Mancari Pemimpin yang Support Literasi

Usman Roin.
Usman Roin

Oleh: Usman Roin

PERHELATAN pemilihan kepala daerah (Pilkada) tidak terkecuali Bojonegoro, mulai terlihat para bakal calonnya. Jujur, tulisan ini ingin mengajak pembaca, untuk mengamati sejauh mana calon-calon yang bermunculan tersebut, punya perhatian tinggi terhadap literasi dalam hal ini membaca.

Terlebih, kemarin Jumat (17/5/24), baru saja kita memperingati hari buku nasional (Harbuknas). Tentu peringatan itu bukan sekadar sebaran flayer sebagai bentuk pengingat hadirnya momen. Lebih dari itu, bagi penulis, para calon pemimpin yang akan maju di Pilkada, sejauh mana memiliki empati lebih keberadaan literasi di Kota Ledre ini.

Perlu diketahui, keberadaan toko buku sejauh penulis ketahui baru ada tiga yang kentara dan familier dikunjungi. Yakni, Toga Mas, Toko Buku Nusantara, serta Toko Buku Pustaka 2000. Jika demikian, tentu yang menjadi PR adalah bagaimana calon pemimpin masa depan Bojonegoro, betul-betul peduli literasi agar kehadiran toko buku yang telah ada tidak kembang kempis.

Dari sisi komunitas literasi, calon pemimpin masa depan Bojonegoro juga harus merespon cepat, dan welcome terwadahi. Bila perlu mensuport kegiatan yang mendukung pengembangan literasi secara masif dari kota hingga desa. Apalagi, masing-masing desa sudah ada Perpusdes. Hanya saja, keberadaannya perlu selalu diperhatikan, sudah optimal berjalan atau belum.

Revitalisasi

Guna mewujudkan literasi, calon pemimpin Bojonegoro kiranya bisa me-nompo hal-hal berikut: Pertama, bagi penulis bisa diawali dari revitalisasi fisik perpustakaan daerah (Perpusda). Beberapa kali penulis memang menyambangi keberadaan Perpusda. Hanya saja tempat yang kurang luas, menjadikan koleksi dan ruang-ruang yang diperlukan untuk kegiatan literasi kekinian kurang memadahi. Apalagi, bila kemudian kegiatan literasi mau disentral di Perpusda. Lagi-lagi faktor tempat jadi kendala.

Baca Juga :   Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan Kaji Desa Ring Migas Bojonegoro

Belum lagi keberadaannya yang di belokan jalan, sepertinya kurang representatif bilamana ada kunjungan sekolah dalam jumlah yang besar untuk kemudian mengakhirinya dengan berswafoto. Karenanya, revitalisasi keberadaan Perpusda ingin penulis lihat, ada greget untuk membesarkan secara fisik atau tidak para calon pemimpin Bojonegoro yang akan maju, guna menumbuh suburkan literasi utamanya membaca serta lainnya secara komprehensif.

Kedua, dari sisi kehadiran percetakan di Bojonegoro, keberadaannya juga perlu ditumbuh suburkan. Terlebih, di Bojonegoro sendiri sudah banyak berdiri perguruan tinggi (PT). Belum lagi keberadaan pondok pesantren yang semakin banyak, sekolah, serta madrasah yang juga berkembang tidak sekadar menor secara fisik, tetapi juga sudah memperhatikan sisi kualitas.

Jika demikian, kehadiran percetakan di Kota Migas ini perlu dipertimbangkan. Agar manakala lembaga pendidikan tersebut mau membukukan karya berbentuk buku, tidak lantas ordernya di luar kota. Melainkan di negeri sendiri -Bojonegoro- yang dari sisi ekonomi akan menyerap lapangan tenaga kerja.

Hal yang lain, bila terdapat percetakan sendiri di Bojonegoro, maka karya-karya warga Bojonegoro akan tumbuh subur baik fiksi maupun nonfiksi. Kemanfaatan lainnya, lokalitas sejarah Bojonegoro akan mengalami peningkatan kajian, mulai dari kota sampai desa. Dengan demikian, karya buku warga Bojonegoro bisa mendunia, tidak kalah dengan para penulis kenamaan yang telah digandrungi penikmat buku zaman kini.

Ketiga, kehadiran toko buku diperbanyak. Hal itu memberi manfaat, bilamana iklim literasi di Bojonegoro ini mau dihidupkan, kebedaraan toko buku yang ada perlu ditambah. Tujuannya, agar semakin banyak kantong-kantong terdekat orang ingin membeli buku dari berbagai wilayah yang ada di Bojonegoro.

Baca Juga :   Perkeja Menang Tipis Lawan Areta di Turnamen Gayam Cup II

Keempat, optimalisasi keberadaan Perpusdes. Hal ini dalam pandangan penulis, Pemdes seharusnya tergerak bila besaran dana desa (DD) yang diterima, bisa dianggarkan untuk membuat Perpusdes yang memadai. Dari yang belum ada didirikan. Adapun yang sudah ada, tinggal dioptimalkan pelayanan dan kefungsiannya.

Jika hal tersebut terlaksana, hal itu akan menahbiskan, Balai Desa bukan sekadar tempat untuk meminta rujukan surat belaka. Balai Desa harus diubah konotasinya sebagai tempat baca masyarakat. Salah satunya, dengan menyediakan ruangan khusus pendirian Perpusdes.

Pendirian Perpusdes ditekankan, agar Balai Desa tidak hanya buka sesaat dalam memberikan pelayanan. Kemudian tutup, dan sepi. Tetapi, ada layanan baca agak panjang durasinya yang disediakan untuk menampung kebutuhan masyarakat baik anak-anak, remaja, pemuda, bapak-bapak dan ibu-ibu dalam hal membaca.

Tentu, sedikit uneg-uneg penulis di atas sebenarnya ingin mengingatkan kepada calon pemimpin untuk peduli kepada literasi -baca- calon warga masyarakat yang akan memilih. Karena penulis yakin, bila mana masyarakat mengerti banyak hal dari hasil membaca, tentu kehadirannya akan ikut menyukseskan pembangunan daerah yang akan dicanangkan pemimpin terpilih kelak.

Semoga para calon pemimpin Bojonegoro, memperhatikan hal kecil dari gagasan penulis ini. Amin ya rabbal ‘alamin.

Penulis adalah Pegiat Literasi, Pembina Lembaga Pers Mahasiswa Spektrum, UKM Penalaran dan Penulisan Griya Cendekia serta Dosen Prodi PAI Unugiri.

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Google News SUARA BANYUURIP
» dan Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *