SuaraBanyuurip.com – Sekitar 221 walimurid dan guru TK Muslimat NU 04 Bangilan Tuban, Jawa Timur mengikuti parenting bertema “Kiat Sukses Mendidik Anak Gen Alpha:Sinergi Antar Sekolah, Orang Tua dan Anak”. Kegiatan ini untuk menjawab tantangan mendidik anak generasi alpha.
Generasi alpha adalah anak yang lahir mulai 2010, tumbuh bersama teknologi sejak dini. Tantangan mendidik mereka berbeda dengan generasi sebelumnya. Sinergi antara sekolah, orang tua, dan anak jadi kunci utama.
Parenting berlangsung di halaman TK Muslimat NU 04. Menghadirkan narasumber Dr Farida Isroani, S.PdI, M.Pd, seorang dosen, praktisi, peneliti, penulis buku dan pemerhati anak, gender dan inklusi.
Pengurus dan penasehat TK Muslimat NU 04 Bangilan, Fatimatun Zahroh, S.Pd mengucapkan terimakasih atas kehadiran para walimurid dalam bersinergi mendukung suksesnya persamaan visi antar sekolah dan orangtua.
“Tanpa adanya sinergi, komunikasi dan kolaborasi maka akan sulit mendidik anak-anak. Dengan adanya parenting ini semoga menjadi sarana komunikasi yang baik antar pihak demi hasil yang baik untuk anak-anak,” ujarnya.
Kepala sekolah TK Muslimat NU 04 Bangilan, Mamik Ismiyati, S.Pd menambahkan, kegiatan parenting dirasa penting karena bentuk kolaborasi antar sekolah, anak dan orangtua sebagai salah satu upaya kiat sukses mendidik karakter anak.

Para peserta antusias mengikuti kegiatan. Narasumber Farida Isroani menekankan empat poin penting dalam mendidik anak generasi alpha. Pertama, perlunya sekolah adaptif dan kolaboratif. Sekolah harus bertransformasi.
“Taksonomi Bloom menjelaskan bahwa ada tiga ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Jadi setiap anak punya kelebihan dan keistimewaan yang berbeda. Gen Alpha butuh ruang belajar yang fleksibel, berbasis proyek, dan melek digital. Tapi teknologi saja tidak cukup. Guru dan orang tua duduk bersama tiap sekian bulan sekali untuk bahas perkembangan anak, bukan cuma nilai rapor. Program ini bertujuan untuk mengetahui metode belajar, kendala, dan kondisi anak selama di sekolah,” jelasnya.
Kedua, peran orang tua. Menurut Farida, teladan digital bukan pelarang. Namun, pada umumnya orang tua Gen Alpha melarang gadget total atau malah lepas kontrol.
“Kuncinya adalah jadi teladan. Kalau orang tua mau anak tidak main HP saat makan, kita juga harus begitu. Buat aturan screen time bersama anak, bukan untuk anak. Praktekkan teknik “20-20-2”: tiap 20 menit menatap layar, istirahat 20 detik melihat benda 2 meter jauhnya, dan 2 jam aktivitas fisik tanpa gadget per hari,” lanjut Farida
Ketiga, anak harus dilibatkan ambil keputusan. Sebab, Gen Alpha dikenal kritis dan cepat bosan, karena itu, mereka perlu dilibatkan.
“Anak akan semakin menolak jika dipaksa melakukan kegiatan yang tidak diminati, sebagai orang tua sebaiknya mengenali minat dan bakat anak sejak dini. Dampingi dan arahkan anak anak berkegiatan positif,’ saran Farida.
Keempat, terapkan metode pola asuh 7×3. Artinya, Luangkan waktu 7 kebiasaan Anak Hebat 7 menit setelah tidur, 7 menit setelah bekerja atau berkegiatan, 7 menit sebelum tidur.
Kegiatan berlangsung interaktif. Salah satu walimurid, Ikmal kelompok A menanyakan tentang bagaimana cara mendidik anak.
“Jika orangtua lembut maka anak malah ngelunjak, jadi harus ditegasi kadang sampai harus marah. Jadi kadang pola asuhnya masih seperti jaman dulu. Maka solusinya bagaimana?” ujarnya.
Menjawab pertanyaan tersebut, Farida menegaskan, sinergi tiga pihak sebenarnya menutup celah pola asuh yang timpang. Sekolah jadi fasilitator, orang tua jadi teladan, dan anak jadi subjek aktif, bukan objek didik.
“Kita tidak bisa mendidik Gen Alpha dengan cara lama. Semakin anak dikeras biasanya akan semakin tantrum. Maybe, Kolaborasi dan sinergi antar guru, orangtua dan anak solusinya,” paparnya.(red)





