SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Dua organisasi pencak silat aliran “Setia Hati” (SH) di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tanggap terhadap konstelasi politik yang sedang berjalan. Kedua organisasi itu, baik SH Terate maupun SH Winongo sepakat mengajak warganya dan masyarakat pada umumnya agar menjaga Bojonegoro aman, nyaman, dan damai menjelang Pilkada 2024.
Hal tersebut disampaikan oleh masing-masing pemimpin organisasi pencak silat yang keilmuannya sama-sama mengajarkan kebatinan SH berasal dari Ki Ngabehi Soerodiwirjo.
Ketua Persaudaraan SH Terate Cabang Bojonegoro Pusat Madiun, Wahyu Subakdiono, mengajak kepada masyarakat Bojonegoro untuk saling bergandengan tangan dan juga menjaga keharmonisan dalam mendukung pasangan calon masing-masing.
Pendekar tingkat II SH Terate yang karib disapa Kangmas Wahyu ini juga berharap agar jangan sampai ada perselisihan atau saling membenci antar pemilih yang tergabung dalam kelompok-kelompok pendukung maupun non afiliasi.
“Mari berpolitik dengan santun mendukung dengan damai dan bahagia, jangan sampai ada yang saling membenci apalagi bermusuhan bahkan saling menyerang baik dengan ujaran kebencian maupun saling menjatuhkan,” kata Kang Mas Wahyu, Minggu (21/7/2024).
Disampaikan pula bahwa perbedaan adalah hal wajar, namun menjaga persaudaraan untuk selalu menjaga keharmonisan dan kerukunan merupakan sebuah keharusan, dan jangan sampai terpecah belah dan tetap bersatu.
Oleh sebab persatuan menurut pesilat sepuh yang purna tugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu, akan menjadikan sebuah kekuatan dalam hidup sosial bermasyarakat.
“Terlebih anggota perguruan pencak Silat justru harus menjadi contoh yang baik dan bisa jadi penengah jika ada gejolak di masyarakat, baik gejolak di dunia nyata maupun di dunia maya,” ujar seniman yang menyukai bonsai ini.
Senada, Ketua Cabang Persaudaraan SH Winongo Tunas Muda Cabang Bojonegoro, Sasmito Anggoro, pun mengajak masyarakat bersama sama untuk selalu menggunakan akal sehat dan juga dengan kepala dingin dalam menyikapi segala sesuatu polemik yang ada dan agar tidak menggunakan emosi yang dapat menimbulkan hal-hal yang kurang baik di masyarakat.
Saling menjaga hubungan, komunikasi, toleransi, dan juga saling merangkul antar masyarakat agar Bojonegoro bisa terjaga dengan aman, kondusif, damai, dan juga adem.
“Kerugian terbesar dalam proses politik, adalah ketika saling menjatuhkan, saling bermusuhan, saling menghina dan saling menghujat, maka dari itu mari bergandengan tangan untuk membuat Bojonegoro tercinta ini adem, sejuk, dan juga damai dalam sebuah persaudaraan,” tutur pria yang juga seorang jurnalis ini.
Menurut Sasmito, untuk saling menjaga Bojonegoro, jangan sampai ada yang terpancing dalam sebuah statement melalui komunikasi atau media sosial yang sengaja dibuat oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab yang juga menyebarkan hoax, ujaran kebencian, permusuhan, dan juga provokatif. Hal itu tidak perlu ditanggapi dengan balasan yang sama, namun Sasmito mengajak untuk ditanggapi dengan baik dan diingatkan dengan santun.
“Ayo kita berpolitik dengan santun, dan juga tebarkan kedamaian di masyarakat, agar Bojonegoro tercinta terjaga dengan baik dan suasananya sejuk,” tandas Sasmito.(fin)






