SuaraBanyuurip.com – Sektor pertanian Bojonegoro, Jawa Timur, mengalami tantangan serius pada jumlah sumber daya manusia (SDM). Jumlah petani di kabupaten penghasil migas terbesar di Indonesia ini, mengalami penurunan sebanyak 32.533 petani dalam jangka waktu sepuluh tahun, atau rata-rata terdapat penurunan jumlah petani sebanyak 3.200 ribu lebih petani per tahun.
Minimnya regenerasi petani disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranya faktor ekonomi. Milenial mengganggap pendapatan sektor pertanian rendah, tidak stabil, dan lebih banyak dinikmati perantara/tengkulak.
Kedua, persepsi dan citra. Pertanian selama ini dianggap kotor, tradisional, melelahkan, dan tidak bergengsi dibandingkan pekerjaan lain di kota-kota besar. Ketiga, penyempitan lahan pertanian dan akses modal yang sulit.
“Kalau jadi petani penghasilannya nggak pasti. Lebih baik kerja di proyek, sudah pasti tiap minggu gajian,” ujar Syarifudin, warga Brabowan, Kecamatan Gayam yang memilih merantau keluar daerah usai lulus kuliah.
Berdasarkan data di Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, jumlah petani di Kabupaten Bojonegoro pada 2013 sebanyak 366.484 orang, di 2023 turun menjadi 333.951 orang.
Jumlah petani Bojonegoro diperkirakan akan terus menurun, karena hingga tahun 2026 mayoritas petani berada pada kategori usia di atas 60 tahun.
“Untuk itu kita terus dorong penggunaan teknologi modern seperti alat transplanter agar produktivitas meningkat dan tenaga kerja di sawah lebih efisien,” tegas Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah saat menghadiri Gebyar Petroganik, Selasa (28/04/2026), di Gedung Serbaguna Baresta, Jl. Monginsidi.
Selain menerapkan teknologi modern, DKPP Bojonegoro juga mendorong regenerasi petani. Diantaranya pogram Sapa Siswa EduFarm di sekolah, pemberian bantuan bibit sayuran untuk siswa, fasilitasi akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani milenial, serta kerja sama dengan Perhutani untuk pemanfaatan hutan oleh kelompok tani muda.
Pada 2025, telah terbentuk 10 kelompok tani (poktan) milenial dengan jumlah anggota aktif 221 orang yang bergerak di berbagai sektor pertanian. Diantaranya menanam aneka buah dan sayuran yang bisa dikerjakan dari rumah, dan tidak membutuhkan lahan luas.
Ke 10 poktan milenial itu meliputi poktan milenial Agro Muda di Kecamatan Kedewan beranggotakan 21 orang; poktan milenial Gunung Lawang Bersatu Kecamatan Gondang beranggotakan 25 orang; poktan milenial Jagad Djoyo Tani beranggotakan 26 orang; dan poktan milenial Mandiri Jaya di Kecamatan Kapas beranggotakan 25 orang.
Selanjutnya, poktan milenial Tunas Muda di Kecamatan Balen beranggotakan 20 orang; poktan milenial Putra Sinare Kecamatan Malo beranggotakan 25 orang; poktan milenial Darah Muda Kalitidu Kecamatan Kalitidu beranggotakan 27 orang; poktan milenial Sukosewu Smart Kecamatan Sukosewu; poktan milenial Alat Tuwo Kecamatan Bubulan beranggotakan 27 orang; dan poktan milenial Qoryah Thayyibah di Kecamatan Ngasem beranggotakan 25 orang.
Kepala DKPP Bojonegoro, Zaenal Fanani menjelaskan, upaya tersebut untuk mengubah cara pandang generasi muda dan menumbuhkan minat terhadap dunia pertanian.
“Sehingga kedepannya bertani bukan menjadi pilihan terakhir, melainkan menjadi pilihan pertama,” tegas Zaenal.(red)



