Suarabanyuurip.com – M. Alamsyah Syafifudin
Bojonegoro – Tradisi sedekah bumi atau nyadran hingga kini masih dipertahankan oleh warga desa sekitar ladang minyak dan gas bumi (Migas) Banyu Urip, Blok Cepu dan lapangan gas Jambaran-Tiung Biru (JTB). Diantaranya warga Desa Mojodelik, Desa Gayam, dan Desa Katur, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Warga desa ring satu, dan penghasil Migas Blok Cepu itu tetap menguri-uri peninggalan nenek moyangnya dalam setiap tahunnya. Yakni melakukan sedekah bumi di Makam Dusun Mojo, dan Sendang Lego di Dusun Ledok, Desa Mojodelik dengan hiburan wayang krucil. Kemudian di Sendang Jeruk, Desa Katur, dengan hiburan wayang kulit, serta di Sendang Gedhe dan Sendang Tangar, Dusun Gayam, Desa Gayam, dengan pertunjukan wayang thengul, Jumat (30/05/2025).
Mereka berbondong-bondong datang di tempat yang disakralkan di desa masing-masing sambil membawa tumpeng dan melakukan ritual dengan membaca doa-doa yang dipandu oleh sesepuh desa setempat. Setelah itu, warga ramai-ramai membuka tumpeng untuk di makan bersama-sama.

“Ini sebagai bentuk puji syukur kepada Allah SWT atas sumber air Sendang Jeruk yang tidak pernah habis atau kering meski musim kemarau,” kata Kepala Desa (Kades) Katur, Sukono kepada Suarabanyuurip.com usai kegiatan sedekah bumi.
Dijelaskan, bahwa sedekah bumi ini dilakukan setiap tahun sekali dengan hiburan Wayang Kulit. Menurut cerita, Sendang Jeruk ini dulu sebagai tempat warga untuk memenuhi kebutuhan hidup berupa air saat musim kemarau. Baik itu untuk mandi, minum maupun lainnya karena sumbernya tidak pernah habis.
“Biasanya kegiatan ini dilakukan pada hari kamis legi kemarin, karena ada beberapa hal, jadi baru hari ini jumat pahing dilaksanakan. Sedekah bumi ini merupakan budaya warisan nenek moyang yang tak bisa ditinggalkan dan harus dilestarikan seperti yang dilaksanakan oleh para leluhur terdahulu,” ujarnya.
Senada diungkap Kades Mojodelik, Hj. Yuntik Rahayu. Dia mengaku, sedekah bumi yang diselenggarakan bersama warga masyarakat Mojodelik setahun sekali usai panen, tepatnya di Hari Jumat Pahing. Hal ini sebagai bentuk wujud syukur kepada Allah SWT. Serta melestarikan peninggalan para leluhur dahulu, menjaga budaya dan adat yang ada.

Dengan diadakannya sedekah bumi setiap tahun bersama masyarakat ini, perempuan ramah ini berharap dapat mengajarkan ke anak-anak generasi muda penerus untuk bersedekah sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
“Walaupun hanya berupa tumpengan, di situ bisa berkumpul dengan warga lain sehingga memunculkan persaudaraan gotong-royong terjalin dengan baik dan mendo’akan leluhur serta berdo’a buat semua yang hadir agar diberikan keberkahan, kesehatan dan dilimpahkan hasil bumi yang berlimpah,” imbuhnya.
“Alhamdulillah masyarakat antusias melaksanakan kegiatan manganan setiap tahunnya. Semoga kegiatan manganan ini terus dilestarikan sebagai bentuk uri-uri peninggalan nenek moyang dan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT,” sambung Jumini warga setempat.
Antusias serupa dilakukan oleh warga Desa Gayam yang juga melakukan sedekah bumi di Sendang Gedhe dan Sendang Tangar dalam setiap tahunnya di Hari Jumat Pahing. Mereka tampak guyup rukun makan bersama usai memanjatkan doa.
“Alhamdulillah setiap tahun tepatnya di hari jumat pahing selalu diselenggarakan sedekah bumi di Sendang Gedhe dan Sendang Tangar dengan hiburan wayang thengul. Hal ini sebagai bentuk uri-uri peninggalan leluhur agar tidak punah ditelan perkembangan zaman,” kata Kepala Dusun (Kasun) Gayam, Suwarji.(alam)





