SuaraBanyuurip.com – Edi Supraeko
Bojonegoro – Salah satu rumah di ring satu Lapangan Minyak Banyuurip, Blok Cepu, di Desa Mojodelik, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terancam longsor. Karena khawatir ambruk, rumah tersebut pagi tadi, Rabu (19/4/2017), dibongkar pemiliknya.
Rumah tersebut milik Wasi (48), warga RT. 08 RW 02 Dusun Rambitan. Rumah berukuran 8 x 9 meter yang dihuni empat jiwa itu terletak dekat dengan bibir Sungai Gandong yang saat ini mengalami ambles akibat semalam diguyur hujan deras.
“Sejak semalam kami sekeluarga merasa khawatir dan cemas, apalagi hujan deras,” kata Wasi di temui suarabanyuurip.com.Â
Untuk menghindari bencana terjadi, akhirnya warga yang tergolong keluarga kurang mampu (Wasi,red), itu membongkar rumahnya. Pembongkaran rumah dibantu dengan warga sekitar.
“Takut rumahnya ambruk, jadi saya bongkar,” ucapnya.
Selama ini rumah tersebut menjadi tempat berteduh Wasi. Dia hanya memiliki satu rumah dan tidak memiliki tanah lainnya.
Kondisi ini mengundang perhatian pemerintah desa setempat. Kepala Desa Mojodelik, Yuntik Rahayu di dampingi perangkatnya dan Babinsa setempat, Serma Sapari, meninjau rumah Wasi.
Melihat kondisi tersebut, Kepala Desa Yuntik Rahayu mengaku prihatin dengan kondisi keluarga dan rumah yang ditempati Wasi. Karena Wasi tidak memiliki tanah sebagai tempat pengganti.Â
“Kita akan memberi bantuan berupa material batu kumbung, pasir dan semen. Diharapkan gotong royong warga sekitar turut serta untuk membantunya,” harap Yuntik saat meninjau rumah Wasi.
Setelah diadakan musyawarah bersama di tingkat pemerintah desa, akhirnya Saben yang merupakan anak dari  Warmi, saudara Wasi, mau merelakan tanahnya untuk ditempati. Lokasinya berada dekat dengan lokasi rumah Wasi sebelumnya.Â
“Akhirnya, rumah baru dibongkar separo dan akan dipindah setelah tempat penggantinya siap ditempati. Karena masih banyak pohon jati yang masih perlu ditebang dan perlu pembersihan,” pungkas Yuntik.
Camat Gayam, Hartono mengaku telah menerima laporan adanya satu rumah di wilayahnya yang terancam longsor. Saat ini pihaknya menunggu laporan tertulis dari pemerintah desa untuk dilaporkan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro.
“Segera kita laporkan ke BPBD,” pungkas Hartono dikonfirmasi terpisah melalui telepon genggamnya.(edi)Â