Mahasiswa PEM Akamigas Olah Limbah Pertanian Jadi Bahan Bakar Alternatif

23503

SuaraBanyuurip.com - Ahmad Sampurno

Tuban – Tongkol Jagung selama ini hanya sekadar menjadi limbah dan dibuang begitu saja. Namun, di tangan mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, limbah tersebut dapat diolah menjadi bahan bakar alternatif bagi rumah tangga.

Inovasi tersebut ditunjukkan Tim Pengabdian Masyarakat PEM Akamigas Cepu yang di Ketuai Tun Sriana, kepada warga Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, akhir September 2021 lalu.

Tun Sriana menyampaikan Desa Mulyoagung memiliki potensi pertanian Jagung. Selama ini limbah pertaniannya cukup besar, dan dibuang sia-sia. Padahal, limbah tersebut bisa diolah menjadi produk bernilai dan tepat guna. 

“Kita pilih lokasi ini karena berdekatan dengan sumber biomassa, terutama untuk limbah pertanian. Materi bahan biomassa kan banyak macam seperti tongkol jagung, daun kering, juga kayu,” ujar Tun Sriana.

Dia bersama timnya mempresentasikan tentang pembuatan briket arang berbahan limbah biomassa skala rumah tangga sebagai bahan bakar alternatif kepada warga dan Kepala Desa Mulyoagung, M. Muhail di area wisata Air Terjun Nglirip.

Baca Juga :   UKM Kependudukan Unigoro Terima Hibah Pengabdian Masyarakat BKKBN Jatim

“Biasanya di masyarakat, terutama desa-desa itu banyak limbah biomassa. Seperti tongkol jagung, daun-daun kering dan masih banyak lagi. Yang bila dibakar langsung tidak akan menghasilkan panas yang cukup tinggi,” ungkapnya.

Apabila limbah itu dijadikan briket, lanjut Tun Sriana harapannya bisa menghasilkan panas yang lebih tinggi. Sehingga untuk proses masak dan keperluan lainnya bisa lebih cepat.   

Kepala Desa Mulyoagung, M.Muhail, membenarkan bahwa di wilayahnya banyak limbah pertanian. 

“Kemarin baru saja musim panen. Jagungnya dijual, klobotnya untuk makanan sapi, sedangkan janggelnya dibuang,” sambungnya.

Untuk limbah tongkol jagung, kata Muhalil bisa sampe 10 truk. Limbah tersebut dibuang karena menjadi sampah. Apalagi ketika musim hujan seperti ini, limbah jagung sulit untuk dibakar. 

“Dengan adanya sosialisasi pembuatan arang limbah ini semoga bisa menjadikan berkah bagi kita semua, warga Mulyoagung,” harapnya.

Dengan melibatkan mahasiswa program studi Teknik Pengolahan Migas, tim pengabdian masyarakat ini siap memberikan pelatihan intensif bagi warga Mulyoagung untuk proses selanjutnya.

Perwakilan mahasiswa, Abdul Mubarok saat presentasi menjelaskan bahwa briket atau biobriket adalah arang dengan bentuk tertentu yang dibuat dengan teknik pengepresan tertentu. 

Baca Juga :   Bupati Fadeli : Guru Lamongan Pantas Digugu dan Ditiru

“Baik secara manual maupun mesin atau hydrolic dan menggunakan bahan perekat amilum atau tepung kanji sebagai bahan perekat,” pungkasnya.(ams)


»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *