SuaraBanyuurip.com – Paijan Sukmadikrama
Tuban – Mengunggah informasi atau kabar bohong alias hoaks di media resmi dan sosial, sama halnya menyebar jariah keburukan terhadap dirinya sendiri. Oleh sebab itu setiap orang diminta harus selalu teliti dan tabayyun, agar tak lagi termakan informasi yang tidak benar.
“Sebagaimana isi dari kitab suci Alquran, kita itu juga diperintah untuk melakukan tabayyun,” kata Plt Kepala Kemenag Tuban, Moh Qosim, saat pembukaan Sekolah Periksa Fakta dan Keamanan Digital di MA Islamiyah, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu (25/11/2023).
Perhelatan yang diikuti para pelajar tingkat SMA/SMK/MA ini merupakan titik ketiga yang digelar Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban, Pertamina EP Field Cepu, Kantor Kemenag Tuban, dan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jatim yang membawahi Kabupaten Bojonegoro dan Tuban. Selain Moh Qosim, tampak hadir dalam kegiatan itu, Ketua RPS Khoirul Huda, perwakilan dari Pertamina EP Field Cepu dan Pertamina Field Sukowati, dan Kepala MA Salafiyah, H Ahmad Mustain.
Moh Qosim menyadari jika pelatihan cek fakta dan keamanan digital sangat penting. Apalagi disaat memasuki tahun politik, tentu informasi hoax akan semakin bertebaran melalui berbagai saluran, termasuk media sosial yang berbasis digital.
“Sekarang segala informasi dapat dengan mudah masuk di gadget kalian, itu tidak semuanya benar,” ujar Moh Qosim dihadapan peserta pelatihan.
Oleh karena itu di tengah informasi yang berpotensi hoaks tersebut, perlu ada klarifikasi atau tabayyun. Bentuk tabayyun-nya, diantaranya, seperti pelatihan cek fakta ini. Melalui cara seperti inilah kita tidak mudah terjebak oleh datangnya informasi palsu.
“Karena ketika kita menyebarkan informasi hoaks, sama saja kita mengantarkan dosa ke pihak lain. Itulah nantinya akan menjadi jariyah dosa,” tegas Moh Qosim.
Sementara itu H Ahmad Mustain mengatakan, isi dari kegiatan yang dilakukan RPS bersama stakeholder mitranya ini merupakan ilmu yang sangat dibutuhkan, apalagi kalangan remaja yang tidak asing dengan dunia digital. Tentunya selalu bersinggungan dengan berbagai informasi entah itu benar atau hoaks.
‘”Ini ilmu yang penting, dan juga pelajaran yang tidak ada di kelas, jadi harap diperhatikan dengan baik,” kata Ahmad Mustain.
Ia tambahkan, di era serba canggih dengan teknologi siber ini satu pencetan di gadget akan sangat berpengaruh. Ketika pencetanmu berisi kebaikan dan jujur, maka akan jadi amal baik. Akan tetapi jika yang dipencet itu hoaks, itu nantinya akan menjadi amal jariyah buruk.
Pria berkacamata minus ini mengucapkan terima kasih pada RPS, karena MA Islamiyah dipercayakan jadi tempat sekolah cek fakta dan keamanan digital. “Kami bangga. Anak-anak kami diajarkan ilmu yang di sekolah belum diajarkan,” pungkasnya.
Sedangkan Khoirul Huda menyatakan, pelaksanaan pelatihan berbasis internet ini merupakan tanggung jawab di bidang edukasi dari profesi jurnalis. Selain sebagai kontrol dan memberikan edukasi melalui pemberitaan.
“Kami juga memberikan edukasi dengan menyentuh ke siswa sebagai calon penerus,” ujar Khoirul Huda.
Dilain sisi setelah keluarnya UU Nomor: 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), banyak masyarakat yang terjerat hukum karena ketidaktahuan. Makanya kami prihatin, dan mencoba memberikan edukasi kepada publik tentang pentingnya menyaring informasi yang benar. Sekaligus turut serta melawan hoaks.
RPS dan para stakeholder yang terlibat menyuport kegiatan berharap, setelah ini peserta yang mengikuti pelatihan bisa menjadi duta anti hoaks. Sekaligus membagikan ilmu dari pelatihan kepada kawan-kawannya.
Sementara itu, Yeri Usianawati dari perwakilan Pertamina EP Cepu mengatakan, kegiatan yang didukung Pertamina EP Cepu sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat di sekitar operasi Pertamina. Salah satunya dengan kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah sekitar operasi.
”Kami ucapkan selamat mengikuti pelatihan.Semoga bermanfaat untuk adik-adik semua,” imbuhnya. (pay)