SuaraBanyuurip.com – d suko nugroho
Bojonegoro – Tragedi meninggalnya Tegar Dwi Prasetiya akibat tersambar petir saat bermain sepak bola di perhelatan Piala Soeratin U-13 memantik reaksi berbagai kalangan. Pegiat sepak bola Bojonegoro mempertanyakan kelayakan stadion Letjen Soedirman yang dijadikan tempat pelaksanaan pertandingan.
“Apakah stadion sudah dilengkapi penangkal petir. Kalau dilengkapi, apakah Dinas Pemuda dan Olahraga atau Dinpora telah mengecek fungsi penangkal, masih berfungsi atau tidak,” kata pegiat sepak bola Bojonegoro, Ali Mahmud kepada suarabanyuurip.com, Senin (6/11/2023).
Ali, sapaan akrabnya, juga mempertanyakan waktu pelaksanaan Piala Soeratin yang diselenggarakan Asosiasi Kabupaten (Askab) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Bojonegoro pada saat memasuki musim penghujan.
“Padahal dalam 12 bulan ada 10 bulan musim kemarau bahkan elnino, namun kenapa Askab baru menggelar program di akhir tahun yang sudah memasuk musim penghujan,” ujar Ali.
Suarabanyuurip.com sedang berupaya mendapatkan konfirmasi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dinpora) Bojonegoro, Amir Syahid terkait pemasangan penangkal petir di Stadion Letjen Soedirman. Pesan WhatsApp maupun panggilan telepon belum mendapat jawaban hingga berita ini diterbitkan.
Begitu juga dengan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang Bojonegoro, Retno Wulandari juga belum memberikan konfirmasinya.
Mantan Pengurus Askab PSSI Bojonegoro Bidang Hukum Hanafi sebelumnya menduga ada unsur kelalaian dalam pelaksanaan Piala Soeratin pada pertandingan antara IM dengan SSB Satria Mandiri di Stadion Letjen Soedirman pada Jumat (3/11/2023) lalu.
“Karena pada saat pertandingan berlangsung kondisi hujan dan disertai petir, namun pertandingan masih terus dilanjutkan. Pertandingan baru dihentikan setelah ada pemain yang tersambar petir,” ujarnya.
Oleh karena itu, Hanafi mendesak Internal Askab PSSI Bojonegoro melalui Bidang Hukum untuk membentuk tim pencari fakta atas kegiatan sepakbola yang menimbulkan korban jiwa. Tim pencari fakta ini bisa melakukan investigasi untuk menggali lebih dalam fakta-fakta yang terjadi di lapangan, mulai dari standar operasional (SOP) pelaksanaan Piala Soeratin hingga kelayakan stadion Letjen Soedirman.
Sehingga, lanjut Hanafi, dari hasil temuan fakta-fakta yang diperoleh tim tersebut dapat dijadikan acuan atau rekomendasi kepada pihak kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
“Jika Askab Bojonegoro tidak melakukannya, maka Asprov PSSI Jatim harus turun tangan menangani ini agar faktanya jelas,” tegas pria yang juga anggota Kongres Advokat Indonesia (KAI) Bojonegoro ini.
Sebagai informasi, Tegar Dwi Prasetiya meninggal dunia pada Minggu (6/11/2023). Pelajar SMPN 5 Bojonegoro ini sempat mendapat perawatan intensif di rumah sakit selama tiga hari setelah tersambar petir saat membela klubnya, Indonesia Muda (IM) di ajang Piala Soeratin pada Jum’at 3 Nopember 2023.
Tegar, panggilan akrabnya, mengembuskan nafas terakhirnya di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro pukul 21.00 Wib. Kabar meniggalnya Tegar membuat dunia sepak bola Bojonegoro berduka.
Tragedi meninggalnya Tegar terjadi saat IM melawan SSB Satria Mandiri dari Kecamatan Purwosari. Ketika pertandingan berlangsung, kondisi sedang hujan lebat disertai angin kencang dan petir.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro, Ardhian Orianto mengatakan, korban tersambar petir diperkirakan pukul 14.20 siang Jumat kemarin.
“Saat itu hujan deras disertai angin kencang dan petir,” ujar Ardhian.(suko)





