SuaraBanyuurip.com – Ahmad Sampurno
Blora – Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) yang dilaksanakan Pertamina EP Zona 11 di wilayah operasinya mampu mengubah perilaku petani.
Mereka perlahan meninggalkan pupuk kimia, dan memilih ke pupuk organik untuk pertanian yang sehat dan ramah lingkungan.
Petani Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, termotivasi untuk bangkit. Guna mendorong kualitas pertanian, warga Sidorejo meyakinkan diri kembali ke pupuk organik, yakni dari kotoran sapi.
“Semula tidak banyak yang mau menggukanan kompos. Kotoran sapi. Sekarang banyak yang mau,” kata Mashuri (60), salah satu petani Sidorejo.
Mashuri menjelaskan, keputusannya kembali ke pupuk organik setelah mengikuti pelatihan dari Pertamina EP Zona 11 tentang pertanian organik. Dari pelatihan itu, ia tahu fungsi dan manfaat kotoran sapi.
“Sekarang ini petani sangat antusias sekali untuk mencari dan mengumpulkan kotoran sapi,” ujarnya.

Dia mencoba untuk mengenali kondisi tanah pertanian. Beberapa kali tanam, selalu gagal. Bisa jadi, ini karena kondisi tanah yang kurang bagus.
“Kesuburan berkurang. Karena sudah terlalu banyak menggunakan pupuk kimia,” jelasnya.
Secara perlahan, petani berangsur mengurangi penggunakan pupuk kimia dan beralih menggunakan pupuk organik. Yakni dengan cara menggunakan kotoran sapi tersebut. Tujuannya agar tanah kembali gembur dan subur.
“Penggunaan pupuk organik juga untuk mengurangi PH tanah. Sekarang ini sudah berada di bawah normal,” katanya.
Pada awalnya memang terasa berat beralih ke pupuh organik. Adanya pelatihan dan pendampingan yang diberikan Pertamina EP Zona 11, kemudian membangkitkan semangat para petani seperti dirinya.
“Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina EP. Awalnya tidak punya ilmu, akhirnya punya ilmunya,” ujarnya.
Selain Mashuri, ada 50 warga Desa Sidorejo yang mengikuti pelatihan bareng.
“Ini bisa berkembang. Dari tetangga ke tetangga lain. Dari yang tidak tahu, akhirnya tertarik,” jelasnya.
Sekarang, warga Sidorejo mulai mempraktikkan ilmu yang diperoleh dari pelatihan. Sebagian warga sudah tanam dengan cara organik.
“Tidak begitu luas. Lahan yang digunakan. Rata-rata sekira 0,2 hektare. Sisanya dengan semi organik,” kata dia.
Keputusan warga untuk beralih dari pupuk kimia ke organik memang dilakukan bertahap. Kini, petani sudah meninggalkan pupuk kimia sebesar 50 persen.
“Kalau ini berhasil, bisa jadi musim tanam berikutnya bisa full organik,” tandasnya.
Dia berharap, dengan cara bertani organik ini bisa mengembalikan kesuburan tanah. Sehingga bisa mengembalikan kejayaan petani seperti dulu.
“Tanah yang rusak bisa pulih kembali. Pada waktu tahun 90’an bisa memenangkan lomba desa hingga sampai Istana Negara,” katanya.
Dengan sistem pertanian organik yang dilakukan warga, hasil produksi padi diharapkan bisa mencapai 10 ton perhektare. Bahkan bisa menyentuh 12 ton perhektare.
“Sekarang satu hektare bisa 5 sampai 6 ton sudah bagus,” kata dia.
Untuk diketahui, Pertamina EP Cepu Zona 11 terus berupaya mewujudkan Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) yang menjadi andalan dalam Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM). PSRLB dinilai lebih tepat sasaran dan tepat guna bagi warga Kabupaten Blora.
Sebelumnya Pertamina sukses merealaisasikan PPM pertanian sehat di Desa Bajo Kecamatan Kedungtuban. Program ini kemudian diduplikasi di Desa Sidorejo. Dengan program ini, dipercaya mampu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan petani.
Pertamina EP Cepu Zona 11 memberi pelatihan PRSLB bagi warga Desa Sidorejo. Pelatihan ini tidak jauh berbeda dengan pelatihan di Bajo, yakni pengelolaan pertanian organik dan obat herbal.(ams)






