Ponpes Irsyaduth Tholabah akan Gelar Sarasehan Membedah Sejarah dan Masa Depan Padangan

Sejarah Padangan.
FOTO ILUSTRASI: Sebuah Bangunan Tua di Padangan yang disebut dengan Padangan heritage.(Foto: Syafik/damarinfo.com)

SuaraBanyuurip.com – Pondok Pesantren (Ponpes) Irsyaduth Tholabah II atau Pesantren IT Desa Kuncen, Kecamatan Padangan Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, akan menggelar sarasehan sejarah dan budaya Padangan bertema “Pager Negoro: Merawat Warisan, Menyongsong Masa Depan” Jumat (15/5/2026) malam. Kegiatan ini akan menghadirkan peneliti independen sejarah lokal Bojonegoro dan Yogyakarta. Mereka akan memaparkan temuan akademik baru berkaitan langsung dengan sejarah Padangan dan belum pernah dipertemukan dalam satu forum.

Ada lima narasumber kompeten yang akan dihadirkan di sarasehan sejarah dan budaya Padangan. Mereka akan memaparkan hasil risetnya untuk saling melengkapi, menggambarkan Padangan dari tiga sudut pandang: temuan akademik lokal, perspektif lintas wilayah, dan kebijakan pemerintah.

Kelima narasumber adalah A. Wahyu
Rizkiawan, peneliti manuskrip
Padangan & Budayawan Bojonegoro. Peneliti pejejak ulama dan lapisan sejarah yang belum terpublikasi secara luas terutama di Bojonegoro.

Rizkiawan juga salah satu peneliti yang fokus pada kajian peradaban Islam Padangan dari abad ke-16 hingga ke-19 berdasar hasil riset temuan manuskrip dan bukti primer lainnya. Serta penulis beberapa buku: Tarikh Padangan dan Peradaban Nggawan.

Narasumber lainnya adalah Triyoga Wahyu Riyanto, akademisi dan peneliti dari Yogyakarta. Triyoga juga seorang Perupa, pegiat sejarah mandiri, praktisi ekologi budaya dan memori perang jawa. Triyoga adalah peneliti yang mendedikasikan diri pada riset mandiri Perang Jawa (1825–1830), sejak tahun 2010 hingga 2026. Hingga mengaktualisasikan sejarah melalui kolaborasi seni dan ekologi, termasuk pelestarian vegetasi “kode sandi” Laskar Diponegoro.

Narasumber ketiga adalah Rendra Bagus
Pamungkas. Peneliti Independen Perang
Jawa & Konservatorium Islam Jawa. Ia juga seorang aktor karakter dan pengarsip budaya. Mengelola forum Konservatorium Islam Jawa yang berfokus pada pendidikan terapan dan pengarsipan produk budaya pasca Perang Jawa. Rendra dikenal melalui peran-peran kuat dalam film bertema sejarah dan budaya yakni Tjokroaminoto.

Baca Juga :   PHK Sepihak Jurnalis Akurat.co Berlanjut ke Meja Hijau

Narasumber keempat, M. Ali As’ad, seorang peneliti dan perwakilan DinasPariwisata Provinsi DIY. Dia juga seorang praktisi, pendampingan masyarakat desa berbasis seni dan budaya. Juga fasilitator riset yang mengkaji arsitektur tradisional dan kuliner “Wedang Jiwan” sebagai Warisan Budaya Tak Benda.

Sedangkan narasumber dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, akan memaparkan agenda dan rencana strategis Pemkab Bojonegoro dalam pengembangan Padangan sebagai kawasan wisata religi.

Sarasaehan sejarah dan budaya Padangan akan dimoderatori oleh Agus Salim, moderator Podcast “Dewan
Jegrank”.

Ketua Panitia Sarasehan, M. Syaiful Huda menjelaskan, kegiatan ini dilaksanakan karena Padangan miliki lapisan peradaban yang dalam dan panjang. Bukti-bukti sejarah itu kini mulai terungkap satu per satu melalui penelitian ilmiah.

Sejak abad ke-14, Zawiyah Gunung Jali, Padangan telah menjadi pusat dakwah Islam di tanah ini. Abad ke-16 menyaksikan Pesantren Menak Anggrung sebagai episentrum peradaban Islam yang jaringannya terhubung hingga Lasem, Tuban, dan Gresik. Prasasti Canggu bertarikh 1358 M bahkan sudah menyebut nama Padangan sebagai pelabuhan penting Sungai Bengawan di era Majapahit.

“Jadi Ini bukan sekedar legenda melainkan sejarah yang memang tercatat. Padangan adalah kawasan yang pernah menjadi pusat gravitasi peradaban Islam Nusantara,”

Kekayaan tersebut kini mulai memasuki babak baru pengungkapan. Peneliti lokal Padangan telah menemukan dan mendigitalisasi satu peti penuh manuskrip kuno di Pesantren Al Basyiriah Pethak Desa Beged, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro, termasuk 53 kitab karya Syekh Abdurrohman Klothok yang
selama ini tersimpan tanpa diketahui dunia luar. Ini adalah temuan manuskrip yang signifikan secara nasional, bukan hanya lokal.

Baca Juga :   ISNU Bojonegoro Gelar Bedah Buku Tarikh Padangan, Nyalakan Semangat Riset

Di saat yang bersamaan, peneliti dari Yogyakarta menemukan bukti-bukti yang berkaitan langsung dengan Padangan dalam konteks Perang Jawa, temuan yang memperkuat dan melengkapi narasi sejarah kawasan dari sudut pandang yang berbeda dan selama ini belum pernah dipertemukan dengan temuan lokal. Dua penelitian independen, dari dua arah yang berbeda mengarah ke satu kesimpulan yang sama: Padangan adalah kawasan yang jauh lebih penting secara historis dari yang selama ini diakui.

“Untuk itu, kami ingin mempertemukan temuan akademik dari peneliti lokal dan Yogyakarta dengan agenda kebijakan pemerintah dalam satu forum yang terbuka dan setara,” jelas Huda.

Ia berharap kegiatan ini bisa memberikan panggung yang layak bagi para peneliti untuk memaparkan temuan akademik mereka di hadapan pemangku kepentingan yang tepat, sehingga karyanya mendapat
pengakuan yang selama ini belum terwujud sebagai kekayaan intelektual yang bernilai khususnya bagi Padangan dan pada umumnya untuk Bojonegoro.

“Melalui sarasehan ini kami ingin membangun kesepahaman bersama lintas sektor tentang potensi dan arah pengembangan Padangan sebagai kawasan heritage. Juga merumuskan konsep Padangan sebagai Living Museum atau kawasan “Pager Negoro” yang hidup dan berkelanjutan,” pungkas Huda.(red)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait