SuaraBanyuurip.com – Sasongko
Bojonegoro – Sejak H+4 lebaran idulfitri 1446 Hijriah harga janur kelapa di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur melambung tinggi hingga menjelang Lebaran Ketupat atau tradisi kupatan 2025 yang akan dilaksanakan pada H+ 7 atau Minggu (6/4/2025). Harga satu ikat berisi 10 helai janur sebesar Rp10.000.
Meski mahal, sebagian besar warga di daerah penghasil minyak dan gas bumi (Migas), sebutan lain Kabupaten Bojonegoro tetap membelinya baik di pasar tradisional maupun yang dijual oleh pedagang sayur keliling. Lebaran Ketupat sudah menjadi tradisi bagi warga masyarakat.
Kegiatan ini dilaksanakan setiap H+7 Idulfitri. Beberapa warga di pedesaan, pada pagi hari Lebaran Ketupat biasanya menggelar hajatan yang dipusatkan di rumah tokoh masyarakat, dan ada juga yang di musala atau masjid untuk kemudian dimakan bersama.
“Setiap satu tahun sekali buat ketupat dan lepet untuk dimakan bersama keluarga dan dibagikan ke saudara. Tradisi kupatan ini sejak dulu selalu dilakukan oleh warga,” kata warga Desa Butoh, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Suradi kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (05/04/2025).
Harga janur kelapa, kata dia, satu ikat berisi 10 helai janur di pedagang keliling harganya Rp10.000. Kendati warga tetap membelinya karena janur kelapa memang sulit didapatkan. Mayoritas warga sejak H+4 lebaran idulfitri hanya membeli janur saja, dan tidak selongsong ketupat yang sudah jadi. Karena rata-rata warga bisa membuat sendiri selongsong ketupat.
“Harga segitu tidak masalah tetap saya beli, karena di sini memang sulit nyari janur, sudah tidak ada pohon kelapa. Lagian juga setahun sekali buat ketupat dan lepet, ” imbuhnya.
“Pada pagi hari Lebaran Ketupat biasanya warga menggelar hajatan di rumah tokoh masyarakat, ada juga yang di musala dan masjid,” tandasnya.
Sementaraa salah seorang pedagang sayur, Duwik mengaku, selain menjual sayur, setiap tahun aktivitas menjual janur kelapa juga dilakukan. Seperti biasa, setiap pagi sehabis salat subuh berangkat ke pasar Ngasem untuk membeli (kulak) sayur dan janur. Seikat janur berisi 10 helai harganya Rp 9.500. Kemudian dijual ke warga yang sudah pesan janur seharga Rp10.000.
“Sebelumnya saya pesan juga ke temen yang biasa jual janur di pasar. Jadi tinggal beli tidak perlu repot repot nyari kesana kemari. Saya juga tiidak berani ambil banyak, alhamdulillah selalu habis dibeli warga,” ucapnya.
“Aktivitas musiman ini sudah saya jalankan setiap tahun menjelang kupatan untuk menambah penghasilan,” imbuh pedagang sayur keliling yang juga warga Desa Butoh ini.
Untuk diketahui kupat dibuat dari beras, dinikmati dengan sayur kuah santan. Sedangkan lepet dibuat dari bahan ketan dicampur parutan kelapa dan beberapa bumbu.(ko)
