SuaraBanyuurip.com – Forum Jurnalis Televisi Bojonegoro (FJTB) menyayangkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut wartawan sebagai “londo ireng”. FJTB mendesak Prabowo untuk segera menarik ucapannya dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada insan pers.
Pernyataan Prabowo tersebut disampaikan dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Jumat (23/7/2026) kemarin.
Ketua FJTB Bambang Yulianto, mengatakan penggunaan istilah “londo ireng” oleh Presiden Prabowo berpotensi mendiskreditkan profesi jurnalis sebagai kelompok yang menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah.
Jurnalis Metro TV yang akrab disapa Eeng ini menilai metafora yang digunakan Presiden Prabowo tidak tepat, karena dapat dimaknai sebagai tuduhan bahwa wartawan lebih membela kepentingan asing daripada kepentingan bangsa.
“Sebaiknya Presiden Prabowo melakukan introspeksi, bukan justru sibuk mencari kambing hitam,” tegas Eeng, Sabtu (25/7).
Ia menegaskan jurnalis bekerja berdasarkan fakta dan kepentingan publik, bukan untuk kepentingan pihak tertentu. Karena itu, pemberitaan yang mengungkap berbagai persoalan yang ada sekarang ini, termasuk sejumlah program andalan pemerintah seharusnya dipandang sebagai bentuk kritik yang konstruktif.
“Daripada menyerang pembawa berita, presiden lebih baik memperbaiki fakta yang buruk, misalnya dengan memperbaiki tata kelola MBG, KDMP dan seterusnya,” ujarnya.
Eeng juga menilai penyematan istilah “londo ireng” kepada wartawan merupakan tuduhan yang tidak berdasar. Menurutnya, kritik yang disampaikan media merupakan bagian dari fungsi pers dalam mengawasi jalannya pemerintahan.
Ia bahkan menyamakan pernyataan Presiden Prabowo dengan komentar bernada merendahkan terhadap wartawan yang pernah dilontarkan pengacara Hotman Paris Hutapea. Karena itu, Eeng meminta Presiden segera menarik ucapannya dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada insan pers.
“Apa yang salah jika wartawan meletakkan potret kebobrokan program pemerintah di halaman pertama media tempatnya bekerja? Itulah fungsinya pers sebagai kontrol sosial,” tandas Eeng.
Menurut Eeng, wartawan memiliki peran penting dalam perjalanan bangsa, termasuk menyebarluaskan informasi pada masa perjuangan kemerdekaan hingga menyampaikan berbagai program pemerintah kepada masyarakat saat ini.
“Sejarah kemerdekaan bangsa ini juga disebarluaskan oleh wartawan. Begitu pula berbagai program pemerintah yang baik dapat diketahui masyarakat melalui karya jurnalistik,” katanya.
Sebelumnya, saat berpidato pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 PKB di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7), Presiden Prabowo Subianto menyebut masih ada “londo ireng” pada masa kini. Istilah itu digunakan untuk menggambarkan pihak-pihak yang dinilai lebih mengabdi kepada kepentingan asing daripada bangsa sendiri.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng yang ikut Belanda perang melawan kita,” ujar Prabowo.
Dalam pidato yang sama, Prabowo menyebut kelompok tersebut kini terdiri dari berbagai kalangan, termasuk wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Presiden juga mengkritik sebagian media yang dinilainya lebih banyak menyoroti kekurangan pemerintah, seperti memberitakan sekolah yang belum diperbaiki, dibandingkan pembangunan puluhan ribu sekolah yang telah dilakukan pemerintah.
Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam tanggapan, termasuk dari kalangan jurnalis yang menilai kritik dan pemberitaan merupakan bagian dari fungsi pers dalam menjalankan kontrol sosial di negara demokrasi.(red)





