DPRD Jatim Dorong Pemda Tingkatkan Sosialisasi Hantavirus

Wakil Ketua DPRD Jatim, Sri Wahyuni.
Wakil Ketua DPRD Jatim, Sri Wahyuni.(suarabanyuurip.com/ist)

SuaraBanyuurip.com — Arifin Jauhari

Bojonegoro — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jawa Timur (Jatim) mendorong pemerintah daerah (pemda) meningkatkan sosialisasi pencegahan hantavirus sebagai langkah antisipasi dini, meski hingga kini belum ditemukan kasus penularan di provinsi paling timur Pulau Jawa.

‎Wakil Ketua DPRD Jatim, Sri Wahyuni, mengemukakan pentingnya kewaspadaan masyarakat melalui penerapan pola hidup bersih dan pengendalian hewan pengerat di lingkungan permukiman.

‎Politisi perempuan dari Partai Demokrat ini menilai, edukasi terkait kebersihan lingkungan perlu diperkuat oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama pemerintah kabupaten/kota, terutama di kawasan padat penduduk, pasar tradisional, hingga saluran air yang berpotensi menjadi habitat tikus.

‎“Pencegahan paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan,” kata Sri Wahyuni kepada Suarabanyuurip.com, Selasa (19/5/2026).

‎Dijelaskan, Hantavirus diketahui merupakan kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penyakit ini termasuk zoonosis, yakni dapat menular dari hewan ke manusia.

‎Belakangan, hantavirus menjadi perhatian global. Di Indonesia sendiri tercatat 23 kasus hantavirus pada manusia sejak 2024 sehingga masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya di lingkungan dengan sanitasi rendah.

‎Mbak Yuni, begitu ia karib disapa, juga meminta fasilitas kesehatan meningkatkan deteksi dini terhadap pasien yang menunjukkan gejala yang mengarah pada hantavirus, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan lingkungan yang rentan terkontaminasi.

‎Legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Bojonegoro dan Tuban itu menilai, koordinasi lintas sektor pun perlu diperkuat agar langkah pencegahan dapat dilakukan lebih maksimal sejak dini.

‎“Kami mendorong adanya langkah preventif secara masif. Edukasi masyarakat dan pengendalian lingkungan harus diperkuat supaya kasus tidak berkembang,” ujar Mbak Yuni.

Baca Juga :   Kementerian PAN-RB Wajibkan Instasi Pemerintah Umumkan Data Non-ASN ke Publik
Edukasi Hanta Virus oleh Dinkes Bojonegoro.
Edukasi Hanta Virus oleh Dinkes Bojonegoro.(ist/kominfo)

‎Terpisah, Dinkes Bojonegoro menyatakan, telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran Hantavirus, penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.

‎Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bojonegoro, dr. Rury Dewi, menjelaskan, bahwa penularan Hantavirus dapat terjadi melalui urine, kotoran, maupun air liur tikus yang bercampur debu lalu terhirup manusia.

‎“Penyakit ini perlu diwaspadai karena penularannya sangat erat dengan kondisi kebersihan lingkungan. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih peduli menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar,” tutur dr. Rury Dewi.

‎Menurutnya, gejala awal Hantavirus umumnya menyerupai flu, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual, hingga muntah. Jika tidak segera ditangani, penyakit tersebut dapat berkembang menjadi lebih serius dan membahayakan kesehatan.

‎Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta menerapkan pola hidup bersih dan sehat, di antaranya menjaga kebersihan lingkungan, menutup makanan dan tempat penampungan air, membuang sampah pada tempatnya, serta menghindari kontak langsung dengan tikus maupun kotorannya.

‎Dinkes juga mengimbau warga menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan ruangan kotor atau tempat yang lama tidak digunakan guna mengurangi risiko paparan debu yang terkontaminasi.

‎“Lingkungan bersih bukan hanya menciptakan kenyamanan, tetapi juga menjadi langkah penting dalam mencegah berbagai penyakit menular, termasuk Hantavirus,” tandasnya.(fin)

Pos terkait