Berkebun bukan sekadar hobi. Di tangan Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persaudaraan Kepala Desa Indonesia (PKDI) Kabupaten Bojonegoro, Kanjeng Raden Aryo Tumenggung (KRAT) Sudawam, berkebun menjelma menjadi ikhtiar merawat alam sekaligus investasi jangka panjang yang memberi manfaat ekologis dan ekonomis.
SENJA belum sepenuhnya beranjak dari pelukan petang. Segumpal awan berarak pelan, digendong angin, sementara sang surya perlahan menuju peraduan. Sinarnya yang masih terasa hangat sesekali timbul tenggelam, terhalang gugusan awan di langit barat.
Di hamparan kebun yang luas, tampak seorang pria bergerak dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Sebilah gunting di tangan kanannya cekatan memangkas ranting-ranting pohon yang tumbuh subur. Dialah KRAT Sudawam, Ketua DPC PKDI Bojonegoro.
Dengan logat santun, ia mempersilakan awak media ini mendekat dan duduk santai di bawah rindangnya pohon alpukat. Keakraban pun terjalin. Dari situlah kisah singkat tentang perkebunan seluas lebih dari 4 hektare yang ia kelola mulai mengalir.
Pria yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Pelem, Kecamatan Purwosari, ini menuturkan, bahwa sejak dua tahun terakhir ia menekuni budidaya alpukat dan durian. Hingga kini, kegiatan menanam dan merawat tanaman tersebut terus berlanjut.
“Ini bukan sekadar hobi berkebun. Saya melihatnya sebagai investasi jangka panjang yang nyata, baik untuk lingkungan maupun perekonomian ke depan,” ujarnya kepada SuaraBanyuurip.com.

Menurut KRAT Sudawam, berkebun menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian pangan, menjaga kesehatan bumi, sekaligus meningkatkan kualitas hidup secara berkelanjutan.
Saat ini, tanaman alpukat dan durian yang ditanamnya telah memasuki usia sekitar dua tahun dan mulai berbuah. Total terdapat kurang lebih 2.600 pohon, terdiri dari 1.600 pohon alpukat dan 1.000 pohon durian. Meski jumlahnya sudah ribuan, penanaman pohon alpukat dan durian masih terus dilakukan.
“Setiap pagi dan sore, setelah memberikan pelayanan kepada masyarakat, saya menyempatkan diri ke kebun untuk merawat tanaman agar tumbuh subur,” tutur pria yang akrab disapa Mas Tumenggung ini.
Pemilihan alpukat dan durian bukan tanpa alasan. Selain bernilai ekonomi tinggi, buah-buahan tersebut dapat dikonsumsi oleh semua kalangan usia, mulai dari balita hingga lansia. Tanaman ini juga dinilai sebagai investasi jangka menengah dan panjang, karena nilai ekonominya terus meningkat seiring bertambahnya usia tanaman.
Tak hanya itu, keberadaan ribuan pohon tersebut juga berperan sebagai penyerap alami karbon dioksida (CO₂), membantu mengurangi dampak perubahan iklim dan menyediakan udara yang lebih bersih.
“Berkebun itu banyak manfaatnya. Badan jadi sehat karena kita bergerak, mencangkul, menyiram tanaman. Kita juga bisa berinteraksi langsung dengan alam, sehingga suasana hati lebih tenang,” katanya.
Ia berharap, apa yang dilakukannya dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas dalam menjaga kelestarian alam, demi keberlangsungan hidup generasi mendatang.
“Semoga tanaman-tanaman ini bisa membawa berkah, bukan hanya untuk keluarga, tetapi juga bagi alam dan lingkungan sekitar,” pungkas Kepala Desa Pelem yang telah menjabat selama tiga periode itu.(sami’an sasongko)





