Indonesia Bidik Kerja Sama Proyek CCUS di G20

Lapangan sukowati blok Tuban

SuaraBanyuurip.com – d suko nuhroho

Jakarta - Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) menjadi salah satu proyek yang akan diusulkan dalam kerja sama di event Presidensi Group of Twenty (G20). Indonesia secara resmi memegang G20 selama setahun, mulai 1 Desember 2021 hingga KTT G20 di November 2022. 

CCUS merupakan salah satu solusi teknologi yang mampu mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Pemerintah berkomitmen untuk mengurangi emisi sebesar 29% di tahun 2030 melalui upaya sendiri dan 415 dengan dukungan internasional.

Ada tiga topik utama yang dibahas G20 tahun ini yaitu Sistem Kesehatan Dunia, Transformasi Ekonomi dan Digital dan Transisi Energi. Terkait topik utama transisi energi, Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM akan mengusulkan CCUS menjadi salah satu proyek kerja sama dalam G20.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji mengatakan program CCUS dalam G20 menunjukkan keseriusan Indonesia dalam menjaga lingkungan. Hal ini merupakan salah satu konsekuensi sebagai negara yang telah meratifikasi Perjanjian Paris tentang Perubahan Iklim.

Baca Juga :   Bupati Bojonegoro Somasi EMCL

“Agar CCUS dapat menjadi salah satu proyek kerja sama di G20,  Indonesia harus menjalin kerja sama multilateral dengan anggota G20 lainnya,” tegas Tutuka dalam keterangan tertulisnya.

Untuk diketahui, G20 beranggotakan 19 negara ditambah Uni Eropa (EU). Negara-negara tersebut adalah Afrika Selatan, Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Brasil, India, Indonesia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Meksiko, Republik Korea, Rusia, Perancis, Tiongkok, Turki dan Uni Eropa.

“Indonesia memang telah menjalin kerja sama dengan Jepang. Tapi itu tidak cukup. Diperlukan kerja sama dengan negara-negara lain agar skalanya lebih besar,” ungkap Tutuka.

Tutuka mengusulkan negara-negara yang perlu digandeng lantaran telah memiliki pengalaman terkait CCUS adalah Kanada dan Amerika Serikat.

“Kita masih cukup punya waktu untuk menjalin kerja sama multilateral agar CCUS dapat menjadi salah satu proyek kerja sama di G20,” tambahnya.

Perlu diketahui, ada sejumlah lapangan migas di Indonesia yang sudah menerapkan teknologi CCUS. Yakni  CCUS Gundih oleh Center of Excellence ITB, JANUS dengan dukungan Ministry of Economy, Trade, and Industry (METI) Jepang, Tangguh EGR di Papua Barat oleh BP Indonesia, Sukowati oleh Pertamina dan didukung oleh Center of Excellence LEMIGAS, JAPEX, dan METI.

Baca Juga :   Pengangguran di Ring 1 Banyuurip Masih Tinggi

Kemudian, Limau Niru di Sumatera Selatan oleh Center of Excellence LEMIGAS, JAPEX dengan dukungan METI. Studi CCUS di sektor hilir juga akan segera dimulai, seperti sebagaimana mengelola CO2 yang dihasilkan dari Pabrik Amonia di Sulawesi Tengah.

Sebagai informasi, Presidensi G20 mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”. Melalui tema ini, Indonesia mengajak seluruh dunia untuk bersama-sama mencapai pemulihan yang lebih kuat dan berkelanjutan. Rangkaian Pertemuan G20 Presidensi 2022 berjumlah 150 events yang terdiri dari Pertemuan Working Groups, Engagement Groups, Deputies/Sherpa, Ministerial, dan KTT G20, serta Side Events. Isu CCS/CCUS akan menjadi salah satu topik bahasan dalam Side Events G20 tahun ini.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *