Suarabanyuurip.com – Arifin Jauhari
Bojonegoro – Pemilik PT Bhaskara Sinar Sakti Indonesia, H.M. Suprapto berbagi kiat menuju sukses. Pengusaha tambang batu bara asli putra Bojonegoro ini mengemukakan hal itu saat pulang ke kampung halaman di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Putra asli kabupaten penghasil minyak dan gas bumi (Migas) ini menilai bahwa Bojonegoro memiliki banyak orang-orang sukses. Selain itu juga menyimpan banyak sekali orang pintar. Bahkan ditegaskan jika Bojonegoro tidak kekurangan orang pintar.
“Tapi kata paman saya, dia bilang kalau orang sekolahnya pinter belum tentu waktu kerja bisa sukses,” katanya kepada SuaraBanyuurip.com, Senin (26/06/2023).
Oleh karena itu, saat pulang kampung pada Sabtu (24/06/2023) kemarin, ia mengaku sempat memberikan kuliah umum kepada para mahasiswa di Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) tentang kiat-kiat, bagaimana sekolah pintar, sewaktu bekerja bisa sukses.
Pria asal Desa Karangsono, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro ini menyebut dua buku karangan Dale Carnegie. Yang pertama berjudul “How to Stop Worrying and Start Living” yang sering diterjemahkan secara bebas “Bagaimana Menghilangkan Cemas dan Menikmati Hidup” sebagai sumber wawasan.

Pengusaha Tambang Batu Bara Asli Bojonegoro, H.M. Suprapto Santoso ketika menjadi pembicara dalam acara Talk Show Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri.
© 2023 suarabanyuurip.com/Arifin Jauhari
“Karena orang itu kalau ingin sukses, jangan takut pada yang belum terjadi. Padahal yang kita takutkan itu jarang terjadi. Dale Carnegie berkata bahwa diri anda adalah apa yang anda pikir. Maka berpikirlah sukses, maka anda akan sukses,” ujarnya.
Buku Dale Carnegie ke dua yang menjadi landasan penyampaian pengusaha energik usia 76 tahun ini ialah berjudul “How to Win Friends & Influence The People” yang diterjemahkan “Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain”.
“Apa yang disampaikan Dale Carnegie di buku itu intinya itu sama seperti kata Gus Dur, seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak,” bebernya.
Selain itu, Pembina Ikatan Alumni Lemhanas ini juga menguraikan tiga hal yang menjadi keinginan manusia hidup secara umum. Yakni, dalam hidup orang pasti menginginkan umurnya panjang, badannya sehat, dan hidupnya bahagia.
Guna mencapai tiga keinginan hidup itu, pria yang akrab disapa Pak Totok ini membaginya menjadi 3E. Eat well, sebagai kepanjangan huruf E yang pertama, bermakna memakan makanan yang baik atau yang terbaik.
“Maka di usia 76 tahun seperti saya ini, saya tidak pakai kacamata. Gigi saya juga masih utuh, berkat makan makanan yang terbaik,” ungkapnya.
Sedangkan E yang ke dua adalah Exercise. Maksudnya adalah jangan pernah berhenti bergerak. Prinsip ini membuatnya menolak pensiun, sebagaimana yang dia kutip dari pernyataan Mahathir Mohammad, seorang Perdana Menteri di Negeri Jiran, Malaysia.
Kebiasaannya menjaga kebugaran dan gerak ini, menurutnya membuat dia mampu 15 hari terbang ke 12 kota dan tidak menimbulkan masalah pada kesehatannya.
“E yang ke tiga adalah Enjoy Your Life. Nikmati hidup. Ini saya bagi lagi,” ucapnya.
Cara menikmati hidup menurut Pembina Unugiri Bojonegoro ini, pertama ialah bahagia di rumah tangga. Bagi Totok, meski orang gajinya gede tetapi tidak rukun dalam rumah tangga, maka tidak akan bahagia. Tentu tidak bisa menikmati kehidupan rumah tangga bahagia.
Lalu yang ke dua, dia tuturkan adalah bahagia di tempat kerja. Caranya dengan mencintai apa yang anda kerjakan. Sebaliknya, jika mengeluh, tidak akan merasakan bahagia.
“Ke tiga, bahagia karena banyak kawan. Perbanyak silaturahim. Seperti Firman Allah, orang yang banyak silaturahim akan disehatkan badannya, dimurahkan rezekinya, dan dipanjangkan umurnya. Yang ke empat perbanyak sedekah,” tuturnya.
Meskipun telah sukses, Totok mengaku pernah mengalami kegagalan yang terbesar dalam hidupnya. Yaitu saat diberhentikan dari Akabri tahun 1967. Tak cuma nglokro, bahkan sempat menangis menyesalinya kala itu.
Kendati, saat ini dia justru bersyukur diberhentikan dari pendidikan militer. Karena ternyata di masa depan malah banyak harta yang membuatnya bisa berguna membantu orang banyak. Termasuk di bidang pendidikan, utamanya yang ada di Bojonegoro.
“Saya sering beri bantuan bidang pendidikan, karena saya meyakini Bojonegoro ini gudangnya orang pinter. Ini juga karena saya kelahiran Bojonegoro, saya mencintai Bojonegoro,” tandasnya.(fin)






Bagus pak jangan pernah berhenti berkarya