Hari Sumpah Pemuda 2025: Menggali Warisan Masdan (Ki Ngabehi Eyang Suro Dwiryo), Simpul Sejati Persatuan Pemuda Indonesia

Sasmito
Sasmito Anggoro.

Oleh: Sasmito Anggoro

‎​Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia merayakan Hari Sumpah Pemuda, momen sakral yang meneguhkan komitmen persatuan. Di tengah semangat ini, penting untuk merenungi peran tokoh-tokoh historis yang menjadi jangkar persaudaraan dan pendidikan karakter. Salah satunya adalah Masdan, yang dikenal sebagai Ki Ngabehi Eyang Suro Dwiryo, pendiri organisasi pencak silat legendaris, Setia Hati (SH).

‎​Bukan sekadar ahli bela diri, Eyang Suro Dwiryo adalah seorang visioner persatuan. Sejak mendirikan perkumpulan yang awalnya bernama STK (Sedulur Tinggal Kecer) di Surabaya pada tahun 1903, beliau telah meletakkan fondasi yang mempersatukan pemuda.

‎STK, yang kemudian bertransformasi menjadi Persaudaraan Setia Hati, menjadi wadah untuk menimba ilmu agama, bela diri pencak silat, dan yang terpenting, mendidik generasi bangsa agar memiliki mental berbudi pekerti luhur. ​”Jika saya sudah pulang ke Rahmatullah supaya saudara-saudara SETIA-HATI tetap bersatu hati, tetap rukun lahir bathin”.

‎​Kalimat ini, yang menjadi wasiat utama Eyang Suro, adalah bukti nyata bahwa persatuan dan kerukunan bagi para pemuda adalah pondasi utama dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. ​Jati diri pemuda dan perjuangan ​di masa penjajahan Belanda, persaudaraan yang dibangun oleh Eyang Suro Dwiryo menjadi bentuk kekuatan pemuda saat itu. Lebih dari sekadar ajang olahraga dan seni bela diri, ajaran Setia Hati adalah tentang budi pekerti luhur dan kebersamaan.

‎​Dari ajaran dan persaudaraan yang beliau dirikan, bermunculan tokoh-tokoh pemuda yang aktif dalam pergerakan perjuangan. Ajaran pencak silat berfungsi sebagai simpul kebersamaan yang mempersatukan pemuda dan masyarakat untuk melawan rongrongan penjajah, menunjukkan bahwa kekuatan fisik dan spiritual harus berjalan bberiringan

‎Tantangan warisan dan pekerjaan rumah
‎​hingga saat ini, warisan luhur Eyang Suro Dwiryo, meskipun harus terbagi menjadi berbagai nama dan kepemimpinan (yang semuanya tetap membawa nama Setia Hati), terus menjadi sumber ajaran persaudaraan. ​Namun, seiring perkembangan zaman, perbedaan kepemimpinan, nama, dan lambang terkadang memicu pro dan kontra.

‎Ironisnya, gesekan dan bahkan kerugian bagi masyarakat akibat ulah oknum di tingkat bawah yang tidak mencerminkan ajaran “Setia Hati” telah menjadi pekerjaan rumah besar bagi para pemimpin trah SH saat ini. ​Padahal, warisan luhur yang seharusnya dijaga adalah persaudaraan, kebersamaan, dan kerukunan.

‎Perbedaan seharusnya tidak menjadi sumber persengketaan atau permusuhan, melainkan menjadi kekuatan besar untuk bersatu padu membangun bangsa, menciptakan keharmonisan, dan menjaga Harkamtibmas (Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat). ​Mari Kembali ke Wasiat Sejati ​Harapan besar Ki Ngabehi Eyang Suro Dwiryo agar trah SH yang berawal dari STK ini menjadi ‘lautan Persaudaraan’ harus dipegang teguh.

‎​Di momen Hari Sumpah Pemuda 2025 ini, mari kita kembali mengingat pesan utama beliau: agar saudara-saudara Setia Hati tetap bersatu hati, hidup guyub rukun lahir dan batin. Persatuan dan keharmonisan ini adalah kunci untuk menciptakan suasana kondusif di masyarakat, yang pada akhirnya akan memudahkan kegiatan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

‎​Mari bersama meneruskan ajaran beliau, menjadi pionir di masyarakat untuk bersatu padu, dan membangun pondasi kebersamaan, terutama bagi seluruh pemuda pencak silat di Indonesia.
‎​SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA 2025!

Penulis adalah Ketua Cabang PSHW Bojonegoro, Wakil Ketua IPSI Kabupaten Bojonegoro, dan Sekretaris Paguyuban Bojonegoro Kampung Pesilat, juga aktif sebagai Wartawan di Bojonegoro dan menjadi Pengawas Karimon, sebuah lembaga yang menaungi Eks Napi Teroris di Bojonegoro.

Pos terkait