Literasi Digital, Membentengi Remaja Bojonegoro dari Dampak AI

Literasi Digital.
Perwakilan EMCL saat menghadiri sosialisasi program Literasi Digital Sehat dan Cerdas untuk Remaja 2026, di SMAN Model Terpadu Bojonegoro.

SuaraBanyuurip.com – Pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di kalangan pelajar semakin meningkat. Namun, penggunaan teknologi tersebut dinilai harus diimbangi dengan kemampuan literasi digital agar remaja tidak mudah terpengaruh informasi yang menyesatkan.

Pesan itu mengemuka dalam Sosialisasi Program Literasi Digital Sehat dan Cerdas untuk Remaja 2026, di SMAN Model Terpadu Bojonegoro, Selasa (20/5/2026). Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) di bidang pendidikan itu dilaksanakan oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), bersama Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Bojonegoro.

Sosialisasi di SMAN Model Terpadu tersebut menjadi pembuka rangkaian program pendampingan literasi digital yang akan berlangsung selama enam bulan di sejumlah sekolah di Bojonegoro.

Dalam kegiatan itu, siswa diajak memahami dampak perkembangan teknologi digital, termasuk penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga didorong memiliki kemampuan berpikir kritis agar tidak mudah menerima informasi tanpa proses penyaringan.

Salah satu peserta, Mierza Zhafira Az Zahroh, mengaku lebih sering menggunakan aplikasi AI Grok dibandingkan platform AI lain. Menurut dia, Grok mampu memberikan jawaban yang lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna, terutama dalam membahas studi kasus dan membangun argumentasi.

Baca Juga :   EMCL - Ademos Pasang Lampu PJU di 64 Titik Jalan Gayam-Beged

“Saya lebih suka menggunakan Grok karena jawabannya lebih relevan dengan prompt yang saya berikan. Memang prosesnya lebih lama, tetapi hasilnya biasanya lebih sesuai dengan yang saya butuhkan,” kata Mierza.

Ia menilai sebagian aplikasi AI lain cenderung memberikan jawaban singkat dan tidak menjelaskan persoalan secara utuh. Sementara itu, Grok dinilai memiliki kemampuan berdiskusi dan memecahkan kasus dengan lebih mendalam.

Meski demikian, Mierza mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap memiliki risiko. Menurut dia, bahasa yang digunakan AI terkadang terlalu persuasif sehingga dapat memengaruhi cara berpikir pengguna.

“Karena itu, penting bagi generasi muda memiliki literasi digital agar tidak mudah terpengaruh tulisan AI di layar handphone,” ujarnya.

Program Literasi Digital Sehat dan Cerdas untuk Remaja 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas digital pelajar di Bojonegoro di tengah semakin luasnya penggunaan teknologi AI dalam proses belajar dan interaksi sehari-hari. Selama enam bulan ke depan, peserta akan mendapatkan pendampingan dan penguatan pemahaman terkait penggunaan media digital secara sehat, aman, dan bertanggung jawab.(red)

Pos terkait