Rekind Kembali Sosialisasi Kesiapan Jelang Gas-In di Panggon Sinau Bareng Ademos

IMG_20220714_184622

SuaraBanyuurip.com – Arifin Jauhari

Bojonegoro – Setelah menuntaskan sosialisasi di Bandungrejo dan Gayam, kini kontraktor pelaksana proyek Gas Processing Facility (GPF) Jambaran-Tiung Biru (JTB), PT Rekayasa Industri (Rekind) melanjutkan kegiatan sosialisasi menjelang Gas In di wilayah Kecamatan Purwosari dan Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, yang di pusatkan di Panggon Sinau Bareng Ademos Indonesia, Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kamis (14/07/2022).

Hadir dalam acara silaturahmi dan sosialisasi, perwakilan Camat Tambakrejo, Forkompimca Tambakrejo dan Purwosari, Kepala Desa (Kades) Pelem, Kaliombo, Ngrejeng, Kecamatan Purwosari, dan Kades Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, serta Sosec Driiling Pertamina EP Cepu.

Comissioning Manager PT Rekind, M. Sholeh dalam presentasinya menyampaikan, bahwa Gas In harus disosialisasikan karena ada risiko. Yang mana masing-masing gas itu punya kotoran. Ada yang bisa dimanfaatkan dan ada yang tidak. Selain dari hydrokarbon yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan energi, ada kotoran yang tidak bisa dimanfaatkan, yaitu CO2.

“Kalau CO2 di sini cuma 30 persen. Selain itu ada juga sulfur,” katanya.

Dijelaskan bahwa ada lagi kotoran gas berupa merkuri. Merkuri ini berbahaya. Tetapi kotoran ini di Bojonegoro tidak ada. Untuk gas CO2 diangkat agar terurai di udara. Sedangkan H2S diolah menjadi asam sulfat.

“Gas bertekanan 2.800 diturunkan ke tempat pengolahan di GPF. Ini adalah aset negara. Jadi warga diharapkan bersinergi mengamankan aset nasional ini,” ujarnya.

Sholeh menegaskan, jikalau flare menyala artinya terjadi Safe Guard. Karena terbentuk pengamanan. Jika flare tidak menyala, justru merupakan hal yang perlu dikawatirkan.

Baca Juga :   DPRD Bojonegoro Ingatkan Dana CSR Tidak Boleh Biayai Program Prioritas Pemkab

Selanjutnya, berdasarkan simulasi dispersi gas H2S saat proses start up hasilnya JTB tergolong aman. Tidak ada gas sisa yang jatuh ke permukaan. Namun tetap diperlukan tindakan pencegahan.

“Mengenai temperatur atau suhu, pada radius makin jauh akan terdinginkan oleh udara bebas. Sehingga suhu udara di sekitar area GPF JTB terjaga tetap stabil,” tegasnya.

Sementara itu, Environmental Coordinator, Ilham Akbar menyatakan, Rekind sangat berkomitmen terhadap dampak lingkungan. Sehingga selalu mengukur suhu udara, badan air, dan sebagainya.

Berdasarkan studi, sesuai dalam dokumen AMDAL, ada efek sedikit perubahan suhu di radius sekira 400 meter dimana masuk di area GPF JTB sendiri. Jarak tersebut masih jauh dari pemukiman warga.

Hasil uji udara di sembilan titik tidak ditemukan dan indikasi pencemaran lingkungan. Sebab angkanya jauh berada di bawah ambang batas baku mutu.

“Peralatan canggih pun dipersiapkan agar dapat diketahui lebih dini saat terjadi hal yang bersifat darurat,” ucapnya.

Menyambung perihal gas H2S, Medevac (Medical and Ecaviation) Rekind, dr. Priambodo menjelaskan, bahwa gas H2S lebih berat dari udara. Jika ditinjau dari letak, Purwosari mempunyai ketinggian lebih tinggi dari GPF JTB.

Pria yang akrab disapa Mas Boy ini memberikan petunjuk yang harus dilakukan saat terdeteksi gas H2S. Salah satunya ialah, warga disarankan mencari tempat yang lebih tinggi.

Baca Juga :   Dua Truk Surat Dukungan Nurul Azizah Diserahkan ke KPU Bojonegoro

“Jika dicurigai (ada warga) terpapar H2S, jangan pernah dikasih minum. Karena jika terdorong masuk dalam pencernaan, justru akan terjadi masalah yang serius. Lebih baik pasien diamankan, dan hubungi petugas medis. Masyarakat bisa melaporkan situasi darurat pada layanan pengaduan yang aktif 24 jam,” tandasnya.

Rekind Kembali Sosialisasi Kesiapan Jelang Gas-In di Panggon Sinau Bareng Ademos PT Rekind saat melakukan sosialisasi jelang Gas In JTB di Pendapa Kecamatan Ngasem.

Setelah sosialisasi di Panggon Sinau Bareng Ademos Indonesia, kegiatan serupa juga dilakukan oleh PT Rekind di Pendapa Kecamatan Ngasem. Hadir dalam kegiatan Forpimca Ngasem, Pemdes Bandungrejo, Ngadiluwih, Ngantru, Dukoh Kidul, Mediyunan, BKPH Clangap dan LMDH setempat.

Camat Ngasem, Iwan Sopian mengatakan, bahwa pihaknya bersama forum koordinasi pimpinan kecamatan (Forkopimca) mendukung adanya Gas-In proyek JTB.

“Tentu kami sangat mendukung karena ini adalah proyek negara. Kendati pihak Rekind dan terkait harus betul-betul mengantisipasi segala kemungkinan terjadi dalam pelaksanaan Gas-In nanti,” katanya.

Diharapkan dengan adanya proyek Gas JTB ini nantinya dapat menyejahterakan masyarakat sekitar. Selain itu, Pertamina EP Cepu (PEPC) selaku pengelola proyek Gas JTB untuk tetap mengedepankan tenaga kerja (Naker) lokal terlibat di proyek JTB.

“Setelah PT Rekind selesai kan banyak naker lokal sekitar lokasi habis juga. Jadi PEPC bersama perusahan yang digandeng harus kembali melibatkan mereka sesuai keahliannya masing-masing,” pungkasnya.(fin/sam)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *