Ahli Pertanian Unigoro Sarankan Petani Pilih Padi Umur Pendek

Ahli Pertanian Unigoro, Ir. Darsan, M.Agr.,
Ahli Pertanian Unigoro, Ir. Darsan, M.Agr.

SuaraBanyuurip.com – Bupati Bojonegoro Setyo Wahono mengeluarkan surat edaran (SE) bernomor 520/531/412.221/2026, tentang antisipasi dan mitigasi musim kemarau 2026 bagi sektor pertanian di wilayahnya. Dekan Fakultas Pertanian Universitas Bojonegoro (Unigoro), Ir. Darsan, M.Agr., menilai, petani-petani di Kabupaten Bojonegoro sejatinya telah mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi cuaca. Namun, dinas terkait juga tetap harus aktif turun ke lapangan melakukan sosialisasi untuk meminimalisir risiko gagal panen.

“Terutama bagi petani padi dengan sistem sawah tadah hujan dan pengairan dari bendungan. Solusinya pilih tanaman padi berumur pendek 80 hari sudah bisa dipanen. Atau ganti menanam komoditas pertanian lainnya,” ucapnya, Kamis (16/4/26).

Sebagai daerah penghasil produksi pertanian terbesar ketiga di Jawa Timur, tanaman padi masih menjadi komoditas utama. Sehingga Pemkab Bojonegoro berupaya menjaga produksi padi. Di sisi lain, tembakau sebagai komoditas andalan Kota Minyak justru dapat dimaksimalkan produksinya kala musim kemarau tiba.

“Produksi tembakau justru harus all out. Idealnya, tembakau ditanam mulai bulan Mei hingga Juni. Sehingga petani bisa memetik atau memanen tembakau pertamanya di musim kemarau. Dengan kualitas dan harga jual yang bagus,” terang Darsan.

Baca Juga :   Siswa SMKN 1 Singgahan Terima Beasiswa Kuliah di Luar Negeri

Penggunaan air secara bijak dan efisien juga harus diperhatikan oleh petani. Khususnya yang menggunakan sistem pengairan dari bendungan. Menurut Darsan, debit air di waduk maupun bendungan seiring waktu akan terus menurun saat musim kemarau.

Solusinya, petani harus dikenalkan dengan sistem irigasi tetes untuk komoditas tertentu. Air langsung dialirkan ke zona akar tanaman secara perlahan melalui jaringan pipa dan emitter. Sistem tersebut cocok diaplikasikan di lahan kering.

“Jadi ada alat berbasis IoT atau Internet of Thing, untuk mengontrol aliran air. Sistem pertanian modern dan hidroponik sudah menggunakan metode irigasi tetes,” pungkasnya.

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono telah mengeluarkan Surat Edaran tentang antisipasi dan mitigasi musim kemarau 2026. Kondisi musim kemarau di Provinsi Jatim termasuk Kabupaten Bojonegoro, diperkirakan bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya dengan durasi lebih panjang.

Ada lima hal penting untuk mengantisipasi dan mitigasi musim kemarau 2026 ini. Pertama, pengelolaan air secara efisien melalui optimalisasi pemanfaatan sumber dan jaringan air yang tersedia dengan menerapkan irigasi hemat air secara bergiliran berdasarkan rekokendasi dan arahan dari petugas teknis Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air dan penyuluh pertanian di masing-masing wilayah.

Baca Juga :   Bojonegoro Akan Memasuki Musim Kemarau Lebih Awal

Kedua, penyesuaian pola dan waktu tanam melalui penyesuaian kalender jadwal dengan kondisi keteraediaan air. Ketiga, perlindungan tanaman dengan meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan secara terpadu dan ramah lingkungan.

Keempat, penguatan kelembagaan dan gotong-royong melalui sinergi antar kelompok tani/gapoktan, gabungan Hippa dan petugas.

“Saya juga meminta peran pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan ditingkatkan, melalji koordinasi terkait distribusi air secara adil, memfasilitasi kebutuhan sarana prasara pertanian sesuai kewenangannya,” tegas Bupati Wahono dalam surat edarannya.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait