SuaraBanyuurip.com – Perajin akar Jati di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur masih kesulitan memasarkan hasil kerajinannya. Mereka sebagian besar masih menggantungkan pemasaran dari pesanan. Teguh Haryono, Calon legislatif (Caleg) DPR-RI PDI Perjuangan dari Dapil IX Bojonegoro dan Tuban, telah menyiapkan program kemandirian perajin agar mereka bisa melakukan penjualan sendiri, bukan tergantung dari pesanan.
Bojonegoro adalah salah satu kabupaten penghasil jati terbaik di Indonesia. Berbagai kerajinan bisa di buat dari kayu jati seperti furniture, selain untuk kebutuhan membuat rumah tinggal.
Tidak hanya pohan jati yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan, namun akar jati atau masyarakat lokal menyebutnya tunggak jati bisa disulap menjadi kerajinan unik dan memiliki nilai ekonomi tinggi.
Kerajinan limbah akar jati banyak digeluti warga Bojonegoro bagian barat. Tepatnya di wilayah Kecamatan Ngraho dan Margomulyo. Kerajinan ini telah merambah pasar hingga luar negeri.
Salah satunya Toni, warga Desa/Kecamatan Ngraho. Ia bersama pekerjanya mampu membuat berbagai kerajinan, mulai dari vas bunga, asbak, piring tempat buah, tempat air minum, cobek dan banyak lagi.
Harga kerajinan limbah akar jati ini mulai dari Rp 20 ribu sampai ratusan ribu rupiah. Harga ini tergantung bentuk dan tingkat kesulitan.
Toni mengatakan, produk kerajinannya untuk saat ini dibeli oleh pengepul, sehingga ia tidak perlu pusing untuk memasarkan dan menjual hasil kerajinannya tersebut.
“Saya bikin ini sesuai pesanan, nanti ada pengepul yang ambil,” ujarnya.
Toni berharap ada bantuan pemasaran agar bisa memproduksi kerajinan akar jati lebih banyak lagi dan tidak hanya tergantung sesuai pesanan. Sebab, perajin tidak memproduksi jika tidak ada pesanan.
“Ini yang dibutuhkan perajin. Sehingga omset penjualan bisa meningkat,” ucapnya.
Menggapi hal itu, Teguh Haryono, Calon legislatif (Caleg) DPR-RI PDI Perjuangan dari Dapil IX Bojonegoro dan Tuban telah menyiapkan sejumlah program untuk membantu agar perajian mandiri dalam memasarkan produk kerajinannya. Yakni melalui program pelatihan digital makerting agar pemasaran menjangkau lebih luas lagi.
“Sekarang ini eranya digital. Konsumen lebih banyak menggunakan gadget untuk mencari sesuatu yang dibutuhkan,” ujar Mas Teguh.
Selain itu, lanjut Mas Teguh, perlu dibentuk sebuah paguyuban perajin akar jati agar memudahkan mereka berjejaring. Juga menyelanggarakan pameran dan menjadikan sentra kerajinan sebagai wisata edukasi.
“Dengan begitu akan banyak pengunjung yang akan datang ke lokasi sentra kerajinan, sehingga akan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat,” pungkas Mas Teguh.(red/adv)






