SuaraBanyuurip.com – Petani di empat desa di Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, berharap Bendung Ngunut di Dusun Kare, Desa Sendangrejo, dilakukan normalisasi. Bendung tersebut telah mengalami sedimentasi tinggi, sehingga mengganggu pasokan air untuk kebutuhan pertanian khususnya di musim kemarau.
Puger, warga setempat, mengatakan Bendung Ngunut sudah lama tidak dilakukan normalisasi. Material lumpur menumpuk menutup pintu air, sehingga membuat aliran air menjadi tidak lancar.
“Seingat saya, terkahir dinormalisasi tahun 2000 lalu,” ucapnya kepada SuaraBanyuurip.com, Kamis (2/4/2026).
Menurut dia, jika Bendung Ngunut dinormalisasi akan menambah daya tampung, sehingga dapat mensuplai kebutuhan air bagi pertanian di bawahnya.
“Harapannya ya dinormalisasi, biar kebutuhan air bagi pertanian tercukupi,” tegas bapak dua anak ini.
Di Bendung Ngunut terdapat empat pintu air. Bendung ini menampung air dari sumber mata air Grogolan Desa Ngunut, dan menjadi suplaisi daerah irigasi (DI) Balong, Ngunut dan DI Dander.
Total luas panen (sawah) yang bertumpu pada pengairan dari Bendung Ngunut untuk DI Balong dan Ngunut mencapai 930 hektar (Ha). Rinciannya, DI Balong seluas 316 ha, dan DI Ngunut 614 ha.
Ratusan hektar lahan pertanian tersebut tersebar di Desa Sumodikaran, Ngumpakdalem, dan Sumbertlaseh, Kecamatan Dander, serta Desa Pacul, Kecamatan Bojonegoro.
“Kalau musim tanam kedua seperti ini airnya sudah mulai sulit. Apalagi kalau kemarau,” sambung Samuel, petani Desa Sumodikaran.
Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (Hippa) Desa Ngumpakdalem, Pandil membenarkan jika suplai air dari Bendung Ngunut ke DI Balong sering tersendat. Sebab telah terjadi sedimentasi tinggi di pintu suplaisi DI Balong.
“Apalagi kalau musim kemarau, air di Bendung Ngunut tidak bisa mengalir ke DI Balong karena tertutup lumpur,” bebernya.
Pandil berharap Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (SDA) Bojonegoro melakukan normalisasi Bendung Ngunut, khususnya yang menjadi spulaisi DI Balong untuk mencukupi kebutuhan pengairan bagi pertanian.
Apalagi, sesuai informasi yang dia terima pada tahun 2026 ini akan terjadi kamarau panjang yang dimulai pada April ini.
“Kalau itu dinormalisasi kebutuhan pengairan saat musim kemarau akan tetap tercukupi, sehingga petani bisa meningkatkan produksi pertanian petani,” pungkasnya.
Kepa Dinas Pekerjaan Umum SDA Bojonegoro, Retno Wulandari mengatakan, belum ada rencana melakukan normalisasi bendung sebagai suplai kebutuhan air bagi pertanian.
“Kalau normalisasi bendung tahun 2026 ini belum ada,” kata Retno dikonfirmasi secara terpisah.
Retno menjelaskan, untuk menjaga ketersediaan air selama musim kemarau akan dilakukan pembangunan dan rehabilitasi embung pada tahun 2026 ini. Meliputi pembangunan 5 embung baru dan rehabilitasi 11 embung.
“Ini untuk ketersedian air bagi pertanian,” tegas mantan Kepala Dinas PU Bina Marga Bojonegoro itu.(red)





