SuaraBanyuurip.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026. Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dan panjang.
Menyusul informasi tersebut, Bupati Bojonegoro Setyo Wahono telah mengeluarkan surat edaran (SE) bernomor 520/531/412.221/2026, tentang antisipasi dan mitigasi musim kemarau 2026 bagi sektor pertanian di wilayanya. Kondisi musim kemarau di Provinsi Jatim termasuk Kabupaten Bojonegoro, diperkirakan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya dengan durasi lebih panjang.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono menekankan lima hal penting untuk mengantisipasi dan mitigasi musim kemarau 2026 ini. Pertama, pengelolaan air secara efisien melalui optimalisasi pemanfaatan sumber dan jaringan air yang tersedia dengan menerapkan irigasi hemat air secara bergiliran berdasarkan rekomendasi dan arahan dari petugas teknis Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan penyuluh pertanian di masing-masing wilayah.
Kedua, penyesuaian pola dan waktu tanam melalui penyesuaian kalender jadwal dengan kondisi keteraediaan air. Ketiga, perlindungan tanaman dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan secara terpadu dan ramah lingkungan.
Keempat, penguatan kelembagaan dan gotong-royong melalui sinergi antar kelompok tani/gapoktan, gabungan Hippa dan petugas.
“Saya juga meminta peran pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan ditingkatkan, melalui koordinasi terkait distribusi air secara adil, memfasilitasi kebutuhan sarana prasara pertanian sesuai kewenangannya,” tegas Bupati Wahono dalam SE.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani sebelumnya menjelaskan bahwa beberapa wilayah yang telah memasuki musim kemarau adalah sebagian kecil wilayah Aceh, sebagian kecil wilayah Sumatera Utara, sebagian kecil Riau, sebagian Sulawesi Tengah, sebagian Sulawesi Selatan, sebagian Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, sebagian kecil NTT dan Maluku, serta sebagian kecil Papua Barat.
“BMKG akan terus memantau perkembangan dinamika iklim global dan regional serta menyampaikan pembaruan informasi secara berkala. Masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia,” kata Faisal dalam keterangan resminya.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan BMKG juga memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua tahun 2026.
“Pada saat ini, prediksi BMKG untuk intensitas El Niño berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50-80%, dan mencatat adanya kemungkinan kecil (kurang dari 20%) fenomena ini berkembang menjadi kategori kuat,” tuturnya.
BMKG mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menginterpretasikan data prediksi saat ini karena adanya fenomena spring predictability barrier—penurunan drastis akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO saat belahan Bumi utara melewati periode musim semi (Maret, April, Mei).
Akurasi prediksi El Nino yang dihasilkan pada periode Maret-April umumnya hanya andal untuk prakiraan tiga bulan ke depan, sehingga diperlukan expertise dalam pemahaman interaksi multi-faktor yang menyebabkan lahirnya kondisi El Nino maupun dampak telekoneksinya ke wilayah Indonesia. Untuk itu BMKG perlu terus memantau pembaruan data secara berkala dan mengkaji perkembangannya.
Senada dengan hal tersebut, bahwa tingkat kepercayaan (confidence) terhadap intensitas El Niño akan semakin tinggi pada hasil prediksi bulan Mei 2026. Secara statistik, prediksi pada bulan Mei memiliki keandalan yang lebih baik untuk menjangkau kondisi iklim hingga enam bulan ke depan.
“Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai kontribusi juga dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia,” jelas Sopaheluwakan.(red)





