SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Jika berkunjung ke pasar modern, mungkin kamu akan menemukan sejenis sayuran berbentuk panjang dan meruncing di ujungnya. Sayuran tersebut merupakan buah okra yang kerap diolah menjadi sajian lezat di beberapa restoran.
Sekilas penampilan luar buah okra atau nama lain abelmoschus esculentus bak cabai hijau besar atau cabai lompong. Okra memiliki beragam manfaat yang baik untuk dikonsumsi.
Di Indonesia, okra bisa tumbuh dengan baik meski pada musim kemarau. Bahkan pada cuaca sangat kering dan panas. Hal inilah yang membuat Adib Nurdiyanto, Dosen STIKes ICsada Bojonegoro tertarik melakukan pengamatan sekaligus percobaan sederhana terhadap tanaman okra.
Adib sendiri telah membudidayakan 5 jenis okra, yakni red burgundy, finger lady, green thumb, elephant tusk dan emerald. Namun ia sendiri lebih tertarik pada okra jenis emerald sebab memiliki produktivitas yang cukup tinggi dan usia yang lebih panjang.
“Okra juga tidak menyebabkan rasa gatal di tenggorokan saat dikonsumsi. Bahkan ketika dimasak mampu menghasilkan lendir yang mengandung banyak zat baik, sehingga bisa digunakan untuk membantu mengurangi kadar diabetes dan kolesterol,” kata Adib.
Namun, secara sajian kuliner lendir ini juga yang menyebabkan banyak orang enggan mengkonsumsi okra. Seiring popularitas yang cukup redup sebagai kuliner siap saji, pria asal Kapas ini mulai memanfaatkan biji okra.
“Satu tanaman bisa menghasilkan ratusan biji selama 2 bulan. Biji ini diambil dari okra yang sudah kering dan kemudian diolah secara sederhana yakni mulai dari pembersihan, menggoreng hingga menghaluskan biji okra menjadi serbuk,” katanya.
Serbuk yang dihasilkan berwarna coklat dengan aroma yang sangat mirip dengan kopi. Hal inilah yang menginovasi pendiri rumah kreatif ini menjadikan okra sebagai sajian minuman sejenis kopi. Menariknya, ia pun menambahkan serbuk kopi jenis torabika dan menyebutnya sebagai kopi okra.
“Sensasi rasa capuccino yang khas dari kopi okra ini membuat kopi ini banyak digemari remaja. Pemasaran kopi ini sudah merambah di berbagai wilayah Jawa Timur, dengan harga Rp 20.000 pada kemasan 100 gram,” pungkasnya.(jk)