Pernah Digandeng EMCL, Bisnis Flanel Mimin Raup Omzet Rp15 Juta per Bulan

23798

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Berbekal modal awal Rp50.000, kini usaha kerajinan tangan berbahan kain flanel My Felt milik Mimin mampu meraup omzet sekira Rp15 juta per bulan. Bahkan Mimin pernah digandeng oleh operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) menjadi mitra binaan pada tahun 2014 silam.

Pemilik nama asli Mintorowati yang tinggal di Kelurahan Sumbang, Kecamatan Kota, Kabupatan Bojonegoro, Jawa Timur ini mengaku, terinspirasi dari artikel di sebuah sobekan majalah. Dimana termuat kreasi unik berbahan kain flanel yang tak membutuhkan modal besar untuk memulainya.

“Modal saya dulu cuma Rp50 ribu. Buat belanja kain flanel ke Malang. Kebetulan waktu itu adik kuliah disana, sekalian saya nitip,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Selasa (16/11/2021).

Dari kain flanel senilai Rp50 ribu itu, tahun 2004 Mimin mulai merintis usahanya. Ia membuat kerajinan berbentuk buah-buahan yang didalamnya berisi magnet, agar bisa ditempel di dinding kulkas. Produk pertamanya dibeli oleh teman sendiri, saat mengantar putranya ke sekolah.

“Alhamdulillah terjual semua, dari Rp50.000 itu berkembang jadi Rp200 ribu,” lanjutnya.

Dasarnya sudah mempunyai hobi dan kreatifitas seni, Mimin memutar modalnya untuk membuat desain flanel baru untuk craft hasil karyanya. Pembaruan desain itu berlanjut sampai hari ini. Dimana setiap tiga bulan ia membuat target untuk memunculkan setidaknya ada 15 item baru.

Sejumlah 30-an outlet lokal menjadi sasaran pemasarannya secara offline. Diantaranya, Swalayan KDS, Galeri Dinkop, IKM Mart, EJSC Bakorwil, dan Togamas Bojonegoro.

Baca Juga :   Trucuk Bojonegoro Bertekad Jadi Role Model Nasional Pengelolaan Sampah dari Dapur Warga

Sedangkan untuk pemasaran produknya  secara online, Mimin menggunakan akun media sosial (Medsos) yaitu Instagram, dan Facebook. Dengan melalui para reseller. Meskipun, banyak juga pembeli yang melakukan pembelian langsung padanya.

“Sempat juga pakai market place Tokopedia, cuma sebentar. Saya gak sempat handle, karena makin sibuk,” ujarnya.

Seiring peningkatan usaha, dibutuhkan pula tambahan tenaga. Namun Mimin tak perlu pusing-pusing. Pasalnya, sebanyak 15 tenaga borong untuk menjahit yang membantunya kini, berasal dari didikannya sendiri. Sehingga kini rumah kreasi My Felt miliknya mampu memenuhi kapasitas produksi 1.000 bagian. Dari total desain 15 item baru yang diluncurkan.

Tak berhenti sampai disitu, Mimin mengaku pernah pula menjadi trainer usaha untuk warga desa sekitar ring 1 lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip yang berpusat di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro.

Hingga pada medio tahun 2014-2015, operator ladang minyak Blok Cepu, ExxonMobile Cepu Limited menggandengnya menjadi mitra binaan melalui pelatihan. Hasilnya, bantuan satu unit mesin jahit ia dapat saat pelatihan berakhir.

“Saya sangat berterima kasih pada EMCL, dapat banyak ilmu. Baik manajemen maupun pemasaran,” ungkapnya.

Pada masa pandemi, yang mana kebanyakan kegiatan usaha terdampak, dan tak sedikit yang menggulung lapak. Kendati tak berpengaruh pada lapak dagangan Mimin. Justru omzetnya malah naik secara tajam.

“Kalau hitungan omzet, pas ramai malah nyampai Rp15 juta dalam sebulan. Padahal itu masa pandemi. Gak ngaruh kayaknya. Malahan, asset usaha total bisa Rp50 juta-an sekarang,” terangnya.

Baca Juga :   Alokasi Dana Desa di Bojonegoro Dipangkas 10 Persen untuk Program Gayatri

“Dan alhamdulillah, saya gak pernah hutang ke Bank. Semua uang sendiri,” imbuhnya.

Soal harga, Mimin mematok secara variatif tergantung item. Disebutkan, seperti tuding mengaji ia patok seharga Rp3.500. Untuk gantungan tali berbentuk aneka satwa ia kenakan harga Rp25 ribu sampai Rp30 ribu. Termahal yakni  busybook dan rumah katun seharga Rp50 ribu.

Harga murah yang ia terapkan mampu berdampak positif, yaitu tembus pasar di 30 kota. Diantaranya, Probolinggo, Denpasar, Singaraja, Bandung, Surabaya, dan Malang. Khusus untuk Togamas, ada 21 outlet berbagai kota bekerja sama dengan perempuan asli Madiun ini.

“Baru-baru ini ada dua kebun binatang di Jawa Tengah meminta agar mengajukan proposal untuk memasukkan produk kita kesana. Pertama Gembira Loka Zoo di Jogja, dan Jurug Zoo di Solo,” tambahnya.

Meskipun bisnisnya makin berkembang, Mimin berharap terjadi regenerasi usaha. Selain menikmati hasil usaha, ia ingin lebih fokus pada ide dan pengembangan bisnis.

“Jadi bukan selamamya saya. Biar dihandle yang lain. Saya tinggal mengembangkan bisnis,” tandasnya.

Sementara itu, salah satu karyawan tetap Mimin, Puji Astuti Puji Astuti mengaku, merasakan manfaat bisnis tempatnya bekerja. Sehari-hari Puji bertugas finishing, yakni menyelesaikan produk dari tim produksi.

“Kurang lebih lima tahun saya ikut Bu Mimin. Ketrampilan beliau sangat bermanfaat untuk banyak orang. Salah satunya saya rasakan sendiri,” pungkasnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *