SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro – Di sudut Rukun Tetangga (RT) 5, Rukun Warga (RW) 2, Desa Manukan, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, deretan ayam petelur milik Sumari tampak sehat dan terawat. Setiap pagi, ia memulai rutinitas dengan memeriksa tempat pakan dan mengumpulkan telur, kegiatan yang kini kembali memberinya harapan setelah sempat dihantam wabah penyakit.
Sumari adalah salah satu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program gerakan ayam petelur mandiri (Gayatri), program pemberdayaan ekonomi berbasis pengentasan kemiskinan gagasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro.
Operator lapangan minyak Banyu Urip, Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), turut ambil bagian dalam program Gayatri yang menyasar keluarga pra sejahtera di 16 desa sekitar wilayah operasinya. Desa Manukan adalah salah satunya.
Saat pertama menerima bantuan, Sumari mengaku, memperoleh 54 ekor ayam petelur. Namun perjalanan awal tidak mudah. Beberapa ayam mati sehingga jumlahnya tinggal sekitar 40 ekor lebih.
“Waktu kena penyakit itu produksinya turun. Ada yang mati juga,” cerita Sumari sambil menunjukkan kandangnya.
Ia sempat khawatir ketika produksi telur merosot tajam. Namun ia berkonsultasi dengan tim pendamping dari Pusat Inkubasi Bisnis (PIB) guna mendapat arahan. Padahal saat itu ia telah dinyatakan mandiri. Setelah diberikan obat dan dilakukan perawatan rutin, kondisi ayam berangsur pulih. Produksi pun kembali naik.
“Sekarang rata-rata 15 sampai 20 butir per hari, naik lagi mulai stabil produksinya. Hasilnya buat belanja, beli beras, sama pakan. Sudah mandiri,” ujarnya.

Sumari mengaku terbantu karena bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga dari hasil produksi telur. Ia bahkan mulai menata ritme budidaya agar kandangnya tetap bersih dan ayam tidak kembali terserang penyakit.
”Mudah-mudahan bisa sampai 40 butir lebih lagi nantinya, pokoknya ditelateni,” ungkapnya.
Perwakilan pendamping Program Gayatri dari PIB, Arifin, memaparkan perkembangan KPM di Desa Manukan secara keseluruhan. Manukan memiliki 15 KPM yang berasal dari dukungan corporate social responsibility (CSR), dan seluruhnya telah masuk fase mandiri sejak 30 September 2025.
Untuk Sumari sendiri, kata Arifin, produksi normalnya berada di kisaran 49 butir per hari, sebelum sempat turun akibat penyakit. Sementara rata-rata produksi seluruh KPM di Manukan berada di angka 48 butir, atau setara 2,8–3 kilogram telur per hari.
“Pendamping PIB masih terus memonitor budidaya, menyediakan pakan yang terjangkau, dan menerima hasil produksi telur. Kalau ada kendala atau keluhan, kami tangani langsung,” jelas Arifin kepada SuaraBanyuurip.com, Sabtu (06/12/2025).
Oleh karena itu, meski pernah terpukul karena hasil panen telur sempat anjlok, Sumari berhasil kembali mengatur ritme produksi. Kini ia mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga dari hasil ternaknya sendiri.
”Program Gayatri, bagi Pak Sumari, bukan sekadar bantuan, tetapi kesempatan untuk bangkit dan mengelola usaha kecil secara berkelanjutan,” tandas Arifin.(fin)