Rengginang Singkong Begadon Binaan EMCL Tembus 4 Kota dan Retail Modern

24402

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Rengginang Singkong hasil produksi Kelompok Usaha Bersama (KUB) “Teguh Rahayu” Desa Begadon, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kini mampu tembus ke 4 kota dan retail modern setelah mendapat pembinaan operator Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL).

Ketua KUB Teguh Rahayu, Suparno mengaku, Usaha Kecil, Mikro dan Menengah (UMKM) yang dikelolanya meningkat pesat sejak mendapat pembinaan dari EMCL. Jauh berbeda dengan sebelum tersentuh bantuan dari operator lapangan minyak dan gas bumi (migas) Banyu Urip, Blok Cepu, EMCL.

“Sebelum dibina EMCL, dulu omzet kami paling cuma sampai Rp1 jutaan per bulan,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (03/02/2022).

Tak hanya omzet yang kecil, kata Suparno, pemasarannya pun terbatas. Tetapi, berkat sentuhan perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1898 itu, pemasaran produk yang berbahan baku dari singkong tersebut mampu merambah pasar lebih luas.

Bahan baku singkong itu kemudian diolah menjadi beberapa produk. Antara lain rengginang dan emping. Untuk emping ada tiga ragam, yaitu emping singkong, emping waluh berbahan campuran singkong dan waluh (labu kuning), dan emping garut. Semua produk itu berharga eceran sama yakni Rp 10.000, kecuali emping garut yang dibandrol Rp15.000.

Baca Juga :   PT PHI Terus Jalankan Operasi Migas yang Utamakan Selamat dan Berwawasan Lingkungan

Pengolahan yang semula lambat, kini juga menjadi lebih cepat berkat menggunakan peralatan industri rumah tangga dari EMCL. Yakni Langseng (Penanak ukuran besar), parut, bak penampung besar, dan mesin pres kemasan modern.

“EMCL dulu menggandeng Swisscontact saat memberi pembinaan. Sampai kemudian dalam pemasaran dibantu semua oleh Swisscontact. Pernah dibeli 2.000 kemasan, atau Rp20 juta untuk pemasaran,” ujarnya.

Suparno mengaku, tak mau menyia-nyiakan bantuan yang dirasa telah banyak didapat. Kendati, tak semua anggota satu irama dalam berusaha. Namun dia tetap bertahan dan memajukan bisnisnya.

Manfaat bantuan EMCL itu sekarang tak cuma dia rasakan mampu mencukupi kebutuhan sehari sehari. Melainkan mampu membuat bisnisnya berkembang hingga ke manca kota. Suparno menyebut produknya bisa tembus ke 4 kota dan retail modern.

Retail modern yang memasarkan produknya ialah Bravo Supermarket dan Samodra Swalayan di Bojonegoro dan Samodra Swalayan Tuban. Sedangan empat kota yang mengambil secara grosir darinya yakni Tuban, Lamongan, Blora, Ngawi.

“Selain itu juga menyuplai PT Laskar Buah 50 outlet. Pemasaran saya lakukan sendiri sama istri, kalau produksi dibantu satu karyawan,” terangnya.

Baca Juga :   CSR Bidang Pendidikan PT SG di Tuban Rp 5 M Setahun

Omzetnya, kini meningkat tajam sebanyak sepuluh kali lipat sejak 2011, atau sebesar sekira Rp10 juta per bulan. Meskipun sempat tejadi penurunan hingga 50 persen selama terdampak pandemi Covid-19. Strategi saat pandemi ia terapkan dengan cara titip produk atau konsinyasi.

Stok bahan rengginang yang sudah kering siap goreng normalnya antara 15 sampai dengan 20 karung bobot 1 kuintal. Tetapi saat pandemi, Suparno hanya berani menyetok lima karung saja. Stok diperlukan, karena bahan baku tersedia hanya saat musim singkong saja. Sehingga stok harus mampu memenuhi serapan pasar hingga jelang musim berikutnya.

Usaha yang dirintisnya bukan tanpa kendala. Suparno mengaku ia mengalami jatuh bangun dalam menjalankan usahanya. Meski demikian, menurutnya hal itu soal biasa, yang penting harus tetap bangkit kembali.

“Terima kasih EMCL yang telah membina kami, manfaatnya kami rasakan sampai kini,” tutupnya.(fin)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *