Mari Ber-Idul Fitri, Mari Berlebaran

25060

                       Oleh: Kajar Djati 

Setiap orang bisa berlebaran, tapi tak semua orang bisa ber-idul fitri. Begitu dai kondang KH Zainudin MZ membuka tausyiah di satu kesempatan. Dai sejuta umat ini sudah wafat, namun pengajiannya masih banyak disiarkan di berbagai platform media, karena apa yang disampaikan tak lekang oleh zaman.

KH Zainudin MZ membedakan antara idul fitri dan berlebaran. Idul fitri adalah kembali ke fitrah setelah melakukan ibadah puasa sebulan penuh. Ibadah puasa diharapkan bisa menghapus dosa, sehingga saat keluar dari bulan Ramadhan, seseorang akan kembali fitri, kembali suci.

Sedang makna berlebaran lebih pada perayaan. Dan soal perayaan ini, setiap orang pasti bisa mendapatkannya. Siapapun bisa menyalakan kembang api, bersuka cita menyambut lebaran. Siapapun bisa bersenang-senang makan kue lebaran, memberi/menerima angpau saat lebaran.

Ya, begitulah. hari raya idul fitri adalah satu momen yang mempunyai makna banyak.

Pertama makna religius. Hari raya idul fitri berkaitan dengan masing-masing individu. Bagimana pencapaian iman setelah melaksanakan ibadah puasa. Karena puasa hanya diketahui oleh yang bersangkutan dan Allah SWT. Artinya, puasa adalah ibadah tersembunyi yang tak semua orang tahu yang sebenarnya.

Baca Juga :   Pagar Hidup Industri

Kedua makna sosial-ekonomi. Hari raya idul fitri adalah sebuah tradisi yang dirayakan setiap tahun. Siapapun akan merasakan dampak secara sosial-ekonomi dari puasa hingga lebaran. Diantaranya tradisi mudik yang tentu menjadikan perputaran ekonomi begitu pesat. Tradisi baju baru, tradisi kue lebaran, dan tradisi-tradisi lain yang menjadikan pasar dan supermarket begitu ramai.

Merayakan dengan sederhana

Oleh karena itu, seyogyannya kita menjadikan momen Idul Fitri menjadi momen terbaik dalam segala hal. Kita perlu merayakan lebaran dengan cara kita masing-masing. Akan tetapi, cara-cara itu tentu yang mengarah pada usaha untuk meningkatkan spiritualitas. Bukan sebaliknya, menjauh dari apa yang dituntun oleh agama.

Namun, yang lebih penting lagi, momen Idul Fitri adalah momen pendewasaan diri. Yakni momen di mana kita sebagai umat Islam harus menyadari akan adanya perbedaan cara pandang, perbedaan tradisi, dan perbedaan-perbedaan lainnya.

Oleh karena itu, mari kita merayakan Idul Fitri secara sederhana. Masuk pada isi dan tak begitu silau dengan kulitnya. Kita boleh berpawai mengumandangkan takbir, akan tetapi meramaikan masjid dan musholla untuk bertakbir juga sesuatu hal yang mulia. Kita perlu berbelanja kebutuhan lebaran untuk menghormati tamu dan diri kita, akan tetapi beriktikaf dan tadarus di masjid-masjid juga perlu kita lakukan.

Baca Juga :   Jangan Menunggu Kamerad Rusia Datang (2)

Jangan sampai, pada malam takbiran, masjid dan musholla dibiarkan sendiri dalam sepi. Sedang jalan raya, supermarket dan kafe begitu ramai. 

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan dalam hidup kita

kini dan yang akan datang

Amin

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *