SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari
Bojonegoro — Anggota Komisi XII DPR RI, Ratna Juwita Sari, menaruh harapan besar terhadap kelanjutan proyek kilang minyak Grass Root Refinery (GRR) Tuban yang hingga kini belum menunjukkan kejelasan.
Ratna berharap, lawatan Presiden Prabowo ke luar negeri, termasuk ke Rusia, disebutnya dapat menjadi momentum untuk membuka kembali peluang kerja sama strategis dalam proyek tersebut.
Menurut Ratna, kehadiran jajaran penting dalam kunjungan tersebut, termasuk dari pihak Pertamina, menjadi sinyal positif. Hal ini dinilai dapat dimanfaatkan untuk membahas keberlanjutan proyek kilang yang selama ini berjalan di tempat.
“Ini bisa menjadi secercah harapan agar proyek Kilang Tuban kembali mendapatkan kejelasan,” kata Ratna Juwita Sari kepada Suarabanyuurip.com, Sabtu (18/4/2026).
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dari Daerah Pemilihan (Dapil) Bojonegoro dan Tuban ini menyatakan, hingga saat ini status proyek masih belum pasti. Ia menyebut kondisi itu membuat masyarakat dan berbagai pihak menunggu kepastian dari pemerintah.

Kendati, Ratna, tetap mengajak semua pihak untuk terus berharap dan mendukung agar proyek Kilang Tuban bisa kembali berjalan, mengingat dampaknya besar bagi perekonomian daerah maupun nasional.
”Saya tetap optimistis bahwa peluang untuk melanjutkan proyek strategis nasional ini masih terbuka, selama ada komitmen kuat dari pemerintah dan mitra kerja sama,” tegas perempuan cantik ini.
Sementara itu, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, telah menyampaikan keterangan pers terkait kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia dan Prancis melalui akun Instagram resmi @sekretariat.kabinet, diunggah pada Rabu (15/4/2026).
Prabowo melakukan pertemuan dengan Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, setibanya di Moskow, pada Senin (13/4/2026) siang hari waktu setempat. Pertemuan yang berlangsung di Istana Kremlin tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama strategis kedua negara di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Teddy menjelaskan, bahwa pertemuan kedua pemimpin berlangsung selama lima jam. Diawali dua jam pertemuan bilateral, dilanjutkan dengan tiga jam pertemuan empat mata antara kedua pemimpin.
Meski tidak secara rinci disebutkan tentang proyek Kilang Tuban, tetapi pada pertemuan tersebut, kata Teddy, kedua negara menyepakati sejumlah poin penting kerja sama strategis, khususnya di sektor energi dan sumber daya mineral yang menjadi prioritas jangka panjang kedua negara.
Selain sektor energi, Teddy, menuturkan pula bahwa kedua negara juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan dan memperluas kerja sama di berbagai bidang lainnya yang dinilai memiliki dampak langsung terhadap pembangunan nasional.
“Keberlanjutan beberapa kerja sama di bidang pendidikan riset teknologi, bidang pertanian, dan bidang investasi di berbagai sektor terutama pembangunan industri di Indonesia,” tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, seperti yang disampaikan di istana bahwa atas arahan Presiden, diminta untuk menindaklanjuti pertemuan dari dua pemimpin tersebut.
”Dalam pertemuan saya dengan Menteri Energi dan Pemerintahan Rusia itu telah disepakati bahwa kita akan mendapat support dari Rusia,” ujar Bahlil kapada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026).
Bahlil menjelaskan, konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari atau setara 39-40 juta kiloliter (KL) per tahun. Adapun produksi minyak domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari, sehingga Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel per hari.
Untuk menekan impor, pemerintah mengandalkan peningkatan kapasitas kilang melalui proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan serta implementasi mandatori biodiesel 50 persen (B50) mulai Juli 2026.
“Sekarang Bensin itu kita impor, totalnya konsumsi kita kan hampir 39-40 juta kiloleter (KL). Dari situ produksi dalam negeri kita sebelum ada RDMP Balikpapan itu kan 14,3 juta KL. Penambahan RDMP Balikpapan itu kan 5,6-5,7 juta KL, jadi hampir 20 juta kiloliter, berarti impor kita tinggal 50 persen,” ungkapnya.
Terkait rencana investasi Rusia, pemerintah masih mematangkan skema kerja sama yang akan dilakukan melalui mekanisme antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarpelaku usaha (business to business/B2B).
“Itu salah satu poin yang kemarin kita bicarakan, bahwa memang ada beberapa investasi mereka yang sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan,” ujarnya.
Bahlil menambahkan, rencana proyek tersebut berbeda dengan pengembangan Kilang Tuban yang merupakan kerja sama PT Pertamina dengan perusahaan Rusia, Rosneft Oil Company. Skala proyek yang dijajaki saat ini tidak sebesar Kilang Tuban.(fin)




