Harga Tembakau Bojonegoro Jeblok, Dari Rp 46 Ribu Turun Rp 30 Ribu Per Kilogram

Tembakau Bojonegoro.
HARGA TURUN: Petani tembakau Bojonegoro serang merawat tanamannya.

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Harga tembakau ranjang kering di Bojonegoro, Jawa Timur turun. Cuaca tidak menentu menjadi penyebab. Dari semula harga tertinggi mencapai Rp 46 ribu per kilogram (kg), kini menjadi Rp 30 ribu per kg.

“Fenomena kemarau basah yang menjadi penyebab kualitas daun tembakau turun. Karena kerap diguyur hujan,” kata Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) Ahli Muda Subkor Tanaman Perkebunan DKPP Bojonegoro, Bambang Wahyudi.

Wahyudi menjelaskan, sebagian petani tembakau sudah memasuki panen petikan pertama. Semula harga tertinggi tembakau rajangan kering di wilayah Kecamatan Kedungadem mencapai Rp 46 ribu per kg. Kemudian harga turun menjadi Rp 42 per kg.

“Sedangkan tembakau basah harga kisaran Rp 2.800 ribu hingga Rp 3.000 per kgnya. Harga tersebut turun dibandingkan tahun 2024 lalu, yang mencapai Rp 4.000 per kg, untuk tembakau basah,” katanya, Senin (25/8/2025).

Petani tembakau Desa Mlideg, Kecamatan Kedungadem Kiswanto mengatakan, beberapa hari kemarin wilayah Kecamatan Kedungadem kerap diguyur hujan. Kondisi itu membuat kualitas daun tembakau menurun.

Baca Juga :   Sumringah, Kelompok Tani Tembakau Bojonegoro dapat Hibah Mesin Perajang

“Ada fenomena kemarau basah, sehingga sebagian wilayah Bojonegoro masih diguyur hujan,” katanya.

Dampaknya di harga jual tembakau rajangan kering. Harga awal rajangan kering Rp 46 ribu per kg, kemudian turun lagi Rp 42 per kg, dan kini sudah menjadi Rp 30 ribu per kg. Namun harga juga tergantung jenis tembakau.

Menurut Kiswanto, harga tembakau saat ini masih belum stabil, banyak petani tembakau yang mengeluh. Hal tersebut karena tanaman tembakau usai diguyur hujan langsung layu.

“Bahkan ada yang menguning dan mati. Petani kemudian lakukan tanam sulam,” ungkapnya.

Petani tembakau di Desa Glagahan, Kecamatan Sugihwaras, Purwanto mengatakan, saat ini di wilayah Sugihwaras masih belum ada yang panen, sehingga belum tahu harga jualnya.

“Namun petani tembakau was-was karena sering turun hujan. Itu bisa membuat kualitas daun tembakau turun,” tandasnya.(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait