SuaraBanyuurip.com -Â Joko Kuncoro
Bojonegoro – Vina Durotul Azkia sukses berkat ketekunannya menjalankan digitalisasi penjualan usaha kerudung di saat pandemi. Meski saat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 3 dan 4 usahanya sempat menurun cukup signifikan.
“Proses merintis Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) kerudung ini semenjak 2018 lalu. Awalnya hanya sekedar mencari kesibukan tapi banyak yang merespon akhirnya ditekuni dan bisa berkembang sampai seperti sekarang,” kata Vina sapaan akrabnya mengawali cerita.
Vina menceritakan, awalnya ia melihat peluang usaha kerudung karena memiliki pasar yang luas. Selain itu, kerudung sudah menjadi kebutuhan bagi semua perempuan muslim. Dalam memasarkan produknya pun Vina mengaku, sejak awal ia memang sudah berjualan serba online karena tanpa terkendala batas wilayah.
Ia memanfaatkan Instragram bernama azkia scarf yang pengikutnya mencapai kini 22,8 ribu. Sementara untuk penjualan onlinenya diarahkan menggunakan WhatsApp dan Shopee.
Karena itu, pembeli produk UMKM kerudung milik Vina menyentuh hingga semua kalangan diantaranya seperti pelajar, mahasiswa hingga masyarakat pekerja. Sementara pembeli mayoritas berasal dari sekitar Bojonegoro dan paling jauh dari Sumatera hingga Papua.
“Tiga aplikasi tersebut paling ampuh untuk menjalankan usaha lewat digital apalagi di tengah pandemi seperti ini. Karena, lebih memudahkan dan sangat membantu serta minim kendala,” kata perempuan asal Desa Sukowati, Kecamatan Kapas, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur itu.
Namun, kata Vina, saat pandemi Covid-19 dan PPKM Level 4 diterapkan, penjualan produknya menurun cukup signifikan hingga 50 persen. Yang awalnya ia menjual 1.000 pcs kerudung menjadi 500 pcs kerudung per bulan bahkan di bawahnya.
“Dampak pandemi pembeli menurun agak signifikan. Bahkan, saat PPKM Level 3 dan 4 dalam sebulan pembeli sepi. Hal itu juga mempengaruhi penurunan omzet,” katanya, Senin (25/10/2021).
Dia mengatakan, dulu awal merintis kesulitan dalam mendapatkan penjahit yang sesuai. Dan saat pandemi seperti ini kesulitan dalam mendapatkan kain yang berkualitas.
“Kondisinya seperti itu ada pengaruh saat adanya pandemi. Pengaruhnya terhadap omzet juga menurun hingga 50 persen,” jelas perempuan usiam 25 tahun itu.
Akan tetapi, kini usaha Vina sudah kembali normal. Sebab, ia menjalankan usahanya dengan digitalisasi penjualan. Ia juga memaksimalkan peran media sosial dalam melakukan pemasaran untuk mengejar omzet.
“Sudah normal kembali untuk per bulannya 1.000 pcs kerudung terjual. Sedangkan untuk omzet mencapai Rp 35 juta per bulan,” jelasnya.
Dia menambahkan, kedepan harapannya usaha yang ia tekuni dapat terus berkembang. Juga, semakin maju, dan semakin banyak yang memakai hijab azkia scarf.(jk)