Strategi Pengembangan Potensi Desa Tak Selalu Berbiaya Mahal

TPID Gayam
Tim Pengembangan Inovasi Desa (TPID) dari 12 Desa di Kecamatan Gayam menerima piranti dokumentasi dalam Workshop Program Pengembangan Program Peningkatan Kapasitas Perencanaan dan Pengembangan Potensi Desa se Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.(arifin jauhari)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Desa sejatinya dapat menjadi penanda kekuatan perekonomian bangsa. Hal itu bukan sekadar asumsi, melainkan fakta yang terlihat dari semakin strategisnya perhatian pemerintah pusat terhadap desa. Momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat pijakan ekonomi desa berbasis potensi lokal.

‎Ketua Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI), Andi Yuwono, mengemukakan hal itu saat membuka diskusi dalam Workshop Program Peningkatan Kapasitas Perencanaan dan Pengembangan Potensi Desa di Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Selasa (23/12/2025).

‎Workshop berlangsung di Hotel Aston Bojonegoro, diselenggarakan oleh Lestari Muda Indonesia berkolaborasi dengan ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) serta Tim Potensi Inovasi Desa (TPID) dari 12 desa di Kecamatan Gayam.

‎Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong desa untuk menemukan, mengemas, dan mempromosikan potensi unggulannya secara berkelanjutan.

‎Selain Andi Yuwono, workshop ini juga menghadirkan sejumlah pemateri, antara lain Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Perdesaan (DPMD) Kabupaten Bojonegoro Machmuddin AP, M.M., Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Achmad Gunawan F., S.Stp., serta Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro Lukiswati, S.Pd.

‎Kegiatan terasa kental dengan nuansa budaya lokal. Diskusi diiringi alunan musik langgam Jawa dari Kelompok Seni Karawitan Madu Laras, potensi budaya Desa Begadon yang dipimpin Budi Wahono. Kehadiran seni karawitan ini menjadi penegas bahwa potensi desa tidak selalu harus berangkat dari hal-hal besar dan berbiaya mahal.

‎Menurut Andi Yuwono, potensi itu tidak harus sesuatu yang mahal. Yang penting menarik dan memiliki nilai. Di era sekarang, kekuatan media sosial sangat berpengaruh.

‎”Diperlukan strategi multipemain, misalnya kelompok karawitan didukung kemampuan membuat konten digital,” ujar Andi Yuwono.

‎Ia menambahkan, daya tarik semakin kuat ketika mengetahui sinden dari Kelompok Madu Laras berasal dari Generasi Z yang akrab dengan dunia digital.

‎Bagi pelaku seni lokal, ruang seperti ini menjadi sarana penting untuk bertemu, berinteraksi, sekaligus menunjukkan kekayaan budaya desa.

‎”Ruang apresiasi seperti inilah yang kami butuhkan. Interaksi yang terbangun membuat kami semakin bersemangat untuk terus berkarya,” ungkap Budi Wahono.

‎Sementara itu, Person in Charge (PIC) program, Ali Mahmud menjelaskan, bahwa kegiatan ini dirancang untuk memudahkan masyarakat dalam mengenalkan ikon desa melalui potensi yang dimiliki. Pada Oktober lalu telah dilakukan kegiatan belanja inovasi, yang kemudian mengerucutkan potensi unggulan desa melalui TPID.

‎”Semoga potensi tersebut benar-benar bisa menjadi ikon desa,” harapnya.

‎Pada sesi penyerahan cinderamata sebagai bentuk aktivasi potensi desa kepada masing-masing TPID, Achmad Gunawan menekankan pentingnya membiasakan diri mengabarkan hal-hal baik dari Bojonegoro, sekecil apa pun itu. Mulai dari kuliner, situasi kebudayaan, hingga berbagai ruang kehidupan desa yang memiliki nilai.

‎“Bojonegoro membutuhkan lebih banyak orang yang berinisiatif mengeksplorasi potensi dan kekayaan lokal. Dengan begitu, dunia akan tahu bahwa ikon desa di Bojonegoro sangat beragam,” tandasnya.(fin)

Pos terkait