Mas Teguh Dorong Produksi Marning di Bojonegoro Pakai Alat Pemanas Agar Hasilnya Maksimal

Mas teguh.
Teguh Haryono atau Mas Teguh, Caleg DPR RI PDI Perjuangan Dapil IX saat mengunjungi perajin camilan marning jagung Desa Gunungsari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Usaha camilan marning jagung di Desa Gunungsari, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, masih terkendala alat produksi. Produksinya tidak bisa maksimal saat musim penghujan, karena rebusan jagung hanya mengandalkan sinar matahari.

Ngatening (70), adalah salah satu perajin marning jagung di Desa Gunungsari. Ia sudah merintis usaha camilan legendaris ini sejak empat tahun lalu, saat musim kemarau dimana kondisi panas stabil.

Dalam sehari, Ngatening mengaku bisa memproduksi marning jagung hinga 15 Kg – 25 Kg. Namun saat musim hujan produksinya tidak menentu karena tidak bisa mengeringkan rebusan jagung.

“Nek pas tigo niku lumayan mas iso 15 kilo sampek 25 kilo, nek musim udan ora pasti, (Kalau musim kemarau lumayan mas, bisa 15 Kg – 25 Kg, tapi kalau musim hujan tidak pasti),” ungkap Mbah Ngatening dengan logat Jawa.

Menurutnya, bahan baku jagung mentah sangat melimpah, namun harganya naik turun. Harga untuk saat ini Rp. 6000 / Kg. Harga ini dinilai cukup tinggi.

Baca Juga :   HUT KE-79 RI, Perum Bulog Bojonegoro Gelar Program Bulog Siaga Merdeka

“Pinginnya harganya segera turun,” ucapnya.

Mbah Ngatening menjual harga marning Rp 5.000 per bungkus. Camilan tersebut dijual di sekitar Baureno dan Babat. Meski keuntungannya kecil, namun sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Problema yang dihadapi pelaku usaha camilan marning jagung ini ditangkap Teguh Haryono, calon legislatif (Caleg) DPR RI PDI Perjuangan Daerah Pemilihan (Dapil) IX (Bojonegoro dan Tuban), untuk memberikan solusi. Pria ramah yang akrab disapa Mas Teguh ini mendorong produksi marning memakai alat pemanas agar hasilnya maksimal.

Menurut Mas Teguh, jika perajin marning jagung tidak memiliki alat pemanas dan bergantung pada cuaca tentu merugikan. Sehingga perlu solusi untuk mengatasinya, salah satunya memanfaatkan teknologi, yaitu bisa dengan membuat alat pemanas agar kapasitas produksi tetap terjaga.

“Harus ada solusi bagi usaha kecil ini, agar produksi stabil, masalah yang dihadapi adalah pada proses pengeringan, maka harus pakai alat pengering seperti oven,” ujar Mas Teguh saat berkunjung di produksi camilan marning Desa Gunungsari Kecamatan Baureno.

Baca Juga :   Besok, KPU Bojonegoro Distribusikan Logistik Pilkada 2024

Camilan marning jagung yang renyah dan gurih ini menjadi favorit Mas Teguh sejak kecil, karena rasanya enak dan harganya terjangkau. Marning jagung dulu merupakan camilan masyarakat di desa.

“UMKM seperti mbah Ngatening ini harus disupport oleh pemerintah, ini adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan, ada ribuan masyarakat yang mengantungkan hidup dari usaha ini,” pungkas Mas Teguh. (red/adv)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Komentar

  1. Saya ingin mulai usaha membuat marning jagung namun kalau kendala pengering atau oven pengering pada musim penghujan harus punya belum mampu dan penjualannya pun belum tahu barangkali mas teguh bisa membantu niat saya ini ….