SuaraBanyuurip.com – Minat baca pelajar di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, terus tumbuh. Mereka semakin mudah mengakses bahan bacaan dengan lahirnya inovasi Pojok Baca Digital yang tersedia di sekolahnya.
Inovasi Pojok Baca Digital merupakan bagian dari Program Lentera Literasi yang diinisiasi oleh operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan Yayasan Trubus Bina Swadaya. Tujuannya membangun budaya literasi digital.
Sejak diluncurkan, Pojok Baca Digital telah mencatat lebih dari 18.000 akses bacaan, menunjukkan lonjakan minat baca yang signifikan di kalangan pelajar.
Selama empat bulan, program ini sukses memberdayakan pelajar dari lima SMP di Bojonegoro untuk menjadi agen perubahan melalui inovasi Pojok Baca Digital dan kampanye kreatif yang dipimpin oleh Duta Gentera.
Festival Generasi Lentera (Gentera) menjadi penutup inspiratif dari Program Lentera Literasi. Acara puncak, Festival Gentera, menampilkan presentasi proyek-proyek literasi digital dari siswa-siswa terpilih seperti dari SMPN 1 Gayam, Ngasem, Kalitidu, Padangan, dan Purwosari. Mereka menunjukkan bagaimana menggunakan media sosial dan teknologi untuk secara aktif mendorong semangat membaca di lingkungan sekolah.
Festival Gentera menghadirkan para siswa terpilih dari SMPN 1 Gayam, SMPN 1 Ngasem, SMPN 1 Kalitidu, SMPN 1 Padangan, dan SMPN 1 Purwosari yang mempresentasikan proyek literasi digital mereka. Mulai dari kampanye membaca di media sosial sekolah, pembuatan konten video edukatif, hingga tantangan membaca digital. Para siswa menunjukkan kreativitas dan kepemimpinan dalam mendorong minat baca di lingkungan sekolah.
“Kami sangat bangga melihat bagaimana para siswa tumbuh menjadi agen perubahan. Mereka bukan hanya membaca, tapi juga menciptakan gagasan baru dan membangun semangat belajar di era digital,” ujar perwakilan EMCL, Wahyu Sadewo.
Wahyu menjelaskan bahwa EMCL berkomitmen mendukung pemerintah dalam meningkatkan taraf pendidikan di masyarakat, termasuk peningkatan literasi. Dukungan sektor pendidikan meliputi pelatihan guru, manajemen sekolah, program magang, beasiswa, pengembangan infrastruktur, hingga bantuan alat ajar. Mulai dari pra-sekolah hingga sekolah menengah atas, baik formal maupun non formal.
Khusus program literasi ini, EMCL bersama Yayasan Trubus Bina Swadaya ingin menggerakkan minat baca siswa di sekitar wilayah operasi Lapangan Banyu Urip. Sebagai pendamping program, Trubus memberikan pelatihan sesuai dengan era saat ini, yaitu berbasis digital. Mulai dari penggunaan media sosial, artificial intelligent, hingga aplikasi perpustakaan berbasis web.

Sebelum ada program, banyak siswa kesulitan mendapatkan bahan bacaan yang menarik. Kini, melalui Pojok Baca Digital yang tersedia di sekolah, mereka dapat mengakses ratusan buku, artikel, dan komik edukatif secara daring menggunakan tablet sekolah.
“Dulu harus berebut buku di perpustakaan. Sekarang bisa langsung baca lewat Pojok Baca Digital. Banyak bacaan seru, jadi lebih semangat belajar,” kata Keyta, Duta Gentera dari SMPN 1 Kalitidu.
Festival ini turut dihadiri oleh guru pendamping, perwakilan Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, serta komunitas literasi lokal. Program Lentera Literasi diharapkan dapat menjadi model pengembangan literasi digital yang bisa direplikasi di sekolah lain di Bojonegoro dan wilayah sekitarnya.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar, Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Zamroni mengaku bangga dengan pencapaian ini. Menurutnya siswa memiliki kemauan untuk membaca lebih baik. Sehingga kemampuan nalar siswa lebih terasah dan pemahaman mereka meningkat.
“Ini bagus sekali, bisa memperbaiki prestasi dan minat belajar para siswa,” ucapnya.

Festival Gentera menjadi ajang penghargaan bagi para peserta dan sekolah yang berprestasi. Penghargaan diberikan kepada duta gentera terbaik, duta sosial gentera, duta tulis gentera, sekolah pojok baca terbaik, generasi lentera teraktif, video terbaik, dan guru pendamping terbaik.
“Festival Gentera bukan penutup, melainkan titik awal gerakan literasi baru di sekolah-sekolah Bojonegoro. Kami berharap semangat ini terus menyala bahkan setelah program selesai,” ujar Fachrul Jody, Manajer Program Lentera Literasi dari Yayasan Bina Trubus Swadaya.
Dengan capaian dan semangat kolaborasi ini, Lentera Literasi berhasil membuktikan bahwa literasi tidak lagi terbatas pada membaca buku fisik, tetapi telah menjadi gerakan partisipatif dan menyenangkan yang memperkuat karakter pelajar Bojonegoro di era digital.(red)






