SuaraBanyuurip.com – Paijan Sukmadikrama
Tuban – Sayup-sayup suara takbir di hari ketiga lebaran dari surau di sudut Desa Temayang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, Jawa Timur tampaknya mengiringi perjalanan, Junaidi (50), menghadap Sang Khaliq, Rabu (2/04/2025).
Lelaki paruh baya asal desa tersebut, nekat mengakhiri hidupnya di pagi hari dengan cara gantung diri. Ada dugaan aksi nekat tersebut, akibat sakit ambeien akut yang tak kunjung sembuh.
Apalagi setelah rangkaian upaya berobat mulai dokter, pengobatan alternatif, dan para orang pintar tak membuahkan hasil. Selain itu, Lik Jun, demikian sebagian warga Temayang akrab menyapanya, dalam setahun terakhir juga menderita sesak nafas. Mengi, begitu sebutan lain dari sesak nafas, yang diderita petani ladang kering, hampir setiap menjelang Magrib kambuh.
“Ia adalah orang baik, kami tak menyangka jika hidupnya harus berakhir seperti itu,” kata sejumlah warga dari desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani itu.
“Sesuai hasil pemeriksaan medis dan olah TKP (tempat kejadian peristiwa), penyebab meninggalnya korban karena gantung diri,” kata Kapolsek Kerek, Iptu Kastur, saat dikonfirmasi jurnalis.
Sejumlah warga menyatakan, Junaidi telah lama mengeluhkan penyakit yang dideritanya. Rangkaian ikhtiar berobat yang dilakukannya tak membuahkan hasil sesuai harapan.
Yang pasti tragedi berdarah tersebut menggegerkan warga Temayang, disaat mereka menyambut hari kemenangan setelah sebulan menjalankan ibadah Puasa Ramadan. Anjangsana diantara sanak dan kerabat, terhenti begitu tersiar kabar ada tetangganya meninggal secara tragis.
Di hari kematiannya, pada pagi hari Junaidi sempat meminta anak perempuannya agar dibelikan air kepala. Belum sempat sang anak berangkat menuruti permintaan orangtuanya, karena harus menyelesaikan mencuci pakaian.
Di saat itu pula, ayah tiri Junaidi datang. Orang tua ini bermaksud mengajak berunding, tentang persiapan berangkat berobat ke Dusun Borokembang, Desa Waleran, Kecamatan Grabagan, Tuban. Sayangnya upaya itu tak terlaksana, lantaran raga Junaidi ditemukan tergantung di dapur.
Ia menggunakan tali tampar warna biru dengan panjang sekitar 1,3 meter untuk mengikat lehernya. Tampar plastik itu diikatkan pada kuda-kuda dapur. Sesuai olah TKP, dan hasil pemeriksaan medis, korban memang meninggal dunia karena gantung diri.
Hal itu dibuktikan dengan ciri-ciri seperti tulang lehernya patah, lidah tergigit, dan keluar sperma dari alat vitalnya. Selain itu terdapat pendarahan dari anus akibat ambeien yang lama dideritanya.
“Tak ada tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban,” tutur polisi nomor wahid di jajaran Polsek Kerek yang membawahi 17 desa tersebut.
Kepada tenaga medis datang di TKP keluarga korban mengonfirmasi, bahwa Junaidi belakangan sering mengeluhkan sesak nafas di setiap menjelang Magrib. Mereka tak tega melihat penderitaan Junaidi yang kesakitan, akibat sesak nafas disetiap rembang petang.
Pihak keluarga juga tak menampik, jika korban sudah lama menderita sakit ambeien. Mereka juga menduga, faktor kesehatan yang memantik pria setengah abat itu nekat mengakhiri hidupnya.
Di balik tragedi yang menimpa warga dari desa yang dihuni sekitar 2.100 jiwa, tersebar di Dusun Temayang (Krajan) dan Dusun Mayangsari itu, menurut Kapolsek Kastur, terdapat hikmah yang bisa dipetik. Setidaknya setiap orang yang menderita sakit, sangat butuh dukungan moral maupun psikis agar tak sampai berbuat nekad.
“Dukungan terbaik terhadap orang sakit adalah dari orang-orang di dekatnya, baik itu tetangga maupun keluarganya.” Demikian ujar Kapolsek Kastur. (jan)
