Basmi Tikus, Bupati Bojonegoro Lepasliarkan 56 Burung Hantu di Area Persawahan Ngradin

Bupati Bojonegoro Setyo Wahono (dua dari kiri) bersama Camat Padangan Masirin dan Pemdes Ngradin saat akan melepaskan burung hantu di areal persawahan desa setempat.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono (dua dari kiri) bersama Camat Padangan Masirin dan Pemdes Ngradin saat akan melepaskan burung hantu di areal persawahan desa setempat.

SuaraBanyuurip.com – Joko Kuncoro

Bojonegoro – Pemerintah Desa Ngradin, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menerapkan cara membasmi tikus dengan predator alami. Sebanyak 28 pasang atau 56 ekor burung hantu dilepasliarkan diareal persawahan untuk mengatasi serangan hewan rakus.

Pelepasan burung hantu dilakukan Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono bersama Camat Padangan Masirin, dan Pemdes Ngradin, Sabtu (12/7/2025) sore kemarin.

Camat Padangan, Masirin mengungkapkan, serangan hama tikus telah meresahkan petani. Selain merusak tanaman, juga menyebabkan produksi pertanian turun sehingga petani merugi.

Pelepasan dan pendirian rumah burung hantu (Rubuha) yang dilakukan ini, lanjut Masirin, sebagai predator alami untuk menekan populasi hama tikus. Petani tidak perlu lagi membuat jebakan listrik yang bisa mengancam keselamatan.

“Ini sebagai solusi agar petani tidak menggunakan jebakan listrik untuk tikus,” katanya kepada suarabanyuurip.com, Minggu (13/7/2025).

Masirin menjelaskan, ada 56 ekor burung hantu atau 28 pasang telah dilepaskan di area persawahan petani. Rinciannya 48 ekor menggunakan anggaran dana desa (DD) dan 8 ekor burung hantu anggarannya dari swadaya masyarakat.

Baca Juga :   Bupati Wahono Buka Popkab dan Paralimpik Pelajar 2025, Harapkan Jiwa Kompetisi Profesional

Sedangkan rubuha yang didirikan di Desa Ngradin sebanyak 38 buah. Rinciannya, 25 rubuha bersumber dari DD, dan 13 rubuha dari swadaya masyarakat.

“Dengan cara ini semoga tanaman pertanian milik petani aman dari ancaman tikus,” tandasnya

Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono mengapresiasi upaya pemerintah desa dan masyarakat Ngradin yang sudah menggunakan burung hantu sebagai predator alami membasmi tikus.

Bupati Wahono menilai cara tersebut bisa mengendalikan populasi tikus secara alami dan ramah lingkungan, karena petani bisa mengurangi penggunaan pestisida yang dapat meninggalkan residu kimia yang menganggu kesuburan tanah.

“Cara ini juga menghindari pemakain jebakan listrik yang bisa membahayakan keselamatan masyarakat,” ujarnya.

Bupati Wahono berharap melalui cara ini produksi pertanian Bojonegoro bisa tetap terjaga dan meningkat, sehingga dapat mewujudkan ketahanan pangan.

“Saya mengimbau untuk desa lainnya menggunakan burung hantu sebagai pembasmi tikus,” pungkasnya..(jk)

»Follow Suarabanyuurip.com di
» Saluran WhatsApp Channel SuaraBanyuurip.com


Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *