Sejarah Panjang Blok Natuna, Pernah Dikelola ExxonMobil dan Kini Akan Dilelang Ulang

FOTO ILUSTRASI : Pemerintah akan melelang ulang Blok Natuna di Kepulauan Riau, dan menargetkan pemenang lelang diumumkan pada Juni 2023.

Suarabanyuurip.com – d suko nugroho

Jakarta – Blok East Natuna di Kepulauan Riau memiliki sejarah panjang. Potensi gas di blok ini luar biasa besar yakni mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF).

Blok East Natuna ditemukan tahun 1973. Blok migas ini sudah berhenti lebih dari 45 tahun setelah dikelola ExxonMobil, perusahaan raksasa migas asal Amerika Serikat. ExxonMobil mendapat hak kelola pada tahun 1980. Namun, karena tidak ada perkembangan, pada tahun 2007 kontrak ExxonMobil di Blok East Natuna dihentikan.

Setahun kemudian, pada tahun 2008, Blok East Natuna diserahkan pengelolaan oleh pemerintah kepada PT Pertamina. Selanjutnya, ExxonMobil, Total dan Petronas, bergabung. Posisi Petronas kemudian digantikan PTT Exploration and Production (PTT EP) tahun 2012. Sayangnya tahun 2017 konsorsium ini bubar dengan alasan tidak ekonomis dan menyisakan PT Pertamina.

Mangkraknya pengelolaan Blok East Natuna ini menjadi perhatian serius pemerintah Indonesia. Melalui Kementerian ESDM, blok migas tersebut akan dilelang ulang. Pemenang lelang ditargetkan bisa diumumkan pada Juni 2023.

Baca Juga :   BUMDes Lirik Peluang Pengelolaan Blok Tuban

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Tutuka Ariadji menyampaikan, pemerintah sekarang masih mempersiapkan lelang ulang Blok East Natuna. Salah satunya menyiapkan insentif yang menarik bagi calon investor, karena blok ini memiliki CO2 lebih dari 70%.

“Kita persiapkan untuk lelang sebelum Juni, sehingga bulan Juni 2023 kita bisa umumkan pemenangnya,” tegas Tutuka.

Mantan Kepala PPSDM Migas itu menjelaskan, Blok East Natuna nantinya akan dibagi 3 wilayah kerja, di mana D-Alpha merupakan blok migas yang paling besar. Cadangan gas di East Natuna merupakan yang terbesar di Indonesia, jumlahnya mencapai 4 kali lipat Blok Masela. Namun kandungan CO2 yang lebih dari 70%, menjadikan blok ini tidak mudah dalam pengelolaannya.

“CO2-nya sangat tinggi, lebih dari 70%. Ini tidak mudah dalam mengelolanya dan untuk itu perlu kita tawarkan tersendiri yang D-Alpha ini ke dunia internasional dan diharapkan sampai ke perusahaan-perusahaan multinasional kelas besar yang mempunyai modal yang kuat, kompetensi tinggi dan berani mengambil risiko,” papar Tutuka dikutip dari laman Ditjen Migas.

Baca Juga :   Proyek Jumelai Onstream, Tambah Produksi Gas Nasional 45 MMSCFD

Blok migas Est Natuna memiliki potensi yang luar biasa besar yakni mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF). Namun demikian, kandungan CO2 pada blok tersebut mencapai lebih dari 70%, sehingga yang bisa dieksploitasi kemungkinan hanya sekitar 46 TCF.

Menteri ESDM Arifin Tasrif sebelumnya mengharapkan penerapan tekonlogi CCS & CCUS dapat menjadi jawaban atas treatment pada kandungan CO2 yang besar pada lapangan migas di Indonesia.

“Kan sudah ada teknologi carbon capture, gas Natuna ini kan 70% CO2 bisa enggak itu nanti kita tawarkan sehingga gasnya bisa diinjeksi,” kata Arifin.(suko)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *