Butuh keahlian manajemen lebih dalam mengelola satuan pendidikan dengan jumlah siswa banyak. Tanpa meminta sumbangan masyarakat SMPN 1 Plumpang melahirkan siswa berkarakter sarat prestasi.
—————————
Keberhasilan pemerintah mengerem angka fertilitas, tak berkorelasi positif terhadap Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMPN 1 Plumpang setiap tahun pelajaran. Satuan pendidikan dasar terbesar, dalam parameter jumlah murid, di wilayah Kabupaten Tuban, Jawa Timur ini tak pernah kekurangan siswa.
Bisa jadi masyarakat memilih sekolah yang berlokasi di Desa Ngrayung, Kecamatan Plumpang, Tuban, Jawa Timur itu lantaran progres prestasinya moncer. Di ranah pendidikan formal prestasi bisa dituai apabila program pembelajaran beserta pernik kegiatan pendukungnya, berjalan sesuai koridor manajerial profesional. Bahkan, di lembaga pendidikan yang beroperasi sejak 20 Mei 1983, prestasi demi prestasi di tingkat lokal (kabupaten), provinsi, dan nasional mengisi almari penghargaan sekolah.
Lembaga pendidikan negeri dengan 30 rombongan belajar (rombel), dengan masing-masing kelas terdiri dari 32 peserta didik itu, merupakan SMP terbesar diantara 52 Unit Pelaksana Teknis (UPT) SMP berstatus negeri di daerah yang dipimpin Bupati Aditya Halindra Faridzky. Rata-rata setiap tahun pelajaran sekitar 960 siswa, menempuh pendidikan di institusi yang tiap SPMB merekrut 320 siswa lulusan SD dan MI.
Dalam SPMB tahun 2026/2027 jalur afirmasi, prestasi, dan mutasi telah berhasil merekrut 128 siswa mengisi empat rombel. Hal itu merupakan kali pertama terjadi dalam seleksi tahap pertama di SMP paling diunggulkan di wilayah Plumpang di jalur tersebut.

Di samping bersaing dalam berebut siswa dengan dua sekolah negeri selevel (SMPN 2 Plumpang di Desa Kesamben, dan SMPN 3 Plumpang di Desa Klotok), SMPN yang kini dipimpin oleh Heri Kustomo itu dikepung tujuh Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang rata-rata berbasis pesantren. Mereka tersebar di tujuh dari 18 desa di wilayah kecamatan setempat.
Secara fisik satuan pembelajaran menengah yang sudah empat dasawarsa lebih berdiri telah menetaskan 8.192 alumni itu tak menonjol. Lokasinya tak jauh dari badan jalan yang menghubungkan Tuban dengan Bojonegoro. Bukan sekolah mewah dengan ruang kelas ber-AC.
Disana fasilitas pembelajaran lengkap terbangun di atas hampar lahan 20.850 m2 berpagar keliling setinggi 2-3 meter. Mulai dari ruang guru dan tenaga kependidikan, kelas, laboratorium (IPA, Bahasa dan Komputer), perpustakaan, BK, UKS, koperasi sekolah, hingga lapangan olahraga (bala volley dan basket) ada. Tak ketinggalan gedung kesenian, dan tempat ibadah (masjid). Tata ruang bagus dengan lingkungannya asri. Hampir setiap depan ruang kelas tampak pepohonan rindang.
“Alhamdulillah, kami dipercaya dan diamanahi masyarakat untuk mendidik anak-anak mereka di sini,” ujar Kepala SMPN 1 Plumpang, Heri Kustomo SPd MPd, saat ditemui di ruang kerjanya.
Guru ke sembilan yang menjabat Kepala SMPN 1 Plumpang sejak tahun 2019 itu sangat mafhum terhadap kondisi tempatnya bertugas. Banyaknya siswa dari desa dari wilayah yang dilintasi Sungai Bengawan Solo tersebut musti dikemas dengan strategi yang tepat. Apalagi orang tua mereka—terdata 20 persen diantaranya dari keluarga miskin—dari berbagai latar belakang social, ekonomi, kultur, hingga keyakinan yang majemuk. Ia sadari karakter mereka harus dibentuk, agar mampu bersaing setelah lulus. Sisi pembentukan moral, etika, dan budi pekerti kepada peserta didik itulah yang menjadi perhatiannya semasa memimpin.
Mantan Kepala SMPN 2 Soko, Tuban ini mangoptimalkan potensi yang dimiliki sekolahnya. Sejak mengampu di SMPN 1 Plumpang ia tak pernah meminta sumbangan dari wali murid. Baginya negara telah hadir di dunia pendidikan, diantaranya, dalam bentuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Heri Kustomo bersama tim pengembang sekolah mampu melakukannya.
“Saya amati selama enam atau tujuh tahun terakhir, sekolahan ini tak meminta sumbangan dari wali murid,” ungkap Ahmad Syahroni, tokoh masyarakat Plumpang. “Akan tetapi para guru di sekolah itu berhasil melahirkan banyak siswa berprestasi,” tambah sosok riligius itu.
Sedangkan bagi Heri Kustomo, melalui strategi pengelolaan anggaran yang tepat dana BOS dari APBN, dengan hitungan Rp1.100.000 per siswa SMP setiap tahun, cukup untuk menggulawentah murid di lembaga pendidikan yang diasuh 43 guru dan tenaga kependidikan (tendik) dengan status 27 PNS dan 16 PPPK tersebut.
Kalau ada permintaan kepada orang tua siswa, menurut Wakil Kepala (Waka) Bidang Kesiswaan SMPN 1 Plumpang, Alma’i Tohiron, adalah dalam bentuk pembelian seragam sekolah dan kaos olahraga. Pakaian seragam bukan inventaris sekolah sehingga tak bisa dibiayai dana BOS.
Keterbukaan, Kedisiplinan, dan Sikap Humanis

Tim pengembang pendidikan SMPN 1 Plumpang sangat memahami, bahwa hasil dari program pendidikan tak instan. Di sekolah dengan 10 jenis ekstrakurikuler ini, diantaranya bola voli, atletik, karawitan, seni tari, pramuka, hadrah, dan catur, berbagai program berbasis nilai pendidikan karakter benar-benar diterapkan. Di situlah tuntutan inovasi mengedepan di setiap program pembelajarannya.
Heri Kustomo memahami banyaknya peserta didik tak menjadikan pembelajaran mudah. Pembelajaran pun tak sekadar kegiatan belajar mengajar di ruang kelas. Penciptaan lingkungan yang baik, bisa berdampak positif terhadap perkembangan siswa. Atmosfir lingkungan sekolah ditata sedemikian rupa agar siswa nyaman di sekolah.
Seperti yang terlihat pada siang itu, tampak di sejumlah titik di bawah pohon rindang sejumlah siswa meriaung sambil memegang buku. Mereka berdiskusi kelompok, atau sekadar mengerjakan tugas kelompok dari guru. Di sudut lain, tampak bergerombol siswa memegang smartphone di tepian lapangan basket.
“Untuk fasilitas pembelajaran yang membutuhkan jaringan internet, kita pasang lima titik router di lingkungan sekolah,” kata Alma’i Tohiron. “Setiap router memiliki kapasitas 50 Mega Byte (MB), selama ini cukup kuat untuk keperluan siswa,” tambah guru bidang studi Olahraga yang akrab disapa Pak Iron.
Tak ubahnya menerapkan Trilogi Pendidikan dari Ki Hajar Dewantoro, guru dan tendik disana begitu disiplin dengan waktu. Mengesankan layak menjadi suri tauladan bagi siswa. Mereka hadir tepat waktu sebelum jam pelajaran dimulai. Sekalipun diantaranya, sebanyak 28 orang, berdomisili di luar wilayah Kecamatan Plumpang, bahkan dua lainnya bermukim di luar Kabupaten Tuban, namun mereka sangat paham nilai kedisiplinan bagi pendidikan karakter anak didiknya. Dengan pola dan style kepemimpinannya, Mas Guru Heri, begitu Heri Kustomo akrab disapa, sanggup memobilisir human resources yang terbatas di sekolah berjarak 19,7 Km dari pusat kota Tuban itu secara tepat.
“Kami ingin alumni dari sekolah ini memiliki budi pekerti luhur, disiplin, jujur, toleransi, dan bermoralitas religius karena mereka akan bersaing dengan lulusan sekolah lain,” kata Heri Kustomo.
Wajar bila keinginan itu muncul, apalagi di tahun pelajaran 2025/2026 ini sebanyak 949 siswa SMPN 1 Plumpang merupakan bagian dari 32.223 siswa SMP negeri dan swasta di wilayah Bumi Ranggalawe. Mereka setiap awal tahun pelajaran bakal bersaing di bursa SPMB sekolah favorit SMA dan SMK. Disitulah pentingnya capaian prestasi bidang akademik maupun non akademik, dan tim pengembang SMPN 1 Plumpang sangat memahami situasi tersebut.
Kegiatan ekstrakurikuler digarap serius lantaran bidang ini sangat membantu siswa dalam meniti perkembangan pribadinya. Ekstrakurikuler memberikan dampak positif. Melalui kegiatan ekstrakurikuler, siswa dapat mengembangkan bakat, minat, kemampuan bekerja sama, kedisiplinan, tanggung jawab, dan rasa percaya diri.
Selain mendukung prestasi nonakademik, menurut Heri Kustomo, kegiatan ekstrakurikuler juga membantu membentuk karakter siswa sehingga berdampak positif terhadap prestasi akademik, dan keberhasilan dalam berbagai perlombaan. Prestasi yang diraih murid sangat membantu, dan memudahkan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik melalui jalur prestasi, maupun sebagai nilai tambah dalam proses SPMB.
Pola komunikasi dengan lingkungan sekitar yang dibangun sekolah ini juga hidup. Warga sekitar merasa menjadi bagian dari kosmos sekolah. Hal itu tampak ketika ada siswa melompat tembok (pagar) sekolah akan terdeteksi, karena tetangga yang mengetahui segera memotret atau merekam dengan video kenakalan anak-anak tersebut.
“Kalau ada siswa yang melompat pagar, kami diberi informasi oleh tetangga sekitar,” ujar Pak Iron. Baginya kenakalan yang sesekali muncul seperti itu masih terbilang wajar. Lebih dari itu, seperti bullying atau perkelahian justru jarang terjadi, karena energy anak-anak terserap pada kegiatan ekstrakurikuler maupun kegiatan pembelajaran lain.
Jika terjadi permasalahan yang melibatkan siswa, tim sekolah selalu musyawarah dengan melibatkan Komite Sekolah, orang tua siswa, guru Bimbingan Konseling (BK), dan wali kelas. Itu bagian dari sistem keterbukaan yang demokratis, karena disadari bahwa tanggung jawab pendidikan anak bukan hanya pada lembaga sekolah.
“Kami memiliki cara tersendiri yang humanis dalam menangani permasalahan siswa, saat ini lingkungan sekolah kita sudah bagus dirasakan anak-anak maupun orang tuanya,” kata Pak Iron. “Kebersamaan sekolah dan orang tua siswa dalam mendampingi anak itulah yang turut menentukan keberhasilan di sekolah ini,” tambah guru muda ramah itu sambil tersenyum.
Sedangkan pentingnya pendidikan karakter, tambah Heri Kuswanto, tidak lepas dari peran sekolah dalam menyeimbangkan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan emosional dan spiritual. Disitulah pentingnya kerjasama antara sekolah dengan orang tua siswa, dalam sisi pengawasan dan pendampingan terhadap anak.
Pola yang dibesut tim sekolah yang dikomando Heri Kustomo boleh dikata membawa hasil. Setidaknya dalam lima tahun terakhir lebih dari 95 persen lulusannya melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Baik itu di SMA, SMK, atau Madrasah Aliyah (MA).

Mengelola sekolah dengan jumlah siswa gemuk memang tak mudah. Kendala yang sering muncul dari sisi siswa, lebih pada perbedaan kemampuan belajar, dan motivasi belajar yang belum merata. Di lain sisi terdapat pula tuntutan untuk guru agar terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Tentunya juga termasuk keterbatasan sarana dan prasarana tertentu yang perlu ditingkatkan.
“Kami (tim sekolah-Red) selalu berupaya mencari solusi melalui peningkatan kompetensi guru, pendampingan siswa, dan pengembangan fasilitas pembelajaran,” kata guru yang pertama diangkat sebagai PNS di SMPN 1 Tuban tersebut.
Pada bagian lain ada support dan peran Komite Sekolah dalam proses pembelajaran. Komite memberikan dukungan penuh dalam bentuk pemberian masukan terhadap program sekolah. Komite pula yang menjembatani komunikasi antara sekolah dan orang tua, mendukung pelaksanaan kegiatan sekolah, serta berperan dalam pengawasan dan peningkatan mutu layanan pendidikan.
Heri Kustomo berharap, UPT SMPN 1 Plumpang terus berkembang menjadi sekolah yang unggul dalam prestasi akademik dan nonakademik, berkarakter, berwawasan lingkungan, dan mampu menghasilkan lulusan yang berakhlak mulia, berprestasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan.
“Kami berharap dukungan dari seluruh warga sekolah, orang tua, komite, pemerintah, dan masyarakat dapat terus terjalin demi kemajuan sekolah,” demikian pungkas Heri Kustomo. (tbu)





