Berburu Enthung di Hutan Jati Sekitar Ladang Gas JTB

23766

SuaraBanyuurip.com – Sami’an Sasongko

Bojonegoro – Warga sekitar hutan jati di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sejak beberapa hari mulai asyik di bawah tegakan pohon jati untuk berburu ulat jati dan kepompong. Kebiasaan tahunan setiap musim hujan mereka lakukan. Musim dimana daun jati mulai tumbuh setelah sekian bulan menggugurkan daun pada musim kemarau.

Daun jati yang sebelumnya meranggas menjadi tempat favorit habitat enthung, sebutan kepompong ulat jati pada saat musim semi seperti ini. Cukup sederhana alat yang digunakan warga mencari enthung. Hanya menggunakan ranting kayu kecil dan wadahnya dari daun jati yang dilipat, serta toples plastik.

“Musim hujan seperti ini, saat yang tepat mencari enthung,” kata Selamet, salah satu warga sekitar proyek Gas Jambaran-Tiung Biru (JTB) yang sedang mencari enthung di kawasan hutan Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sendang Gerong, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Clangap, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bojonegoro, Kamis (11/11/2021).

Di tempat yang sama, istri Selamet, Eni mengatakan, banyak warga sekitar hutan jati, tepatnya sekitar proyek Gas Processing Facility (GPF) JTB di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, memanfaatkan musim seperti ini. Enthung yang didapat, tidak keseluruhan dikonsumsi sendiri, ada pula yang di jual. Dengan harga Rp20.000 untuk segelas yang ukuran tanggung.

Baca Juga :   Permohonan Penetapan Nama Muk'awanah dan Anna Mu'awanah Dicabut, Ini Alasannya

“Kalau saya, tak konsumsi sendiri. Untuk hasil sehari tidak mesti. Berangkat pagi, pulang sore, kadang dapat dua toples dan kadang juga tiga toples. Tapi beberapa hari ini hujan terus hasil menurun, karena kondisi daun jatinya basah campur tanah. Jadi agak sulit ngambilnya,” ucap warga Desa Bareng, Kecamatan Ngasem ini.

Kalau dikonsumsi, kata Eni, cukup mencuci enthung kemudian digoreng menggunakan bumbu dapur dan disantap dengan nasi. Namun tidak semua orang bisa menikmatinya, karena kerap menimbulkan alergi.

“Kalau tidak biasa makan enthung, kadang ada yang biduran (alergi),” imbuhnya sambil memunguti enthung bersama putranya Tomi Ferdiansyah.(sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *