“Tower-tower itu semua harus dibersihkan dengan chemical yang motor penggeraknya disuplai listrik dari GTG,” ungkapnya.

Sebelum dilakukan Chemical Cleaning, steam yang dihasilkan dari Boiler berfungsi untuk membersihkan pipa-pipa jalur gas yang menggunakan steam bertekanan melalui steam blowing. Setelah bersih, dilakukan adaptasi atau penyesuaian, baru kemudian GTG ini digunakan untuk supply power sewaktu chemical cleaning.  

“Jadi milestone atau tonggak pencapaian dari Buyback Gas ini adalah untuk chemical cleaning,” lanjut Gito Waluyo. 

Jika proses chemical cleaning sudah selesai semua, berarti GPF JTB sudah siap dioperasikan, terutama setelah seluruh pipa ini dibersihkan dengan menggunakan flushing dan blowing. Setelah dibersihkan semua, sistem instrumentasi dan shut down systemnya dicek. Setelah semua sudah memenuhi perencanaan, dilanjutkan dengan proses simulasi.  

“Maka operasi pipa gas ini sudah siap dijalankan,” tegas Gito Waluyo. 

Kalau boiler dan GTG sudah berjalan normal, diharapkan tahapan selanjutnya akan lebih lancar lagi karena Buyback Gas dan juga power/listrik yang dihasilkan dari GTG akan bisa digunakan untuk penggunaan Commissioning unit-unit lain seperti Compressor, Fin-Fan Cooler dan Heater.  

Pabrik JTB ini sendiri secara khusus akan memproses gas bumi mentah menjadi gas bersih dengan kadar belerang, air dan gas karbon dioksida yang sudah sesuai spesifikasi.  Gas tersebut dikompresi kemudian dialirkan sebagai gas jual (sales gas) ke jalur pipa di Pertagas. 

Baca Juga :   Pemerintah Dorong Pengalihan BBM ke BBG

Selain memproduksi gas bersih (sales gas), Pabrik JTB nantinya juga akan memproduksi hasil samping yang juga bisa dimanfaatkan atau dijual yaitu kondensat dan asam sulfat. Keterlibatan dalam proyek GPF-JTB menunjukkan peran nyata Rekind dalam mendukung  program pemerintah, terutama dalam hal pemanfaatan sumber daya gas.  

“Pada pada akhirnya semua proses ini  akan bermuara untuk menopang perekonomian negara melalui industri pupuk secara khusus, dengan menyalurkan gas ke pabrik-pabrik pupuk yang merupakan salah satu pilar pendukung ketahanan pangan nasional,” tambah Edy Sutrisman, SVP Corporate Secretary & Legal Rekind. 

Dikonfirmasi terpisah, Site Manager PT Rekind, Zaenal Arifin menyampaikan, progres proyek EPC GPF JTB hingga pertengahan September 2021. Untuk progress Overall Enginering Procurement Construction dan Commissioning (EPCC) telah mencapai 94,13 %.  

“Sedangkan khusus construction pencapaian progress 91,19 %,” ucapnya. 

Adapun dari aspek keselamatan kerja, lanjut Zaenal, JTB telah mencatat pencapaiane 35 Juta Jam Kerja Aman Tanpa Terjadi Lose Time Injury. 

“Alhamdulillah ini prestasi luar biasa yang harus dibanggakan oleh semua pekerja yang ada di JTB,” pungkasnya. 

Untuk diketahui, JTB merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) dalam Perpres Nomor 109 tahun 2020 tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Nasional. Proyek in diharapkan akan menjadi salah satu calon penghasil gas terbesar di Indonesia dengan perkiraan rampung sesuai jadwal pada Q4 2021.  

Produksi gas JTB akan mencapai 192 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) yang 100 MMSCFD nya telah dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan gas pembangkit listrik PT PLN.(suko)



»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *