“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.” Sebaris kalimat berbahasa Jawa ini mengandung makna, “Di depan memberi contoh atau teladan, di tengah membangun semangat atau kemauan, dan di belakang memberikan dorongan atau kekuatan.” Kalimat tersebut pertama kali keluar dari bibir Ki Hajar Dewantara saat mendirikan Perguruan Taman Siswa di Yogjakarta, 3 Juli 1922 silam.
Pada perkembangannya tiga frasa dari lelaki yang terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat tersebut menjadi Trilogi Pendidikan. Negara juga menetapkan tanggal kelahiran Bapak Pendidikan itu, 2 Mei, sebagai Hari Pendidikan Nasional. Pun frasa ketiga Tut Wuri Handayani, sejak 6 September 1977 menjadi semboyan pendidikan di tanah air.
Pada konteks kekinian, tanpa disadari trilogi tersebut berakulturasi dengan kultur masyarakat pegunungan di Kecamatan Grabagan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Setidaknya pola pembelajaran yang diampu para guru dan tenaga kependidikan (Tendik) di SMAN Grabagan menerapkan konsep itu. Mereka meleburnya dengan kultur lokal, menjadikannya akulturasi yang melahirkan prestasi dari satuan pendidikan tingkat atas itu.
Relasi sekolah dengan masyarakat, menurut Kepala SMAN Grabagan Idha Karyati, tak ubahnya satu kesatuan yang setara dan saling menghormati. Kesetaraan itu terbangun dalam semangat bersama untuk memajukan pendidikan di wilayah setempat.
“Kami telah menyatu dengan lingkungan dan masyarakat, dan sama-sama memahami bahwa tanggung jawab pendidikan bukan hanya kewajiban lembaga sekolah,” kata Idha Karyati saat ditemui di ruang kerjanya. Konsep itu yang ia kembangkan bersama team work sekolah dalam menempa siswa.
Bu Ida, demikian mantan guru SMKN 2 Tuban itu akrab disapa, yang kala itu didampingi Waka Kesiswaan Sri Wulan Juli Indah Mamik, dan Waka Kurikulum Kurniawati, sangat mafhum dengan kondisi geografis dan kultur warga Grabagan. Baginya dan para pendidik satuan pendidikan tingkat atas satu-satunya di wilayah seluas 73,79 Km2 yang dihuni penduduk 41.706 jiwa itu, tak ubahnya rumah sendiri.
Penerapan disiplin waktu yang ketat dimulai dari guru dan Tendik. Tak heran jika 30 menit hingga satu jam sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, sebanyak 18 guru dan 10 Tendik sudah berada di lingkungan sekolah. Menyambut kedatangan 318 siswa yang rumahnya berjarak mulai 1 Km hingga 9 Km dari gerbang sekolah di Dusun Geneng, Desa/Kecamatan Grabagan itu.
Terhadap siswa dalam konteks pembangunan karakter, ungkap Sri Wulan Juli maupun Kurniawati, para guru lebih pada menunjukkan sikap agar mereka bisa menjadi contoh berperilaku. Apalagi rata-rata siswa sekolah yang berdiri pada tahun 2006, tahun 2009 turun SK Bupati-nya, mayoritas dari wilayah desa-desa di Grabagan. Secara kultural masih murni tak tercampuri kultur kecamatan lain. Terjadi pertemuan dengan kultur luar, ketika berinteraksi dengan guru dan Tendik yang sebagian besar dari luar kecamatan setempat.
Guru di sekolah dengan sembilan rombongan belajar (Rombel), setiap angkatan terdiri tiga kelas ini, memilih berbaur membumi dengan siswa sembari memberi memotivasi dalam suasana yang kondusif untuk belajar. Pilihan sikap yang diterapkan tersebut, tak merubah kultur siswa yang sebelumnya telah terbentuk oleh lingkungan asal.
Karakter alam yang kering khas pegunungan kapur berpengaruh terhadap pola interaksi social masyarakat di sana. Alam menjadikan warga, dari wilayah penghasil Cabe Rawit sebanyak 309.275,5 kwintal per tahun (2025) ini, dituntut memiliki morel kerja tinggi agar survive. Semangat yang meletup-letup itu, tampaknya berpengaruh terhadap tumbuh kembang psikologis anak usia sekolah di sana.
Secara historis diantara 20 kecamatan di Tuban, Grabagan yang berada di ketinggian 520 Mdpl berisi 11 desa adalah satu-satunya kecamatan pemekaran. Yakni dari Kecamatan Rengel melepas (6 desa), Semanding (3 desa), dan dua desa dari Kecamatan Soko. Secara geografis pemerintah kecamatan yang berdiri pada 2004 itu wilayahnya berkarakter pegunungan kapur kering. Mayoritas warganya berprofesi sebagai petani, dan pesanggem di lahan Perhutani, sebagian lainnya adalah pedagang.
Karakter keras yang terbangun oleh lingkungan, tampaknya berpengaruh terhadap sikap. Mereka cenderung reaktif dan berani ketika terjadi “benturan” saat berinteraksi, baik dengan sesama siswa maupun guru dan Tendik. Butuh sentuhan tersendiri agar tak sampai meletup hingga meluruhkan semangat belajar. Seorang Idha Karyati dan tim yang dipimpinnya, sangat paham terhadap apa yang harus dilakukan. Tentunya tanpa meninggalkan nilai kearifan lokal.
“Di tengah kebersamaan guru dan siswa, kami memotivasi anak-anak agar meningkat semangat belajarnya,” sergah Kurniawati. Ia tak menampik, bila sisi kultural menjadi pertimbangan khusus dalam membangun karakter siswa.
Walau tercatat ada siswa dari Kecamatan Montong, dan Kecamatan Soko, tapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itu pun dari desa-desa perbatasan dengan wilayah kecamatan yang salah satu desanya, Desa Ngandong, terdapat situs Andongsari yang belakangan jadi destinasi wisata andalan.
Memang pola pendidikan SMAN Grabagan tak mengubah kultur, namun proses tranformasi pembelajaran dan contoh perilaku saat interaksi berlangsung, membentuk perilaku positif siswa. Siswa disana tak menerima ilmu pengetahuan (mata pelajaran) semata, kapasitas mereka juga dibangun agar lebih adaptif menghadapi tantangan perkembangan jaman.
Idha Karyati mengibaratkan sekolah adalah rumah kedua bagi siswa. Di sana dituntut selalu lahir inovasi agar penghuninya tak jenuh. Rangkaian kebijakan inovatif tersebut, mempertimbangkan nilai kultural lingkungan, dan melibatkan masukan dari orang tua siswa. Oleh karena itu pula tak jarang Bu Ida maupun guru disana, bersilaturahmi ke rumah orang tua dan wali siswa.
“Alhamdulillah, sekarang perkembangan pendidikan disini bagus, adanya kreatifitas dan inovasi Kepala SMAN Grabagan menjadikan anak-anak kami sudah bisa setara dengan anak-anak dari kecamatan lain,” ujar tokoh masyarakat dan pendidikan Grabagan, H Japar, saat ditemui di rumahnya di Dusun Gembong, Desa/Kecamatan Rengel.
Pria kharismatik kelahiran Desa Dahor, Kecamatan Grabagan yang akrab disapa Mas Guru Japar itu, menyatakan, diantara faktor penyebab minimnya support orang tua siswa terhadap sekolah di Grabagan adalah biaya. Faktor ini pula yang seringkali menjadi kendala anak-anak lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tentunya terdapat beragam factor lain yang tak bisa diabaikan.
Disinilah pentingnya peran kepala sekolah, guru, dan satuan pendidikan dalam membangun semangat anak meraih pendidikan lebih baik. “Tanpa dorongan semangat, dan inovasi dari mereka, anak-anak di sini akan tertinggal dengan anak-anak dari wilayah kecamatan lain,” ujar Mas Guru Japar. Sesuai pengamatannya sejak awal keberadaan SMAN Grabagan hingga kini, progres lulusannya melanjutkan ke perguruan tinggi setiap tahun angkanya naik.
Sesuai data dari bagian kesiswaan, pada tahun 2026 ini sebanyak delapan (8) siswa SMAN Grabagan diterima di perguruan tinggi negeri lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Angka itu ada kenaikan dibanding SNBP tahun 2025 sebanyak 5 siswa ditambah 3 siswa melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), dan tahun 2024 hanya seorang siswa melalui jalur SNBT.
“Semoga saja dalam seleksi perguruan tinggi jalur SNBT tahun 2026 ini, ada anak kami banyak yang lolos,” kata Sri Wulan Juli. Secara global lulusan SMAN Grabagan yang melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri maupun swasta, pada tahun 2022 sebanyak 11 orang, tahun 2023 (14 orang), 2024 (21 orang), 2025 sebanyak 23 orang.
Menekan Angka Pernikahan Dini

Berlembar cerita mewarnai perjalanan SMAN Grabagan. Mulai dari rendahnya minat lulusan lima Madrasah Tsanawiyah (MTs) swasta, dan 2 unit SMP Negeri, lantaran belum percaya dengan kualitas SMA baru, hingga meragukan proses pembelajaran dari sekolah yang kini memiliki 10 lokal tersebut. Wajar jika orang tua mengirim anaknya melanjutkan sekolah ke jenjang SMA, SMK, atau MA ke luar wilayah Grabagan, ketimbang menyekolahkan anaknya ke SMA yang berdiri di atas lahan 9.320 M2 tersebut.
Seiring berjalannya waktu lembaga pendidikan dengan dua jurusan (1 Rombel IPA dan 2 Rombel IPS) setiap angkatannya itu, menjadi gantungan pendidikan atas warga setempat. Rangkaian prestasi yang teraih, dan interaksi sekolah dan masyarakat kian masif menjadikan sekolah ini populer. Apalagi setelah keterlibatan siswanya dalam perhelatan perayaan hari besar nasional maupun keagamaan, makin menjadikan institusi pendidikan dengan lima ekstra kurikuler (Rois-Hadrah, Bola Volly, Futsal, Catur, dan Pramuka) ini mentereng.
Saat ditanya bagaimana dengan angka Drop Out (DO) siswanya, Sri Wulan Juli Indah Mamik menyatakan, awal-awal sekolah itu berdiri memang hampir setiap tahun tercatat ada siswa yang DO. “DO atau mutasi siswa di tahun-tahun awal memang terjadi, belakangan sudah jarang terjadi.”
Beberapa kejadian DO di tahun-tahun awal banyak terjadi pada siswa perempuan karena menikah dini. Sebelumnya beberapa orang tua bangga anaknya mendapatkan jodoh, mungkin lantaran factor kultural. Dulu setiap tahun tiba-tiba ada siswa perempuan keluar setelah dicek ke rumahnya ternyata menikah.
“Dulu pernah ada orang tua siswa datang memberi tumpeng dan kue ke sekolah, katanya slametan anaknya mendapatkan jodoh,” papar Sri Wulan Juli. Bahkan, menurut para guru dan Tendik disana, di tahun-tahun awal hampir setiap tahun pelajaran terjadi pernikahan dini dari siswa.
“Melalui berbagai program pembelajaran dan pemberdayaan, maupun pendekatan kita kepada siswa dan orang tua, belakangan siswa DO karena menikah dini sudah tidak muncul lagi,” timpal Idha Karyati.
Faktor kultural dan lingkungan, diantaranya, yang menjadikan terjadinya fenomena yang sering terjadi di wilayah pedesaan Kabupaten Tuban, tak hanya di wilayah Grabagan. Oleh sebab itu strategi persuasif dengan melibatkan orang tua siswa, yang dilakukan Idha Karyati bersama timnya, ternyata cukup efektif untuk menekan terjadinya pernikahan anak.
SMA Double Track dan Prestasi Siswa

Kondisi geografis, social, ekonomi, dan lingkungan wilayah Kecamatan Grabagan yang kering, hingga rendahnya minat lulusan SMAN Grabagan melanjutkan kuliah, menjadikan sekolah ini pada tahun pelajaran 2019/2020 mengikuti program dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, SMA Doble Track. Dalam program pemberian tambahan ketrampilan vocasional ini Pemprov Jawa Timur bekerjasama dengan ITS Surabaya. Grabagan termasuk tujuh SMAN dari 20 SMAN di Kabupaten Tuban yang mengikuti program inisiatif pemerintah provinsi tersebut.
“Setiap tahun minat anak-anak kami tinggi pada program double track, sayangnya pesertanya dibatasi di setiap sekolah,” kata Sri Wulan Juli. Di tahun awal program mereka menerima pelatihan Teknik Kendaraan Ringan, bersertifikat resmi yang dikeluarkan oleh ITS Surabaya. “Sertifikatnya laku dipakai melamar kerja anak-anak yang tak melanjutkan kuliah,” tambah perempuan guru yang ramah itu panjang lebar.
SMA Double Track merupakan program penggabungan kurikulum akademik SMA dengan pelatihan ketrampilan vokasional. Tujuannya memberi bekal kepada siswa yang tidak melanjutkan kuliah, untuk siap kerja atau berwirausaha yang didukung teknologi dan kearifan local dalam double track.
“Sekarang pelatihan yang diberikan (dalam double track) adalah bidang Tata Boga dan Tata Rias,” ujar Idha Karyati. “Bidang ini banyak diminati siswa perempuan,” tambahnya.
Pada bagian lain, Bu Ida yang saban hari berangkat dan pulang dari kediamannya di Tuban ke SMAN Grabagan, menambahkan, pengelolaan ekskul juga menjadi perhatian serius di sekolahnya. Tak ketinggalan pula menyiapkan siswanya untuk berbagai perlombaaan tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Hal tersebut tak lebih dari bagaimana menyiapkan siswa, agar memiliki daya juang yang tinggi agar mampu bersaing dengan siswa sekolah lain.
Progres siswa sekolah ini dari tahun ke tahun terlihat. Pada tahun 2023 sebanyak tujuh siswa sekolah ini meraih Juara I hingga Juara III dalam perlombaan yang diikutinya, tingkat kabupaten dan provinsi. Tahun 2024 sebanyak 20 siswa berhasil mendapatkan juara, dan pada tahun 2025 lalu tercatat sebanyak 11 siswa.
“Jika dinilai ada progress di lembaga ini, semuanya berkat kerja bareng seluruh komponen sekolah dan dukungan masyarakat,” kata Idha Karyati. “Sedangkan peran kepala sekolah, guru, dan tim pengembang adalah mendampingi dan memberi dorongan moral, agar siswa tumbuh kembang secara mandiri,” demikian pungkas perempuan energik itu. (teguh budi utomo)