Rindu yang lama terpendam akhirnya terobati saat momen Lebaran membuka ruang pertemuan hangat antara warga binaan dan keluarga, meski hanya sejenak di balik jeruji.
PAGI ITU, Aula Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Bojonegoro tak seperti biasanya. Langkah kaki terdengar lebih ramai, berpadu dengan bisik penuh harap. Mata-mata yang menunggu tampak dipenuhi rindu yang telah lama tertahan. Hari Raya Idulfitri menghadirkan suasana berbeda, bahkan di balik jeruji.
Di antara kerumunan, Rahmat Wahyuono (22) berdiri dengan gelisah. Jemarinya sesekali meremas ujung baju, sementara pandangannya tak lepas dari pintu masuk. Berbulan-bulan ia menanti momen ini, saat akhirnya bisa kembali menatap wajah keluarganya dari dekat.
Ketika sosok yang dinanti muncul, langkah Rahmat sempat terhenti. Seakan tak percaya, ia kemudian perlahan mendekat. Tak ada kata yang langsung terucap. Hanya tatapan yang mewakili rindu yang tak sempat dirangkai dalam kalimat.
Hari itu, rindu menemukan jalannya. Momen Lebaran di Lapas Bojonegoro memang selalu menghadirkan kisah-kisah serupa. Selama empat hari, sejak hari pertama hingga keempat Idulfitri, lapas membuka layanan kunjungan khusus bagi warga binaan. Sebuah ruang terbatas untuk merasakan kembali hangatnya kebersamaan keluarga.

Kunjungan dibagi dalam dua sesi, pagi pukul 08.00–11.00 WIB dan siang pukul 13.00–14.30 WIB. Pengaturan ini dilakukan agar suasana tetap tertib, tanpa mengurangi makna pertemuan yang sarat emosi.
Di dalam aula, suasana berubah menjadi lautan perasaan. Tawa dan tangis saling bersahutan. Ada yang berbagi cerita, ada yang hanya saling menggenggam tangan, seolah waktu berjalan lebih cepat dari biasanya. Setiap detik terasa berharga.
Bagi Rahmat, pertemuan itu sederhana, duduk berhadapan, berbagi cerita singkat, dan menikmati makanan yang dibawa dari rumah. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan makna yang dalam.
“Yang penting bisa ketemu,” ucapnya lirih kepada Suarabanyuurip.com, Senin (23/3/2026).
Di balik kehangatan tersebut, pengawasan tetap dilakukan secara ketat. Petugas lapas bersama aparat kepolisian berjaga memastikan tidak ada barang terlarang yang masuk. Setiap bawaan diperiksa, setiap pergerakan diawasi semata demi menjaga keamanan.

Kepala Lapas Bojonegoro, Hari Winarca, memahami bahwa Lebaran bukan sekadar perayaan, melainkan momentum “pulang” meski bagi warga binaan, pulang hanya bisa dirasakan dalam ruang terbatas.
“Kami ingin mereka tetap merasakan Lebaran bersama keluarga. Itu penting untuk menjaga mental dan semangat mereka,” ujarnya.
Aturan tetap diberlakukan. Pengunjung dibatasi hanya keluarga inti dalam satu Kartu Keluarga. Makanan diperbolehkan secukupnya, namun tidak untuk pakaian atau barang tambahan. Larangan keras diberlakukan untuk handphone, narkoba, dan benda terlarang lainnya.
Namun, keterbatasan itu tak mengurangi makna pertemuan. Justru di situlah kehangatan terasa semakin nyata.
Waktu pun berlalu cepat. Satu per satu keluarga mulai beranjak pulang. Pelukan hangat perlahan terlepas, menyisakan rindu yang kembali disimpan.
Rahmat tetap berdiri di tempatnya, menatap kepergian keluarganya hingga tak lagi terlihat. Ia tak menangis, namun sorot matanya menyimpan cerita yang tak terucapkan.
Lebaran tahun ini mungkin belum membawanya pulang. Tapi setidaknya, untuk sesaat, ia kembali merasakan arti sebuah rumah.(Arifin Jauhari)





