SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro
Bojonegoro – Sepanjang 2021, SKK Migas berhasil menemukan 11 lapangan minyak baru. Salah satunya di Madura dan lepas pantai Kalimantan. SKK Migas, juga memproduksi 20 cekungan aktif dari total 128 cekungan yang berada di seluruh Indonesia.
Deputi Perencanaan SKK Migas Benny Lubiantara mengatakan, hingga Desember 2021 hulu migas menemukan 11 lapangan minyak baru. Di antaranya seperti di Pulau Madura, Selat Malaka, dan di lepas pantai Kalimantan.
“Rata-rata penemuan lapangan minyak baru ini berada di Offshore atau lepas pantai,” kata Benny sebagaimana dikutip dari Channel YouTube SKK Migas TV.
Dia mengatakan, selain menemukan lapangan minyak baru, SKK Migas juga memproduksi 20 cekungan aktif dari total 128 cekungan yang berada di seluruh Indonesia. Sementara, cekungan minyak yang belum dibor ada 68 cekungan yang memiliki potensi besar.
Namun, pontensi cekungan minyak ini proses eksplorasinya tidak bisa cepat. Sebab, lanjut dia, saat dilakukan pengeboran biasanya tidak menemukan minyak. Sementara jika ditemukan potensi minyak produksinya 4 sampai 5 tahun baru bisa dinikmati.
“Apalagi di lepas pantai butuh lima tahun untuk bisa dinikmati. Karena, sekarang kebanyakan potensi minyak ditemukan di Offshore,” katanya.
Hal ini, juga karena perkembangan teknologi Offshore sehingga mulai potensi lebih banyak ditemukan di lepas pantai. Selain itu, pengerjaan Offshore lebih complicated karena tidak ada masalah sosial.
“Hanya saja berurusan dengan ikan yang berada di laut. Beda kalau di darat, pasti memiliki banyak masalah sosial seperti pembebasan lahan. Juga, adanya penemuan SDA ini, akan segera dibuatkan POD untuk mendukung pencapaian 1 juta barel,” kata Benny.
Karena itu, gap antara konsumsi dan produksi minyak bumi harus seimbang. Bahkan, untuk mengurangi gap itu dari hulu migas menaikan produksi minyak agar gapnya bisa berkurang.
Sebab, saat ini produksi minyak sebanyak 700 ribu barel per hari. Maka, lanjut dia, untuk menaikkan perlu proses pelan-pelan agar sampai ke 1 juta barel di 2030 mendatang.
“Kami dorong KKKS yang punya lapangan untuk mengembangkan. Agar produksi dan konsumsi seimbang tidak impor dari luar,” jelasnya.
Dia menambahkan, untuk konsumsi minyak sebanyak 1,4 juta barel per hari jauh dari produksinya. Maka, jika produksinya tidak naik tentu gapnya akan naik.
“Kalau tidak ngapa-ngapain akan turun, maka kami coba 1 juta barel meski masih ada gapnya tapi berkurang. Dan harapannya impor yang dibutuhkan sedikit karena produksi dalam negeri meningkat,” jelasnya.(jk)